Chapter 7.

2.6K 272 72
                                        

Hore aku jadian sama Irene, tapi maaf ya gak bakal ada acara traktir mentraktir. Cukup bersyukur sama Tuhan kalau akhirnya kita dipersatukan dalam hubungan cinta.
Papa, Mama dan Tiffanyy jelas kaget dengan berita ini terlebih setelah mendengar Irene bisa bicara. Bangga deh sama cewe cantikku itu, temen-temenku aja pada ngiri apalagi kalian, heung...gak usah ngimpi!

Hari ini tepat seminggu kita jadian, tapi kita sengaja belum kasih tahu hubungan ini sama Om Dirjo. Aku si gak mau buru-buru juga, bukan takut si tapi lebih kepada belum siap. Beda tipis sebenernya, wkwkwk... Masalahnya aku yang baru berumur 25 tahun ini belum jadi cowo mapan dan masih butuh waktu untuk meraih mimpi. Mimpi untuk memiliki rumah sendiri dan pekerjaan yang benar-benar bisa diharapkan untuk masa depan.

Cewe yang aku pacarin ini kan selain cantik, dia itu anak orang kaya, kehidupannya terbiasa  berkecukupan, mewah dan apa kabar hubungan kita kalau nantinya aku gak bisa membahagiakan dia. Itu yang harus aku pikirkan mulai sekarang. Malu bangetlah kalau sampai dikatain modal tampang doang.

Enggak, selain modal tampang aku juga bermodal hati yang setia, sumpah. Aku gak mudah jatuh cinta dan aku orang yang berpegah teguh dengan prinsip. Apa yang aku mau harus aku dapat dan apa yang telah menjadi milikku harus aku jaga. Terserah kalian mau bilang apa, tapi aku akan berusaha mati-matian untuk bisa menjadi cowo yang setia buat Irene.

Seperti sore hari yang lumayan mendung ini, aku datang ke toko kue milik Irene. Hampir setiap hari aktifitas itu yang rutinitas kujalani sepulang dari kantor. Selain untuk mengajak dia kencan, sekalian aku bisa belajar bisnis, tahu bagaimana cara membuat kue dan memasarkannya. Irene juga bukan type cewe yang pelit ilmu, dia bahkan dengan gamblang memberitahu soal resep rahasia kuenya itu. Bangga lah udah bisa dipercaya sama dia, sesekali juga aku bantuin dia merekap laporan bulanan. Pokoknya kita itu jadi satu team yang kompak.

"Kamu mau ngajak aku kemana Mas?" Irene berberes meja kerjanya setelah melihat aku masuk ke dalam ruangan. "Gak capek kamu setiap pulang kerja kesini? Lihat tuh mukanya udah lesu."

"Apa sih yang enggak buat kamu," tetep ya, gombalan adalah satu senjata kuatku untuk bisa menarik perhatian Irene. "Lesuh karena belum dapet pelukan dari kamyuh."

"Hmm..dasar..," Irene berjalan mendekat terus dia meluk aku, seneng katanya deket-deket aku yang bau bayi. "Maunya dimanjain terus ya..."

"Ya kalau mau si dienakin, tapi kan...,"  kalau dilanjut bisa-bisa Irene marah nih dan aku milih untuk melepas pelukan dia sambil cengengesan. "Cium dikit disini donk," jariku nunjuk ke bibir.  Tapi bukannya dicium, bibirku malah dipelintir sama Irene sakit banget.

"Tau rasa tuh, tengil banget si jadi cowo," Irene manyun dan segera ambil tas jinjingnya. "Aku pengen makan nasi goreng, tapi kamu yang masak Mas."

"Aku?" kaget si ditodong suruh masak gitu. "Berarti ke rumahku ni?"

"Hu'um, mau kasih kue juga buat Mba Teppi sama Tante."

Masak ya???😵

Sampai di rumah, Mama sama Tiffany malah gak ada. Dan waktu kutelpon, mereka taunya lagi ngemall diajak salah satu temen Mama sementara Papa udah dua hari ini dinas di luar kota. Lumayan bisa berduaan nih.

"Ke kamar dulu aku mau ganti baju," kutarik tangan Irene naik ke lantai atas. Sayangnya semenjak kita pacaran, Irene justru ngerasa canggung kalau kita lagi berdua apalagi ada di dalam kamar.

"Aku tunggu di bawah aja deh, Mas Sehun mandi aja dulu," dia nolak waktu aku udah masuk kamar selagi dia masih berdiri di depan pintu.

"Ngapain bengong di bawah sendirian? Temenin sini aja, bentar doank koq."

"Enggak Mas, aku di luar aja."

"Bentar sayaaaang..."

"Mas Sehun ih suka maksa deh."

Diam Tanpa Kata (Hunrene)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang