"Cinta sejati tidak terucap dari bibir, tetapi terpancar dalam mata, dan aku melihatnya."
**
Saat Lia berhasil menaiki anak tangga paling akhir dan berhasil membuka pintu menuju rooftop sekolah saat itu juga dirinya melihat sosok yang tak asing.Perlahan Lia melangkahkan kakinya mendekati seseorang yang tengah berbaring menghadap langit yang mendung dengan mata terpejam.
Tak sadar dirinya mulai memperhatikan garis wajah Vian. Garis wajahnya menunjukan bahwa Vian tak baik hari ini.
Lia berjongkok, dengan ragu dia mulai menggerakan tangannya perlahan untuk membangunkannya, namun dengan cepat ia tarik kembali tangannya.
Dilihat lagi wajahnya, napasnya begitu tenang namun tetap saja garis wajahnya tak bersahabat.
Dilirik arloji ditangannya yang menunjukan bahwa hari sudah sangat sore. Namun, sekali lagi Lia tak berani membangunkannya.
**
Perlahan matanya mulai mengerjap ngerjap, kemudian ia menggisik matanya agar matanya dapat tersadar kembali." Lama banget lo tidur."
Sadar bahwa Lia tidur bukan pada tempatnya dan sadar adanya suara seorang lelaki, dengan cepat Lia bangun dan duduk.
" Ini dimana?"
" Kuburan." Jawabku refleks.
" Hah?"
Sadar dia bicara dengan siapa, Lia langsung melotot dan memukul pundakku yang tak berdosa.
" Vian? Ngapain lo disinih?"
" Aduduh ish sakit woy, lagian yang harusnya nanya itu bukan lo tapi gue. Aduh ."
" Bodo amat . Pokonya gue gak mau tau kalau sampai ada yang lecet sama gue. Lo, "
" Apa? "
Aku tak mau kalah dengan cewe yang sikapnya selalu berubah ini. Jari telunjuknya tepat berada diwajahku, mata yang melotot kini berubah menjadi malu.
" Udah berapa kali gue bilang gue emang ganteng ."
Berhasil, wajahnya blushing, dia gelagapan namun tetap saja tak mau kalah.
" Ih, pokonya gue gak mau tau kalau ibu sampai nyariin terus nyeramahin kan kasihan."
" Lagian ngapain lo tiduran di rooftop, nemenin gue yah?"
Aku tersenyum dan menatap wajahnya.
" Hah? Enggak, kata siapa? "
" Mata lo. " Lia langsung mengerjapkan matanya dan kembali mengalihkan penglihatannya.
Shit, lo bikin gue gak bisa bersikap dingin.
" Apaan sih lo, makin ngawur . Udah ih gue mau pulang. "
" Emang lo berani? "
" Ngeledek! Ya berani lah."
Dia langsung berdiri, sebelum beranjak pergi Lia sedikit membersihkan pakaiannya. Kemudian dia melihatku dan dibalas dengan tatapan pula dengan alis kiri yang sengaja ku angkat.
" Silahkan. " Aku menggerakan tanganku ala ala seseorang yang tengah mempersilahkan pergi.
Lia langsung melempar jaket yang tadi ku kenakan untuk meutupi tubuhnya yang kedinginan tepat pada wajahku, kemudian berbalik berjalan menjauh.
Saat Lia akan membuka pintu keluar masuk rooftop sengaja aku menakutinya dengan sedikit berteriak.
" Baik baik yah lo dibawah, kalau ketemu hantu ditangga atau dikoridor jangan teriak. "

KAMU SEDANG MEMBACA
Love??Bullshit
Teen FictionSaat Rasa berubah menjadi cinta saat itu juga hatiku direnggut olehnya.Hatiku hilang,dia tersesat,saat aku mencarinya pada yang lain tetap saja hatiku tak kutemukan.Aku lelah,aku ingin berhenti,cukup!aku tak ingin mencari hatiku yang direnggutnya. R...