[2]Bara

75 3 0
                                        

Aku menyusuri kompleks perumahan Cendana dengan mobilku lambat-lambat sembari bernostalgia. Model-model rumahnya yang masih sama diterpa cahaya keemasan mentari senja saat itu, tamannya masih sama, lapangan basketnya masih sama, hanya ada beberapa tambahan bangunan di tanah-tanah yang dulunya lapang. Aku melewati rumah lamaku yang kini sudah menjadi milik orang lain lantas tersenyum begitu mengingat begitu banyak kenangan hebat yang diciptakan di dalam rumah dua lantai tersebut. Beberapa meter kemudian aku sampai di sebuah rumah berlantai dua berdinding bata merah yang halamannya rimbun dengan tanaman bonsai. Aku menepikan mobilku. Kemudian melangkah menuju pagarnya lalu menekan bel.

Aku menunggu selama beberapa saat sampai seorang bocah perempuan yang kira-kira berusia 5 tahun membukakan pagar. Aku terkejut tapi anak itu lebih terkejut lagi. Untuk beberapa saat dia mengamatiku dari atas sampai bawah kemudian dengan tiba-tiba dia berbalik lalu berlari masuk ke dalam.

"Maaa!!" teriaknya.

Aku hanya menelan ludah, mulai gelisah.

Sepersekian detik kemudian dia kembali bersama seorang perempuan berbadan bongsor dengan rambut merah kecoklatan yang dicepol. Wanita itu dibalut celemek dan aroma terasi udang menguar kuat dari tubuhnya.

"Ya? Ada yang perlu saya bantu?" ujarnya sembari melepas celemeknya, berusaha terlihat ramah.

Dia menatapku. Aku balas menatapnya. Dan aku merasa tidak mengenalinya. Aku mengerutkan dahi.

"Saya mencari Hujan!" ujarku langsung pada intinya.

Wanita itu terlihat menimbang-nimbang sejenak lalu menatapku dari atas ke bawah sama persis dengan yang dilakukan bocah tadi..

"Dia sudah tidak tinggal di sini." Ujarnya kemudian.

"Oh." Komentarku singkat.

Aku harusnya tidak terkejut, aku sudah lama sekali kehilangan kontak dengannya dan tidak pernah mendengar kabar tentangnya.

"Ada perlu apa? mungkin bisa saya sampaikan."

"Eh," ujarku . "Tadinya saya akan memberikan undangan ini untuknya!"

Kusodorkan undangan yang kubawa pada wanita itu. Dia mengamatinya selama beberapa saat kemudian seakan terjadi sesuatu dia menegakkan pandang ke arahku dengan cepat.

"Kau Bara?" tanyanya sambil menatapku tak percaya.

Aku mengangguk.

"Bara Api?"

"Ya."

Wanita itu menelan ludah.

"Dan kau masih berani-beraninya mencari Hujan?" dia terlihat naik pitam seketika, menatapku setengah tak percaya. "Setelah semua itu?!"

Aku kaget , tak mengerti arah pembicaraan wanita ini.

"Maksud Anda apa?" selidikku. "Apa Anda mengenali saya?"

Dia membisu tapi memberiku tatapan paling galak yang ia miliki. Selama beberapa saat aku merasa mengenali wajahnya. Otakku bekerja keras untuk mencari-cari satu nama yang timbul-sembunyi di tumpukan memoriku.

"Mbak Prilly?!" lontarku pada akhrinya.

Aku terperangah tak percaya. 

Suara Bara Api dan HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang