Aku merasakan semua siswa memandangiku kemanapun kulangkahkan kaki, beberapa ada yang berbisik-bisik dan beberapa lagi bahkan ada yang langsung menyalamiku, memberiku selamat walaupun aku belum mengenalnya satu per satu. Begitu aku tiba di kelas, beberapa siswa yang sudah datang juga menyambutku tak kalah hebohnya.
"Selamat, ya!" ujar beberapa siswa. Aku hanya bisa tersenyum.
"Woy, gue tunggu traktiran lo!" seru si Herdi, kenalan pertamaku di kelas ini.
"Thanks, all!" ujarku sambil mengulas senyum.
Beberapa orang mengerumuniku , menyanyakan kesanku dan kronologi turnamen kemarin. Aku menjawab pertanyaan mereka satu per satu sampai bel masuk berdering dan bersamaan dengan itu ekor mataku menangkap seorang gadis berambut panjang yang mengenakan sweater oversize melenggang masuk kelas. Pandanganku bertemu dengannya sekilas tapi dia buru-buru membuang muka. Dia gadis yang kemarin, gadis aneh di kolong meja. Tak kusangka aku akan sekelas dengannya. Dan aku belum mengetahui namanya. aku berusaha melihatnya dari bangkuku, dari sela-sela kerumunan, tapi dia sama sekali bahkan tidak mengangkat pandangannya ke arahku, nampak tidak tertarik dengan kerumunan di bangkuku jadi aku bahkan ragu dia mengetahui namaku. Kerumunan yang melingkari bangkuku bubar ketika seorang guru yang menurut jadwalku akan mengajar bahasa Indonesia masuk.

KAMU SEDANG MEMBACA
Suara Bara Api dan Hujan
Teen Fiction"Cinta memang tidak bisa dipaksakan tapi selalu memberi pilihan." Bara Dia hanya gadis aneh yang suka ketawa sinis, sembunyi di kolong meja dan terlihat selalu ingin nantang ribut kalau bertemu denganku. Hujan Bagus! Bahkan nama kami pun seperti du...