Gelak tawa terdengar dari ruangan Pinky. Josh duduk santai di sofa dan tak berhenti terbahak ketika mendengar cerita tentang hacker yang disewa perempuan tersebut.
"Astaga, jadi ini serius? Kamu nyewa hacker demi untuk menghapus semua foto-foto Icha dan Aming?" Lelaki itu terus saja bertanya tak percaya.
Pinky berdiri santai di dekat jendela dan menyandarkan bahunya di kusen. Ia mengangkat bahu. "Aku nggak punya pilihan, Josh. Perempuan itu rese banget. Dan aku nggak bisa nahan untuk nggak ngasih dia pelajaran." Ia bersungut.
"Jadi apa dia jadi menuntutmu atas perkelahian kalian beberapa waktu yang lalu?" tanya Joshua lagi.
Pinky mengangguk.
"Dia nggak menempuh jalur hukum. Dia cuma pengen supaya aku dikeluarin dari tempat ini," bibirnya berdecih. "Dia pikir aku bakal takut gitu? Cih. Pekerjaan dan juga tempat ini adalah hal luar biasa bagiku. Tapi bukan berarti aku akan mengorbankan harga diriku untuk merayu Icha agar laporannya dicabut. Lagian kalo aku bener-bener dipecat, aku bisa fokus untuk menyelesaikan S2-ku aja. Ya kan?" Pinky seolah meminta pertimbangan pada Joshua.Joshua terbahak lagi, sebelum akhirnya ia menatap Pinky dengan takjub.
"Beneran deh, kamu berubah sejak nikah. Dan well, menurutku itu keren banget."Pinky terkekeh lirih, "Apaan sih?" Kedua pipinya merona.
"Beneran. Dulu kamu nggak kayak gini. Aku mengenalmu dengan baik, Ping. Dan kamu bukan tipe perempuan yang mau ngurusin hal remeh kayak gini. Berantem sama orang, apalagi sampai jambak-jambakan dan jadi pegulat dadakan." Josh terkekeh lagi. "Dulu kamu menghabiskan waktu untuk belajar dan belajar. Kamu ambisius untuk dapetin nilai terbaik. Kamu ambisius untuk lulus lebih cepet, dan kamu punya passion yang tinggi untuk bepergian ke banyak tempat. Tapi, well... sekarang kamu bener-bener beda. Dulu kamu beranggapan bahwa pekerjaan dan juga tempat ini adalah prioritas. Nyatanya, sekarang kamu nyantai aja kalo akhirnya kamu dipecat. Dan semua perubahan yang terjadi padamu ini kayaknya adalah pengaruh dari pernikahanmu."
Pinky melipat kedua tangannya di dada dan menatap Joshua dengan mata benar.
"Jujur aku sendiri juga nggak percaya dengan apa yang kualami saat ini, Josh. Aku kira kehidupan pernikahan bakal membosankan dan nggak asyik. Aku membayangkan diriku terjebak dalam kontrak paksa yang membatasi ruang gerakku, membatasi karirku, dan juga kehidupanku. Ternyata nggak seburuk itu, Josh. Aming memperlakukanku dengan baik, dia nggak mengatur, dia nggak membatasi dan... Aku menemukan bahwa punya pasangan hidup itu... menyenangkan. Dan coba tebak, sepertinya aku juga berubah pikiran soal punya anak."Lagi-lagi Josh menatapnya takjub.
"Wow, itu keren."Pinky balas menatap Joshua dengan lembut. "Aku berharap suatu saat kamu akan ngalamin apa yang aku alamin, Josh. Bertemu orang yang tepat, jatuh cinta, menikah, dan punya kehidupan yang ... luar biasa. Percayalah, hidupmu akan jauh lebih baik."
Joshua mengangkat bahu. "Aku juga berharap bisa melakukannya, Ping. Ketemu orang baru, jatuh cinta, lalu membina sebuah keluarga. Nyatanya, ngelupain kamu tuh gak mudah," ujarnya.
"Josh..." Pinky mengerang sambil beranjak lalu duduk di samping Joshua. Ia memeluk pundak lelaki tersebut dengan erat dan menggenggam tangannya erat. "Kamu sahabat terbaikku, Josh. Dan aku nggak pernah berhenti berdoa agar kamu dapat perempuan yang terbaik. Kamu layak mendapatkannya."
"Pinky..."
Kali ini Pinky memeluk memeluk lelaki itu dengan hangat, bermaksud memberi dukungan padanya agar ia tahu bahwa Joshua harus segera move on.
"Hiduplah dengan bahagia, Josh." Pinky berbisik.
Joshua menarik nafas.
"Merelakanmu jelas bukan hal yang mudah, Ping. But, I'll try it. Yeah, walaupun aku tahu itu nggak mudah."

KAMU SEDANG MEMBACA
Mingky
FanfictionPinky tak punya trauma tertentu pada perkawinan. Toh ia dibesarkan di sebuah keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Tapi entah, kehidupan pernikahan sepertinya tidak terlalu cocok dengan dirinya. Selama ini ia nyaman sendiri. Ia bahagia walau tak...