Aksi Pinky yang uring-uringan terus berlangsung hingga beberapa hari lamanya. Ia menolak berbicara dengan Aming, menolak makan di rumah, dan setiap hari sepulang kerja, ia akan masuk ke kamarnya lalu mengunci dari dalam, hingga mau tak mau Aming harus di luar.
Dan Aming hanya mampu menatap istrinya dengan geli.
°°°
"Murung amat buuk? Lagi berantem ya?" Dokter Giska asal nyablak ketika pagi itu ia datang ke ruangan Pinky sambil membawa beberapa map konsul pasien.
Pinky mengerutkan bibir, tapi tak menjawab.
"Tuh kan? Pasti lagi berantem sama suami? Ya kaaannn? Kenapa buukkk? Jatahnya kurang?"
"Dih, sok tau banget," Pinky menjawab asal.
"Awas lho, gampang ngambek ntar suaminya diambil orang lho." Dokter Giska kembali terkikik.
Pinky merebut map dari tangan tersebut. "Semangat banget sih kalo ngurusin suami orang kok."
"Cuma sama suamimu doang kok."
Pinky melotot. Dan sebelum map di tangannya melayang, Dokter Giska sudah keburu kabur dari ruangannya dengan tawa lepas.
"Punya suami cakep ternyata gini ya risikonya. Digodain orang mulu," gerutu Pinky sambil menjatuhkan map-map di tangannya dengan kasar ke atas meja.
°°°
"Jadi itu bener?" Joshua bertandang ke ruang kerja Pinky, sesaat setelah Dokter Giska meninggalkan tempat tersebut.
Pria itu melenggang, duduk di sofa mungil di samping nakas, sambil menatap Pinky yang tengah duduk manyun di meja kerjanya.
"Apaan sih?" Perempuan itu menjawab malas-malasan.
"Kamu berantem sama suamimu."
"Dikasih tau Dokter Giska ya?"
Joshua mengangguk.
Bibir Pinky manyun.
"Ya gitu deh," akhirnya menjawab.
"Ada masalah apa?"
"Kamu serius nanya, kan? Nggak lagi ngeledekin aku kan? Nggak lagi tebar modus kan?"
Bibir Joshua mencebik lalu pria itu menarik nafas kesal.
"Ping, aku emang masih sakit hati karena kamu menolak cintaku. But, we're still best friend. I'm concern about your relationship, about your marriage. I mean, aku masih siap kamu jadiin tempat bercerita kayak dulu. Kalau kamu ada masalah, berceritalah."
Pinky kembali menatap sahabat baiknya tersebut. Seolah sosok itu kembali ke sifat aslinya yang bijak, setelah akhir-akhir ini sempat membuatnya gedeg.
"Di lubuk hatiku yang paling dalam, jujur aku seneng kamu berantem sama suamimu. Tapi..."
"Joshuaa..." Pinky mengerang.
Joshua mengangkat bahu cuek, "Ups, sori."
"Jadi, ada apa sih sebenernya?" Pria itu kembali bertanya.
Pinky menggigit bibir gusar. Sejak menikah, ia memang sudah jarang berbagi cerita dengan Joshua. Padahal dulu, apapun selalu ia ceritakan padanya. Mereka benar-benar bersahabat baik waktu itu. Tapi karena akhir-akhir ini pria itu berubah senewen dan menyebalkan-- dan ia juga, hubungan mereka jadi sedikit renggang.
Mungkin, tak ada salahnya Pinky memulai untuk mengakrabkan hubungan mereka kembali.
Dan mungkin tak ada salahnya juga ia berbagi cerita padanya.
"Well," perempuan itu menarik nafas sejenak. "Mantan pacar suamiku masih saja menyimpan foto-foto mesra mereka."
Joshua menegakkan tubuh. "Mantan pacar?"
Pinky mengangguk.
"Dan coba tebak, perempuan itu bahkan mengunggah foto-foto mereka di akun fesbuknya. Dan, disetting publik lagi. Nyebelin kan?"
Joshua ternganga. "Wow."
Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
"Hubunganku dengan suamiku belum terlalu... dekat. Tau sendirilah kalo kami dijodohin. Jadi... kami emang masih seperti orang lain, kami masih proses untuk terus saling mengenal satu sama lain. Tapi jujur aja, keberadaan foto-foto itu membuatku terganggu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mingky
FanfictionPinky tak punya trauma tertentu pada perkawinan. Toh ia dibesarkan di sebuah keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Tapi entah, kehidupan pernikahan sepertinya tidak terlalu cocok dengan dirinya. Selama ini ia nyaman sendiri. Ia bahagia walau tak...
