02

1.3K 230 3
                                    

Kyungsoo sudah tiba dicafe XO, dia sedang berada diruangan yang ada dibalik panggung. Kopi dengan sedikit creamer adalah teman yang pas bagi dia.

"Hai, soo!" sapa junmyeon pada kyungsoo.

"Junmyeon~ah, bisakah aku bernyanyi pada jam seperti biasa?" tanya kyungsoo.

"Mianhae soo, ini adalah perintah dari owner caffe ini. Kenapa?" tanya junmyeon. Junmyeon sebenarnya bukan pemilik asli dari caffe XO. Dia hanya pengelolah caffe.

"Tidak. Hanya saja aku tak ingin umma ku kahwatir menungguku dirumah. Beberapa hari ini umma tidur larut hanya karna menunggu kepulanganku."

"Akan aku coba bicarakan dengan owner caffe ini. Mungkin dia akan mempertimbangkannya soo."

"Kumawo junmyeon~ah. Kau memang temanku."

"Kau jahat soo. Hanya menganggapku sebagai teman. Kau tau---"

"Ya aku tau. Kau menyukaiku, tapi kau itu temanku junmyeon. Diantara teman tidak boleh ada perasaan apapun oke! Teman hanyalah teman. Sudah saatnya aku tampil" potong kyungsoo. Temannya satu itu memang selalu mengatakan bahwa dia menyukai kyungsoo, tapi sekali lagi kyungsoo hanya menganggapnya teman, tidak lebih dan tidak kurang. Bukan bermaksud jahat, hanya saja memang tak ada perasaan apapun dihati kyungsoo pada junmyeon.

"Bagaimana perkembangan caffe, hyung?" tanya seorang namja pada junmyeon.

"Bagus, pengunjung semakin meningkat tiap harinya" jelas junmyeon.

"Oh iya. Penyanyi yang menjadi daya tarik caffe ini meminta untuk tidak tampil terlalu malam. Karna ibunya dirumah sendirian."

"Ah baiklah. Kurasa jika hanya tampil malam hari diakhir pekan tak masalah bukan?."

"Tentu, gumawo."

"Ne, hyung. Kalau boleh tau penyanyi itu bernama siapa?" namja itu memandang kearah panggung. Panggung kecil yang berada tepat diujung caffe itu, sederhana namun elegan penataannya sehingga para pengunjung bisa menaruh fokus disana.

"Dio, namanya Dio" kata junmyeon.

"Dio?" gumam namja itu. Kyungsoo menggunakan nama Dio sebagai nama panggungnya, karna dia memang tak ingin ada yang mengetahui identitas aslinya kecuali seseorang yang benar-benar mengenalnya. "Dia manis" gumam namja itu menatap kagum pada kyungsoo. Senyum kecil merekah diwajah namja itu. "Apa dia sudah memiliki namjachingu?" tanya namja itu pada junmyeon.

"Aku rasa tak ada waktu baginya untuk itu" jawab junmyeon dan ia mendapat tatapan bingung dari namja yang sejak tadi menjadi lawan bicaranya.

Kyungsoo selesai bernyanyi langsung beristirahat diruangan yang ia gunakan sebelumnya. Beberapa lagu ia bawakan, termasuk request dari para pengunjung. Jika diminta bernyanyi sampai pagi kyungsoo mampu hanya saja waktu, waktu yang tak bersahabat dengannya.

"Hai, dio!" sapa seorang namja pada kyungsoo yang sedang meminum air mineral.

"Ah, hai. Ada yang bisa kubantu?" tanya kyungsoo menatap namja itu.

"Boleh berkenalan?" tanya namja itu lagi. Dia menunggu respon kyungsoo.

"Ah, tentu saja. Aku dio" jawab kyungsoo memperkenalkan diri.

"Ya aku tau itu dari junmyeon hyung. Aku chanyeol, park chanyeol" jawab namja tadi dengan tersenyum menampakan deretan gigi putihnya.

"Ch--chanyeol?" gumam kyungsoo lirih.

"Ne? Namaku chanyeol. Kenapa?" tanya chanyeol bingung karena kyungsoo terlihat sedikit kaget.

"Ah tidak, tidak apa-apa" kyungsoo menggeleng cepat. Kyungsoo ingat! ingat siapa nama mahasiswa baru dikelasnya yaitu chanyeol. Chanyeol seseorang yg saat ini dihadapannya. Kyungsoo tak pernah menyangka sebelumnya akan bertemu dengan teman sekampus bahkan sekelasnya, karna cafe ini terbilang cafe untuk kalangan elit.

Women In BlackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang