"Makan!! Makan!!! Huks... Huks... Makan ini, jimin!!!"
Teriak jisoo disela-sela tangisannya. Dia menempelkan piring itu ke wajah jimin.
"Makan, pelacur!!"
Teriak jisoo, membuat Jimin menangis semakin kencang. Dia sangat sedih. Kenapa dia harus berakhir seperti ini, disaat hatinya dapat menerima jungkook setelah apa yang terakhir kali taehyung lakukan padanya.
Ya, memang setelah kontak fisik yang mereka lakukan waktu dia bertanya mengenai pendapat taehyung tentang jisoo, jimin mulai memberikan jarak pada taehyung. Pertemanan yang mereka jalin selama ini hancur karena perbuatan tidak menyenangkan yang jimin terima malam itu.
Kalaupun memang taehyung tidak melakukan hal yang lebih daripada memaksa jimin untuk mengulum miliknya. Tapi cengkraman taehyung dibahunya saat mencapai kepuasaan dan juga perkataannya tentang..
'aku selalu suka apapun itu bagian dari tubuhmu, jimin.'
..sudah seperti tamparan bagi jimin agar berhenti berharap bahwa perasaannya akan mendapatkan balasan yang setimpal dari taehyung.
"Baguslah kalau kau tidak makan... Huks.. Huks.. Cepatlah mati, jimin.. Huks.. Cepat-"
Jisoo tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena jungkook menarik rambutnya dan menyeretnya ke luar kamar hotel.
"Kenapa kau masih saja datang kesini? Jimin milikku sekarang. Kau pergilah temui tae-"
"Bagaimana aku bisa menemuinya kalau setiap aku bertanya kabarnya saja, dia terus menyebut-nyebut nama jimin!!! Huks... Huks... Bagaimana menjadikannya milikku jik-"
"Itu urusanmu!! Pergi dari sini!!!"
Kata jungkok, setengah berteriak. Dia sudah jengah untuk menghadapi wanita ini. Awalnya saja bagus saat diajak bekerja sama, tapi kenapa dia terus saja mencampuri urusannya dengan jimin setelah berhasil menculiknya. Tidak boleh inilah, tidak boleh itulah pada jimin. Memangnya dia pikir dia itu siapa?
"Dengar ya, kim jisoo. Aku akan membawa jimin ke luar negeri. Dan kau! Kau jelas punya peluang besar untuk mendapatkan taehyung jika kubawa jimin jauh bersamaku."
"Jung-"
Braaakkkkk
Jungkook menutup pintu itu dan mendekati jimin dengan terburu-buru.
"Jimin-ah.. Kau milikku.."
Kata jungkook, sendu. Lalu sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Kau milikku. Dia tidak akan pernah bisa menemukanmu setelah ini."
Kata jungkook, disela tawanya yang mengerikan di indera pendengaran jimin.
"K-k-kau sakit, jungkook.. Hiks... Hiks.. Kau sakit... Hiks... Lepaskan aku.. Hiks.. Hiks.."
Jimin takut karena jungkook tertawa sambil diacungkannya brosur dengan tulisan Amerika kehadapan wajahnya.
"Kau yang membuatku sakit, jiminie.."
Kata jungkook, setelah puas tertawa-tawa sendiri. Dia mengelus rambut jimin dengan sayang sambil dibersihkannya butiran nasi di wajah cantik itu. Lalu, dia juga melepaskan tali yang mengikat tubuh mungil jimin-nya ini.
"Ayo kita mandi, sayang."
Kata jungkook, mengangkat tubuh jimin ke kamar mandi.
"J-j-jungkook... Hiks... Hiks.. K-k-kenapa... Hiks.. Hiks.. Kenapa kau berubah.. Hiks..."
"Aku tidak berubah. Tapi kalau kau mau aku berubah, bisa saja."
Ujar jungkook, dengan sebuah seringaian di wajahnya. Senyuman itu terukir cukup lama sampai kemudian sirna begitu jimin meludah tepat ke wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[End] Teman Hidup
FanfictionTaehyung adalah teman Jimin sampai kemudian masalah keluarga membuat keduanya mengubah status mereka.
![[End] Teman Hidup](https://img.wattpad.com/cover/136467291-64-k203250.jpg)