Jimin menepis tangan taehyung yang akan membuka kancing piamanya.
"Kenapa?"
"A-a-aku..."
Jimin menundukkan wajahnya. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab taehyung.
"Kau tidak ingin melakukannya karena kau melupakanku?"
Kata taehyung, berpura-pura menunjukkan wajah sedih.
"Bukan begitu, t-t-tapi.."
"Kemarin kau bilang akan melayaniku, tapi sekarang malah seperti ini."
Kata taehyung, memasang wajah melas sekali.
"Taehyung-ssi, bukankah kau bilang kita masih sekolah? Dan... Hm.. Kurasa hal seperti itu.. T-t-tidak baik untuk dilakukan.."
Ujar jimin.
"Taehyung-ssi? Kau panggil calon ayah dari anakmu sendiri seperti itu?"
'Calon ayah?'
Jimin refleks menyentuh perutnya.
"A-a-apa?? Apa aku sedang hamil??"
Tanya jimin, panik. Dia saja belum mampu menerima taehyung sebagai suaminya dan sekarang...
"Tidak mungkin.."
Jimin menangis. Dia pikir dia adalah anak yang baik, tapi karena perkataan taehyung, dia jadi menyimpulkan kalau mungkin saja pernikahan ini justru terjadi karena dia hamil duluan.
"Aku bukan anak yang baik.."
Kata jimin, kecewa.
"Kau anak yang baik, aku yang memaanfaatkan kebaikanmu."
Ujar taehyung, dia membawa jimin untuk berbaring di ranjang sambil ditatapnya dalam-dalam.
"Maafkan tae-tae ya, chim."
Bisik taehyung ditelinga kanan jimin.
-ah. Mungkin itu hanya alibi, karena disaat jimin tak berdaya, taehyung melancarkan aksinya diatas tubuh jimin.
Awalnya hanya sebuah kecupan kecil di pipi, dan tentu saja menerima sedikit penolakan dari jimin. Tapi taehyung punya mantra yang bisa membuat jimin terdiam.
"Aku kim taehyung, ayah dari anakmu."
Maka longgarlah tangan-tangan kecil jimin yang berniat menghentikan kemesuman seorang taehyung.
Kalau hanya mengecup pipi mungkin tidak terlalu jadi masalah, tapi kalau menjilat tepian bibir jimin?
Sebenarnya ada sesuatu yang bergetar, dan jimin akui bahwa getaran itu menyenangkan. Hanya saja...
"Tae.. Dimana jungkook?"
Taehyung mengangkat wajahnya.
"Chim-"
Belum sempat dia berbicara karena Jimin menarik tubuhnya dan sesegera mungkin bersandar di kepala ranjang. Begitu cepat, seperti sedang ketakutan.
"Kau mengingat jungkook?"
Tanya taehyung, tapi jimin tidak menjawab dan malah menghambur kedalam pelukannya.
"Aku takut, tae..."
Jimin meremas punggung taehyung lalu menangis begitu kencang.
.
.
.
.
.
"Apa punya anakku begitu besar?"
"Kau ini bicara apa, yoongi?"
Tanya seokjin.
"Jimin menangisnya kencang dan lama sekali. Bukankah itu berarti 'punya' anakku besar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[End] Teman Hidup
Fiksi PenggemarTaehyung adalah teman Jimin sampai kemudian masalah keluarga membuat keduanya mengubah status mereka.
![[End] Teman Hidup](https://img.wattpad.com/cover/136467291-64-k203250.jpg)