Takut Kumpul Tugas!

3.7K 144 1
                                    

Satu bulan setelah pertemuan dengan Kak Adit dan memberi tugas sebanyak ini akhirnya Lea pun harus mengumpulkannya. Jujur ia takut mengingat dia tak pernah konsultasi masalah tugasnya dengan Adit atau pun menyerahkan tugasnya untuk di periksa oleh Adit, bagaimana mau konsultasi menolfon pun dia tak berani.
.
.
.
Dan Hari ini dia harus menenui Dokter itu untuk menyerahkan, sebab semalam dokter Es alias kak Adit menelfonnya.

Flashback
*nada dring hand phone berbunyi*
"Siapa sih yang nelfon jam segini? Tumben banget ada yang nelfon" Alea pun melihat nama yang tertera di layar hamnd phonenya dengan jelas Kak Aditya sontak Alea segera mengangkat dengan cepat
"Assalamualaikum Kak Adit"
"Walaikumsalam, temui saya di Cafe dekat kampus besok sehabis sholat Duhur"
"Baik Dok, eh salah maksudnya kak Adit"
"Hmmm... ya sudah. Ada yang mau kamu tanyakan?"
"Enggak ada kak"
"Bagus, sampai jumpa besok. Assalamualaikum"
"Walakumsalam Warohmatullahi Wabarokatu"
Sambungan telfon pun terputus

"Tumben noh Dokter Es kagak dingin kalau ngomong. Mungkin Esnya udah agak cair kali" sambil cengir sendiri

Flashback on

Selesai Sholat Duhur di Masjid dekat kampus Alea pun segera pergi ke kafe dekat kampus. Tapi belum keluar dari pintu mesjid ada yang mencekal tangannya sontak ia berbalik dan melihat orang yang memegang tangannya
"Kak Adit"
"Ikut saya sekarang"
"Iya Dok" orang yang di perintah untuk pun hanya mengikut saja. Toh tujuannya memang untuk bertemu kak Adit.

  Sesampainya di parkiran mobil di masjid
"Masuk"
"Lah! Kak kan kafenya di sebrang jalan. Enggak usah pakek mobil kali. Titip ajah mobil kakak disini, kan aman kalau di masjid"
"Kita enggak jadi ke kafe"
"Lah! Kalau enggak jadi berarti tugas saya enggak jadi di kumpul hari ini donk, ya udah saya pulang kalau gitu"
"Tugas kamu jadi di kumpul hari ini. Udah masuk ajah enggak usah protes"
Alea lansung masuk, enggak untuk bertanya apa pun lagi.

Di sepanjang perjalanan hanya hening. Tak ada satu pun dari dua manusia di dalam mobil itu yang ingin memulai pembicaraan. Meraka berdua hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga mobil berhenti di suatu tempat yang bertuliskan -OBJEK WISATA SITU CILEMBANG SUMEDANG, JAWA BARAT-
Alea bingung dengan apa yang dia liat
"Ngapain kita kesini Kak Adit?"
"Ya untuk periksa tugas kamu lah. Emang mau ngapain lagi. Saya udah bosan ke kafe atau taman, jadi saya ajak kamu kesini. Emang kamu enggak bosan ke tempat itu-itu ajah"
Alea hanya diam, menandakan ia membenarkan perkataan Adit.
"Yuk" sambil menarik tangan Alea.

Alea hanya bengong melihat perlakuan Adit padanya.

#Tumben niee dokter kagak dingin. Biasanya kalau ngomong kayak es. Apa mungkin sebulan ini dia sakit jadi kayak gini. Hmmm entah lah# batin Alea

"Permisi pak, kami sewa perahunya buat dua orang""Oh iya, mau dayung sendiri mas""Enggak pak, bapak ajah yang dayung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Permisi pak, kami sewa perahunya buat dua orang"
"Oh iya, mau dayung sendiri mas"
"Enggak pak, bapak ajah yang dayung. Soalnya saya mau diskusi sama teman saya"
"Oh iya atuh mas, mbak silahkan naik"
"Iya makasih pak"

Perahu pun mulai berjalan ke tengah Danau. Alea menikmati panorama hijau dan birunya air danau, sampai akhirnya lamunanya di buyarkan oleh Adit
"Tugas kamu mana?"
"Oh iya ini" sambil mengeluarkan sekumpulan tugas yang belum ia Jilid.
"Kenapa belum di Jilid?"
"Saya pengen kakak periksa dulu, siapa tau ada yang salah, nanti saya perbaiki setelah itu nanti saya jilid"
"Oh begitu"

Adit pun mulai memeriksa tugas Alea satu persatu.

.
.
Hampir dua jam mereka berada di tengah danau, dan hampir dua jam pula Adit memeriksa Tugas Alea. Dan ini adalah tugas terakhir Alea yang ia periksa
"Gimana kak ada yang harus saya perbaiki?"
"Tidak ada, tulisan kamu bagus, kamu seperti sudah terbiasa menbuat tugas sebanyak ini. Ternyata tidak repot juga  membimbing kamu." Aditiya Tersenyum, dan itu senyum pertama yang Alea lihat dari wajah Aditya sejak pertama kali mereka bertemu.

#Sumpah manis banget senyum kak Adit# batin Alea.
Sambil melihat Aditya, sontak yang dilihat merasa bingung
"Kok liatin saya segitunya. Awas naksir loh" menggoda Alea
"Ih apaan sih kak. Enggak kakak tuh kalau senyum manis tau"
"Baru tau kalau saya senyum itu manis"
"Iya, soalnya dari pertama aku ketemu kakak, tampang kakak cuek dan datar ajah tanpa ekspresi" sontak Alea sadar dan langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Ops! Keceplosan"
Aditya hanya tertawa melihat tingkah Alea yang lucu. Dan yang di tertawakan hanya kikuk malu karena kebodohannya.

Dokter PembimbingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang