Pukul sebelas siang kediaman Irsyad terasa begitu sepi, lelaki yang menginjak usia tiga puluh satu tahun itu belum pulang dari kantornya, rumah itu seperti biasa hanya dihuni oleh istri dan anaknya saja. Usai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga ibu satu anak itu bermain bersama anaknya. Keduanya berbaring diatas karpet lebar bergambar kepala hello kitty, suara tawa Runa memenuhi rumah dua lantai itu.
“ayah lagi apa?” tanya Runa pada lelaki yang wajahnya terpampamg di layar ponsel.
“baru selesai ketemu klien, udah makan Bun?” tanya Irsyad.
“udah, tadi aku masak cumi-cumi,” jawab Runa. “kamu mau makan siang dimana?” tanya Runa.
Perempuan itu mengubah posisi, yang semula berbaring kini tengkurap. Diarahkannya layar ponsel ke wajah anaknya. Ia sengaja menggunakan wajah Akia untuk menarik pulang sang suami, trik itu selalu berhasil dan menjadi senjata ampuh. Irsyad yang melihat wajah lucu anaknya selalu tak sabar untuk menggendong tubuh mungil anak perempuannya itu.
“Kakak,” panggil Irsyad begitu melihat Akia.”kamu lagi apa sayang?” tanya Irsyad pada bayi enam bulan.
“lagi main ayah, ayah enggak mau ikut main?” jawab Runa dengan suara anak kecil yang di buat-buat. Ia biasa mewakilkan Akia menjawab pertanyaan Irsyad atau orang-orang sekitar.
“kakak main sama Bunda dulu ya, hari ini Ayah pulang malam,” ucap Irsyad dengan suara lembut.
“pulang malam?” Runa memfokuskan kamera ke arah wajahnya. Dengan bibir yang sedikit maju ia menatap Irsyad di layar. Irsyad di seberang sana hanya bisa meringis merasa bersalah pada istrinya karena tak bisa pulang cepat seperti biasanya.
“ada kerjaan penting Bun. Aku enggak bisa kerjain di rumah, aku harus diskusi sama tim,” jawab Irsyad. Ia harap Runa bisa memahami penjelasannya.
“tapi biasanya juga kamu kerjain di rumah kalau enggak sempat di kantor,” sahut Runa dengan sedikit emosi.
“iya sayang, tapi ini beda... aku harus diskusi sama anggota tim, enggak bisa aku kerjain sendirian,” jawab Irsyad.
“jaman sekarang udah canggih Syad, kalian ‘kan bisa diskusi lewat video call atau skype,” protes Runa.
“enggak bisa sayang,” ucap Irsyad dengan penuh kesabaran
“enggak tahu ah, suka-suka kamu aja,” ucap Runa yang langsung mematikan sambungan video call tanpa menunggu Irsyad berbicara lagi.
“kalau mau lembur tuh bilang kek dari pagi, tiba-tiba aja bilang pulang malam, ngeselin banget jadi laki,apa dia enggak khawatir ninggalin anak sama istri di rumah berduaan aja,” omel Runa pada layar ponsel yang tak bersalah.
“kak, kita ke rumah Nenek aja ya, Bunda enggak berani di rumah kalau enggak ada ayah,” ucap Runa pada Akia. Akia yang tak mengerti apa yang sang ibu ucapkan hanya tertawa sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Runa tersenyum melihat tingkah Akia, ia mendekatkan wajahnya ke arah perut gadis mungilnya itu, menggerakkan kepalanya tepat diatas perut Akia, menggoda anaknya hingga Akia tertawa geli mendapatkan perlakuan dari Runa.
“kita beresin baju ya Ka, nanti langsung pergi ke rumah Nenek,” ajak Runa lagi sambil mengangkat tubuh Akia.
Keduanya masuk ke dalam kamar tidur. Runa meletakkan Akia di dalam box bayi. Akia yang berada dalam posisi tengkurap itu bergerak mundur membuat Runa tertawa melihatnya. “kakak diam disini dulu ya, Bunda bersein baju dulu,” ucap Runa, ia berjalan ke arah lemari dan mengambil tas bayi dan mengisinya dengan pakaian Akia, dan beberapa kebutuhan Akia lainnya, tak ketinggalan tissue basah dan hand sanitizer.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meragu (Tamat)
General FictionSekuel Pulang Kembali. ~Runa dan Irsyad~ Masalah yang mereka hadapi telah berlalu. setelah airmata yang membanjiri dikehidupan keduanya, muncul pelangi yang begitu indah. Tapi kehadiran seseorang membuat badai baru di kehidupan mereka Bisakah Runa...
