Runa menatap Irsyad dalam diam. Kedua telapak tangannya mengerat di sisi tubuhnya. Rahangnya mengetat, amarahnya memuncak mendengar ucapan Irsyad.
"Aku tau aku salah, aku lalai dalam menjaga Akia," ucap Runa dengan deru napas yang tak beraturan. Setiap kata terucap dari mulutnya remasan di telapak tangannya semakin mengerat.
"Mungkin aku memang bukan perempuan yang baik, tapi aku sedang berusaha menjadi ibu yang baik bagi Akia," lanjutnya.
"Tapi mana buktinya, kamu ninggalin Akia, kamu tidur sampai enggak sadar kalau Akia jatuh," omel Irsyad dengan penuh emosi.
"Aku manusia Irsyad bukan robot! Seharian ini aku menahan kantuk, tapi apa yang bisa aku lakukan kalau mata aku ini menolak buat melek!" Ucap Runa dengan emosi yang meledak.
"Aku lelah jaga Akia semalaman yang terus rewel dan-"
"Jadi kamu enggak ikhlas begadang malam-malam demi anak kamu sendiri!" Bentak Irsyad memotong ucapan Runa. Runa tersentak, ia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Irsyad.
"Bukan begitu maksud aku Syad!" Balas Runa tak mau kalah.
"Terus maksud kamu apa hah?!" Tanya Irsyad dengan dagu terangkat.
"Ya aku juga butuh istirahat Syad, aku juga butuh tidur kayak kamu yang setiap malam bisa dengan nyenyak tidur, enggak terganggu dengan suara tangisnya Akia," ucap Runa sedikit menyindir Irsyad.
Irsyad diam. Matanya menatap tajam ke iris coklat di depannya.
"Oh...jadi sekarang kamu salahin aku, gitu Run," ucap Irsyad dengan tangan yang berada di pinggang.
"Ya sekarang kamu pikir aja! Kamu bilang kamu ragu aku bisa jadi ibu yang baik, terus gimana dengan kamu! Apa yang udah kamu lakukan buat Akia, apa!" Bentak Runa. Wajahnya bahkan sudah memerah.
Suhu ruangan seolah meningkat dengan kemarahan kedua orang itu. Pertengkaran hebat yang terjadi pertama kalinya di rumah ini. Padahal dulu tak pernah mereka perang mulut sampai seperti sekarang.
"Aku kerja juga buat kalian Run, aku lelah seharian di kantor," ucap Irsyad. Tangannya bergerak menyapu wajahnya. "Tugas kamu cuma di rumah jaga Akia, udah itu aja yang aku minta sama kamu, hal sepele yang semua orang bisa tapi kamu-"
"Sepele kata kamu!" Teriak Runa dengan kesal. "Dengar ya tuan Irsyad yang terhormat! Aku dirumah juga bukan goler-goleran doang! Kamu enggak sadar itu baju yang kamu pakai habis ini siapa yang cuci, jemur, setrika! Kamu pikir ini ruangan bersih rapi cuma pakai simsalabim abrakadabra, hah!" Cerocos Runa dengan urat-urat di lehernya yang menonjol.
"Aku udah tawarin baby sitter sama kamu! Kamu bilang kamu yang akan urus semua kebutuhan Akia. Kamu sanggup. Oke aku turutin, aku tawarin asisten rumah tangga , kamu tolak, kamu bisa kerjain semuanya dan kamu bilang uangnya bisa untuk tabungan Akia nanti, demi Tuhan Runa, gaji aku itu cukup untuk sewa baby sitter, ART dan tabungan Akia dalam waktu bersamaan." Giliran Irsyad yang menyerocos panjang lebar membuat Runa merasa di hakimi.
Semua terkesan salahnya, keadaan ini semua akibat kesombongannya merasa mampu melakukan segalanya. Runa menitikkan airmatanya. Malu, sedih, merasa bersalah, kecewa pada diri sendiri, marah semua ia rasakan bercampur menjadi satu.
"Maafin aku-"ucap Runa dengan wajah menunduk. "-memang aku yang salah-" lanjutnya sambil menghapus airmata yang melewati bibirnya. "-aku-" tangis Runa semakin pecah tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Irsyad menghela napasnya, ia meraih pinggang Runa dan memeluknya. Mengusap punggung wanita yang sudah menangis sejadi-jadinya itu.
"Aku enggak bermaksud menyalahkan kamu Runa a-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Meragu (Tamat)
General FictionSekuel Pulang Kembali. ~Runa dan Irsyad~ Masalah yang mereka hadapi telah berlalu. setelah airmata yang membanjiri dikehidupan keduanya, muncul pelangi yang begitu indah. Tapi kehadiran seseorang membuat badai baru di kehidupan mereka Bisakah Runa...
