"Apa!!!"teriak Runa. Ia yang tadinya duduk di samping Irsyad kini menjauhi suaminya, karena ucapan Irsyad begitu mengejutkannya. "Ka-mu seriusan?" Tanyanya.
"Iya, serius," sahut Irsyad, ia masih dalam posisi yang sama -duduk bersandar pada punggung sofa dengan lengan yang menutupi mata- sejak pulang dari rumah sakit.
Runa masih terdiam, wajahnya memandang Irsyad tak percaya. "Tapi 'kan kamu masih sakit, masa kita mau liburan," ucap Runa, ia lalu mendekati Irsyad, melihat bagian kepala Irsyad yang di tutupi perban. "Tadi berapa jahitan, Yah?" Tanyanya.
"Lima," jawab Irsyad. "Seminggu lagi aku kontrol, kalau kata dokter enggak ada masalah, kita langsung berangkat, ke bali aja yang dekat, yang penting kita refreshing," ucap Irsyad, lelaki ini benar-benar ingin menyegarkan pikirannya, membuang bayang-bayang Dito sejauh mungkin.
Ia yakin luka sobek di kepalanya bisa sembuh dengan cepat setelah di jahit dan mengonsumsi obat yang di berikan oleh dokter. Tapi kalau isi kepalanya ia ragu bisa sembuh dengan cepat karena bayang-bayang romansa Dito dan Ale begitu melekat.
Irsyad bergidik, benar-benar otaknya tak bisa membuang adegan-adegan itu dengan cepat. Tombol delete sepertinya rusak hingga tak bisa menghapus. Ia butuh sesuatu yang lebih dahsyat untuk menggantikan kenangan seiton itu.
"Kamu kenapa lagi?" Tanya Runa yang melihat Irsyad melamun lalu bergidik. Ia curiga ada yang salah dengan suaminya.
Irsyad baru tersadar kalau tingkahnya bisa membuat Runa curiga. Ia lantas tersenyum ke arah perempuannya itu. "Enggak apa-apa," jawab Irsyad lalu mengelus puncak kepala Runa.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih, Yah?" Tanya Runa. Ia bebar-benar ingin tahu secara detail kejadian di kantor, pagi tadi.
"Iya itu, Bang Ale datang ke kantor," Jawab Irsyad. Jawabannya tak memuaskan Runa.
Runa menatap Irsyad dari sudut matanya, tajam, kalau saja bisa, Runa ingin membuka kepala Irsyad, mengeluarkan memori lelaki itu dan menontonnya di laptop.
Bukannya takut melihat tatapan membunuh istrinya, Irsyad malah terkekeh geli. "Aku taruh kakak dulu di kamar ya, kasihan dia," ucap Irsyad, diambilnya tubuh Akia di pangkuan Runa. Baru saja Irsyad ingin mengambil alih Akia, Runa langsung berdiri dari duduknya.
"Aku aja, kamu duduk disini, nanti aku balik lagi, kamu ceritain semuanya ya," ucap Runa. Dengan bergegas ia menuju kamar dan membiarkan Akia tidur di sana.
Tak lama berselang, suara pintu terdengar. Irsyad melirik ke arah sumber suara, di lihatnya Runa baru saja menutup pintu dan berjalan ke arahnya. Istrinya mengambil posisi di sampingnya, sambil memangku bantal sofa, Runa menatap Irsyad lekat-lekat.
Irsyad menghela napas panjang. Ia tahu apa yang diinginkan Runa, tapi ia bingung bagaimana ia harus memulai menjelaskan semuanya.
"Jadi? Gimana ceritanya?" Tanya Runa. Sebelah tangannya menopang dagu, menanti cerita tentang insiden di kantor Irsyad tadi pagi.
Helaan napas panjang, menjadi permulaan Irsyad bercerita. "Kamu ingat waktu aku di pukuli setelah mengantar Rania ke rumah orang tuanya?" Tanya Irsyad. Keduanya duduk di sofa yang sama dengan tubuh saling berhadapan.
Runa mengangguk, ia ingat betul kejadian itu. "Bang Ale 'kan yang mukulin kamu?" Tanya Runa memastikan dugaannya.
Giliran Irsyad yang mengangguk, membenarkan.
"Kamu tahu alasan Bang Ale?" tanya Irsyad.
Runa menggeleng.
"Dito," jawab Irsyad. Kening Runa berkerut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meragu (Tamat)
General FictionSekuel Pulang Kembali. ~Runa dan Irsyad~ Masalah yang mereka hadapi telah berlalu. setelah airmata yang membanjiri dikehidupan keduanya, muncul pelangi yang begitu indah. Tapi kehadiran seseorang membuat badai baru di kehidupan mereka Bisakah Runa...
