"Ro, nanti siang kita ambil data di sawah, gimana? Bukan apa-apa, sih... tapi ingat, kan? Lombanya seminggu lagi", ujar Airin esok paginya.
"Si-siang... ini?", ujar Ro tergagap, setengah syok... setengah ngeri menatap Airin. Gadis ambisius ini benar-benar kelewat semangat untuk mengikuti lomba LKIR itu rupanya.
"Iya, tapi... kamu tenang aja. Kemarin aku udah mikirin konsep apa yang mau kita buat. Udah buat latar belakang dan pendahuluan malah.... Ehm, sebenarnya udah mulai cari dasar teori juga semalam. Jadi, siang ini gimana? Ya? Ya?", ujar Airin dalam dua tarikan napas.
"Hm... apa konsepnya?", tanya Ro yang berusaha terdengar setenang mungkin.
"Tentang gulma tanaman dan hama di sawah. Ada ide di sawah mana nggak? Aku juga udah pikir-pikir dan kemungkinan pH tanah berpengaruh pada populasi keduanya", ujar Airin tak kalah semangat dari sebelumnya.
Ro terhanyut dalam kata-kata Airin dan mulai melupakan kecanggungan aneh di antara mereka. Ia tampak mulai berpikir serius dalam diam.
"Aku setuju. Tapi, sepertinya kita harus pilih salah satu dari gulma atau hama, deh!", ujar Ro setelah lima menit berpikir serius.
"Kenapa?", tanya Airin setengah kecewa.
"Seperti katamu, lomba itu seminggu lagi dan rasanya kita tidak akan punya cukup waktu untuk memasukkan dua... tidak... maksudku tiga variabel sekaligus. Kita juga harus membuat presentasi dan berlatih, ingat?", ujar Ro dengan tenang.
"Oh... aku melewatkan hal itu. Hm..., kalau begitu baiklah. Kita bisa memilih gulma saja. Kita akan selidiki pengaruh pH tanah pada densitas dan keanekaragaman gulma di... Ro, sawahnya dimana?", tanya Airin seolah baru tersadar akan sesuatu yang sangat penting.
"Di dekat rumahku ada sawah. Bagaimana kalau di sana?", ujar Ro mengusulkan.
"Oke, kalau begitu sudah diputuskan!", ujar Airin tepat ketika bel tanda pelajaran pertama berdentang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pangeran Senyum dan Gadis Pemimpi
RomanceAku hanyalah setangkai gulma... bagimu. Kau terlalu indah untuk kugapai. Harapan yang melambung ini serasa tak berbentuk dan terus menghantuiku. Bahkan hingga kini, kau masih sering datang mengunjungiku dalam kesendirian yang menjemukan. Aku ingat t...