12 - Diatas Motor

296 23 2
                                    

Di jalan, suasana mereka berdua di atas motor sedikit canggung. Entahlah karena apa, mereka hanya diam membisu dan sesekali curi pandang lewat kaca spion motor.

Tapi sepertinya Adit sedang ingin menghilangkan kecanggungan itu karena dia tiba tiba saja mengebutkan motornya dan meng-rem mendadak yang membuat nadine otomatis merangkulkan kedua tangannya di pinggang Adit.

"Ka adit!" Tegur nadine salah tingkah dan segera melepaskan 'rangkulannya'.

"Gue kan dari jauh ngejar lampu ijo. Eh pas udah deket keburu lampu merah:D jadinya gue rem mendadak." Jelas nya dengan suara dan wajah tak bersalahnya itu.

Masalahnya, saat rem mendadak tadi, nadine tidak sempat menyiapkan apapun untuk menghalangi tubuh depannya saat akan membentur punggung ka Adit. Jadinya, kalian pun tau apa yang terjadi.

Tapi dengan datarnya, ka adit hanya berdehem dan melanjutkan motornya saat lampu sudah berubah hijau.

"Makanya pegangan kalo naek motor. Biar ga reflek kaya tadi, " adit membuka kaca helm nya agar lebih bisa terdengar nadine,  "megang ke sisi baju gue juga boleh,"

"-jangan megang ke belakang, ntar lo jatuh!"  Baru saja nadine akan mengarahkan kedua tangannya ke belakang, namun ka Adit langsung menyela seperti itu.

"Kalo ke baju ka adit, nanti takut sobek."

Stopan berikutnya pun menghentikan motor adit. Adit langsung meraih kedua tangan nadine, dan langsung melingkarkannya ke perutnya.

"Yaudah gini aja."

Nadine pun langsung menarik kedua tangannya dan menyimpannya di pundak Adit yang membuat nya langsung bergidik geli. Nadine pun menahan tawa melihatnya.

"Nad, gue sensitif di situ. Geli tau ga, lo mau gue oleng nanti?"

"Terus gimana dong?" Tanya nadine polos

"Keras kepala ya lo? Udah kaya tadi."

Nadine pun perlahan melingkarkan 'lagi' tangannya ke perut Adit.

"Nah pinter," adit pun tersenyum simpul yang pasti tidak terlihat oleh nadine karena tertutup helm yang dikenakan Adit.

"Modus!" Dengusan pelan nadine namun masih bisa didengar oleh Adit. Adit pun tersenyum geli di balik helmnya, namun kemudian ia kembali biasa lagi.

"Yaudah lepas aja lepas. Lo kejengkang ke belakang gue ga tanggung jawab."

"Kan bisa bawa motornya pelan," nadine mempoutkan bibirnya.

"Cowo, kalo bawa motor pelan banget, aneh jadinya." Adit pun menghela nafas, "lagian kalo jalan kosong enak dipake ngebut nad:)"

"Masih jauh ga ka konternya? Emang mau dibenerin ke konter mana?" Nadine pun mengalihkan topik karena malas membahas 'kebut-kebutan' yang tak ada ujungnya.

"Sebenernya dari tadi kita udah ngelewatin beberapa konter," jawab adit enteng

"Tapi?" Nadine memajukan wajahnya.

"Tapi ya gue lewatin aja, emang sengaja. Biar keliling-keliling dulu."

"Lah kak:( keburu sore nanti."

"Kan biar gue bisa lebih lama sama lo. Sengaja."

Perkataan tadi membuat nadine bungkam untuk beberapa saat. Namun ia kembali ke kesadarannya.

"Nanti aku pulang duluan kalo kesorean."

"Iya iyaa, tutuh konter di depan. Kita kesitu ajaa," Adit pun mengalah dan langsung menuju konter di daerah situ.

You're My Bad SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang