Tirani

15 1 0
                                    

"Ada apa kau ke sini?" tanyaku sedemikian rupa agar terdengar tidak kaget.

"Jika kau ingin berteriak, silakan saja, nak. Aku tak masalah. Aku hanya ingin memberimu peringatan." ujarnya dengan menyeringai. Omong kosong! mau peringatan atau dia membunuhku langsung sekarang, aku tak akan kabur. Aku akan membalaskan dendamku. Kurasa ilmu beladiri yang kupelajari selama 2 tahun saat keluargaku masih berjalan dengan 'normal' mungkin bisa membantuku melawan orang brengsek ini.

Tanpa ba-bi-bu lagi, segera kuarahkan pisau lipat yang akhir-akhir ini kuselipkan dibalik kantung celanaku. Dengan secepat kilat dia berhasil menghindar. Langsung kuterjang tempat di mana ia mendarat dari lompatan tadi dan terus seperti itu hingga staminaku turun dan kehabisan nafas. Sial! Akibat kurang olahraga.

"Ada apa, nak? Apa kau sudah lelah?" tanyanya meremehkan, "untung bos menyuruhku agar tidak membunuhmu. Karena kau memiliki gen yang spesial buatnya. Aku bingung sebenarnya apa kau bisa berguna dalam misi kita?" lanjutnya dengan gaya sok mikir.

"Gen?" tanyaku tanpa peduli jika tingkahnya yang sok mikir itu membuatku jijik.

"Iya, gen. Gen yang amat spesial. Siapa sangka ternyata keluarga dari keturunan Dinar adalah kunci dibalik tujuan kami. Hahahaha.. tak kusangka akan semudah ini."

"Apa maksudmu, huh? Bukankah kalian sudah memulai percobaan apalah itu yang bahkan tak kumengerti." ujarku seadanya.

Kejadian yang lalu—yang menewaskan adikku—benar-benar berakhir tragis. Pemerintah lah yang lagi-lagi tak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Aristokrat itu bekerja sama dengan pemerintah, entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas itu adalah hal buruk. Sangat buruk bagi kami—masyarakat kecil. Sudah kulaporkan perihal pembunuhan itu kepada aparat kepolisian, namun nihil. Mereka sudah terlanjur disuap oleh para penghisap harta sialan itu agar tak ikut campur dengan hal apapun yang berkaitan dengan visi dan misi mereka.

Aku bahkan berani bertaruh, para aristokrat itu, kekayaan mereka juga berasal dari harta kami—para masyarakat biasa—yang mana uang kami dihisap olehnya, bak siput penghisap.

Jika dipikir, dunia ini memang aneh. Bekerja demi uang, hingga rela melakukan apapun demi uang. Bahkan tak peduli pekerjaan sekotor atau bahkan hingga tak berperikemanusiaan pun, mereka tak peduli. Yang penting uang, uang, dan uang!

Geli sekali aku mendengarnya. Manusia, makhluk yang tak pernah merasakan cukup. Bahkan jika mereka dibuat menyerupai Bizarre dolls, mungkin mereka akam terus bersikap layaknya mereka masih hidup. Sama-sama masih memiliki gen kerakusan dan ketamakan. Oh, jangan lupakan selfish gen mereka.

"Singkatnya, kau harus ikut denganku!" titahnya tiba-tiba. Segera dia mencoba menangkapku, untung stamina tubuhku sudah pulih kembali. Aku langsung melarikan diri.

Sial!! Lupakan untuk balas dendam. Lain halnya jika dia mau menangkapku!! Arghhh keparat!!

Aku terus berlari ke hutan dan masuk ke semak belukar hingga salah arah.

Seharusnya rumah pak ketua itu bukan lewat sini. Kampret!! Ini semua karena orang itu!!

Aku sudah cukup jauh berlari. Bahkan aku tidak tahu apa dia masih mengikutiku. Kuputuskan untuk bersembunyi di balik pohon besar dengan semak-semak yang lebat sekaligus mengisi ulang staminaku. Sebisa mungkin kuatur nafasku agar tak terdengar ngos-ngosan.

Waktu demi waktu terasa sangat lama, saat kurasa sudah aman, aku segera mengintip dan keluar dari persembunyian. Aku bisa bernafas lega, Ngomong-ngomong aku snagat bangga dengan kemampuanku ini, siapa sangka ternyata kemampuan lariku bisa secepat ini, biasanya saat uji tes kecepatan lari, nilaiku terlalu sangat pas, bahkan nyaris dibawah rata-rata. Seharusnya saat tes itu diadakan lagi, aku harus menyewa pembunuh bayaran palsu agar lariku bisa secepat ini.

"Halo gadis kecil.." ujar tiba-tiba seseorang dengan suara bariton menyeramkannya, sambil menepuk pundakku.

Baru saja aku menoleh ke belakang, langsung saja dia membekap mulut dan hidungku menggunakan sapu tangan putih. Bau apa ini? Baunya seakan menghipnotisku. Sial!! Ini bius! Aku harus tetap membuka mataku, kumohon mata, jangan menutup! Namun sekuat apapun aku menolak, mataku perlahan memburam. Yang kudengar darinya terakhir kali hanyalah ucapan bodoh,

"Kau harus tidur dulu, wahai Putri Dinar."

~~~~

14-4-2018

Yoo para pembaca, terimakasih sudah membaca karya pas pasan saya ini ~'|

Jangan sungkan untuk memberi kritik/saran.

Jujur, saya berharap kalian bisa meninggalkan sepatah, dua patah, tiga patah, atau sepuluh patah kalimat//plak, itu benar-benar berharga bagiku^^

Never Forget It!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang