Berita Duka

69 6 2
                                    


Hanya satu kata yang dapat mengungkapkan kemegahan dan kecanggihan kerajaan api-Wow! Secanggih apapun tekhnologi abad kedua puluh satu, tak sanggup menandinginya. Seakan manusia di sini hanya berperan sebagai pengontrol robot-robot yang mereka ciptakan.

"Mengapa kamu tercengang? Apakah kamu merasa terasing, Melly?" tanya Nancy membuyarkan lamunanku.

"Tidak. Aku hanya merasa kagum akan kemampuan rakyat negeri api yang mampu menciptakan semua ini!" seruku.

"Sebenarnya kami tidak menciptakan semua tekhnologi canggih ini. Namun, kami mencurinya," bisik Nancy, seakan malu mengatakannya.

"Maksudmu?" tanyaku terheran.

"Kami mengadopsi tekhnologi klan air. Oleh karena itu, sejak beberapa puluh tahun yang lalu, terjadi pertikaian di antara klan api dan klan air," tutur Nancy.

"Mengapa klan api tega mencuri tekhnologi mereka?"

Aku merutuki pertanyaan seharusnya tak kuucapkan. Bagaimanapun juga aku tak seharusnya ikut campur dalam hal ini.

Dia tampak tersinggung. Enggan untuk menjawab, membuatku merasa canggung.

"Putri Nancy, Raja memanggil anda. Segera!"

Salah seorang panglima kerajaan api memanggil Nancy, membuatku terselamatkan dari perasaan bersalah.

"Mengapa Ayah memanggilku?" tanya Nancy yang tampak gusar.

"Kondisi baginda raja semakin memburuk. Putri Nancy diharap menghadap raja untuk menerima wasiat darinya," tutur sang panglima.

Setetes embun bening luruh dari pelupuk mata Nancy. Membasuh pipi lembutnya yang berlesung pipit.

"Kurasa kita harus segera menghadap ayah, Melly. Sebelum semuanya terlambat!" seru Nancy seraya berlalu mendahuluiku.

Meski tak mengetahui dengan pasti peristiwa apa yang menimpa baginda raja klan api, aku tetap mengikutinya, demi satu hal -mendapat petunjuk untuk dapat kembali pulang.
~*~


Suara rintihan ayah Nancy terdengar pelan, terdengar memilukan. Nyawanya tak dapat terselamatkan lagi. Sebuah peluru telah bersarang di perutnya semenjak pertikaian dengan klan air beberapa hari yang lalu. Masa yang sulit bagi Nancy untuk melewatkan kenyataan yang ada.

Entah untuk berapa waktu berita menyedihkan ini akan berakhir. Sama halnya denganku, di luar sana juga ada seseorang yang merindukan dan menginginkan kehadiranku di sisinya.

"Kau harus sabar menghadapi cobaan ini, Putri Nancy. Bagaimanapun juga kau harus sanggup mengemban amanat yang diberikan oleh raja api padamu," kataku menenangkan perasaan Nancy.

"Aku belum siap untuk menerima semua cobaan ini, Melly. Terlebih lagi terjadi konflik antara klan api dan klan air yang dapat membuat genting kepemimpinanku," suara Nancy terdengar terisak.

"Bagaimanapun juga tak ada alasan bagimu untuk berputus asa menimpin negeri api. Di luar sana, tentara klan air pasti tengah mempersiapkan diri untuk menyerbu negeri kekuasaanmu!" ucapku menyemangati.

"Apa yang kau katakan ada benarnya, Melly. Aku tak boleh lemah, mereka dapat sewaktu-waktu meruntuhkan kerajaan api. Terlebih lagi ayahku telah meninggal," kata Nancy tegas.

"Kurasa akan semakin sulit bagiku untuk bisa pulang kembali pulang," ucapku lirih, sedikit terisak.

"Aku berjanji akan membantumu jika misiku telah usai, Melly!" kata Nancy seraya menepuk bahuku.

Aku hanya tersenyum. dalam hati aku berharap misi Nancy dapat terselesaikan agar dia dapat menepati janjinya.

~~~***~~~

Dunia Ilusi (Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang