Sisa-sisa fajar masih menyelimuti klan angin. Dedaunan terbalut embun, angin segar, dan suhu dingin hingga dapat menusuk tulang masih dapat kurasakan. Sepagi ini mataku masih membengkak karena tak dapat tidur nyenyak. Perkataan Airo semalam benar-benar membuatku frustasi. Bukan tanpa alasan, jika aku merasa marah padanya, karena secara tidak langsung tindakan cerobohnya dapat dipastikan membuatku terjebak di negeri angin selamanya.
“Melly, apa kau sudah bangun?”terdengar suara Airo dari luar kamar.
Aku melangkah gontai keluar. Kupasang ekspresi wajah semasam mungkin agar dia merasa semakin bersalah.
“Bahkan aku tak tidur sedikitpun!” kataku sengit pada Airo.
“Kenapa? Apa kau merasa kembung berada di negeri angin?” gurau Airo.
“Bercandamu sama sekali tak lucu! Apa kau ingin tahu penyebabnya? Karena kau sudah merusak segalanya! Harapan. Kebahagiaan. Dan kemungkinan aku dapat kembali ke tempat asalku,” aku mulai terisak.
“Aku tak paham kemana arah pembicaraanmu, Melly!” elak Airo.
“Aku tahu kau hanya berpura-pura. Sekarang aku berharap kau mau mengatakan yang sejujurnya. Apa kau tahu petunjuk mengenai dimana keberadaan liontin Azox itu?”
Airo menghela napas berat.
Dia menyadari kesalahannya, dan dugaannya ternyata benar, aku marah padanya. Airo memejamkan matanya, kurasa dia berusaha mengingat kejadian saat liontinnya dirampas oleh sang Guardian.
Mimik wajah Airo sulit dideskripsikan. Peluh membasuh wajah piasnya. Dia sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ingin mengusir serangkaian kisah mengerikan.
“Aku melihatmu, Melly!” bisik Airo gentar, “di masa depan kau memakai jubah zirah dan mengacungkan pedang,” suaranya semakin bergetar.
Aku mengernyit tak memahami perkataannya.
“Sementara lawanmu adalah sesosok yang tak kukenali berjubah hitam menjuntai,” lanjut Airo sebelum dia membuka kembali matanya.
“Apa kau sudah mengingat kembali petunjuknya?” tanyaku.
“Sang Guardian tak memberi petunjuk apapun kepadaku, tapi kisah dalam novel itu membuatku dapat menyangkut pautkan setiap kejadian seperti mozaik yang utuh.”
“Katakan saja apa maksudmu, jangan berbelit-belit!”
“Intinya kita harus segera mendapatkan liontin itu sebelum jatuh ke orang yang salah,” ujar Airo seraya menggaet lenganku, “persiapkan bekal dan persenjataan karena kau akan berpetualang kembali.”
Aku mengangguk mantap. Kali ini aku mempercayainya, karena dia berbicara serius. Aku segera masuk ke dalam kamar dan mengemasi keperluanku.
Hanya cukup dengan menekan tombol tertentu pada layar transparan di pergelangan tanganku, segela keperluanku segera terkemas rapi dalam koper. Pakaian, aneka snack, kacamata bergagang senjata api mungil, pena penyadap, dan laser tembus pandang. Semua senjata canggih itu kudapat dari Airo yang didapatnya dari petualangan jauhnya menggembara seluruh penjuru negeri Angin.
“Kau sudah siap?” tanya Airo memastikan.
“Aku sudah terlampau siap untuk melakukannya! Ngomong-ngomong kita akan pergi kemana?”
“Labirin stoneline. Disanalah kita akan bertarung, eh maksudku kamu.”
“Apa?!”
~Nb.
Maaf author baru update, huhu :'(
Maklum akhir-akhir ini lagi (sok) sibuk :-*
Salam hangat,
Author.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dunia Ilusi (Hiatus)
FantasyMelly namanya. Seperti kebayakan remaja lainnya, dia belum mengenal jati dirinya yang sesungguhnya. Berawal dari kegemarannya membaca buku di perpustakaan kota, dia "diharuskan" berpetualang megunjugi klan tetangga. Perdamaian keempat klan dipertaru...
