Misi Telah Tercapai

13 5 0
                                        

Negeri Klan air, tepat dini hari...

Setelah berdamai, Nancy beranjangsana ke Negeri klan air bersama Lucy dan juga aku.

“Maafkan aku, Putri Nancy. Aku sebenarnya tak bermaksud menghianatimu,” ucapku lirih pada Nancy.

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Seharusnya kami yang harus berterima kasih padamu karena telah mendamaikan kami.”

Aku mengeluarkan novel dari buntalan kain putih. Meletakkannya di atas meja.

“Bukankah seharusnya novel itu sudah menjadi abu?” tanya Nancy tak percaya.

“Kau tidak tahu jika novel ini memiliki keunikan. Benda ini tak akan hancur meski di bakar di bara api paling panas sekalipun. Karena pada bagian covernya berlapis semacam uap air,” kataku menerangkan pada Nancy.

Aku membuka halaman yang terlipat. Kurang beberapa halaman lagi bagiku untuk menamatkan novel yang kini dalam genggaman tanganku.

Seseorang yang telah mendamaikan klan air dan klan api harus mendapatkan hadiah sebagai imbalan berupa liontin milik kedua klan sebelum ia kembali ke dunianya.
Aku menatap wajah Nancy dan Lucy secara bergantian. Aku memang menginginkan liontin milik mereka, tetapi aku mendamaikan mereka tanpa mengharap imbalan.

“Terimalah liontin milik kami, Melly. Kau pantas mendapatkannya!”

“Tapi aku membantu kalian tanpa pamrih.”

“Bukankah alur cerita dalam novel itu mengatakan bahwa kau harus mendapatkan liontin klan kami agar dapat pulang?” kata Lucy.

“Lagipula, liontin ini tak lebih berharga dari perdamaian yang kau berikan pada kami, Melly.” Imbuh Nancy.

Aku menerima liontin dalam genggaman tangan Putri Lucy.

Setelah mendapatkan liontin leluhur milik kedua klan, seseorang yang mendamaikan klan air dan klan api harus memejamkan mata dan membayangkan perjalanan yang akan ia tempuh.

Aku segera menutup novel itu. Mengucapkan selamat tinggal pada mereka sebelum akhirnya memejamkan mata.

“Tunggu dulu! apa Kau yakin tak ingin mengetahui akhir dari kisah dalam novel ini, Melly?”

“Sudah jelas diterangkan, bahwa aku dapat pulang hanya dengan memejamkan mata dan membayangkan perjalanan pulangku berjalan lancar.”

“Baiklah jika itu keinginanmu, Melly! Senang bertemu denganmu,” seru mereka berdua hampir bersamaan seraya melambaikan tangan ke arahku.

Aku memejamkan mata dan tiba-tiba tubuhku serasa tertarik oleh kekuatan tak kasat mata melalui sebuah lorong.

Tatkala aku merasakan tubuhku tak lagi bergerak, aku membuka mata dan merasakan sesuatu yang janggal. Tubuhku diterpa angin yang berhembus dengan kencang. Tak ada tumpukan buku dan meja baca, seperti di tempat yang kuharapkan–perpustakaan kota.

Aku berada di negeri yang asing dengan angin kencang tak hentinya menerpa wajahku.
Di negeri air, Putri Lucy dan Putri nancy menekuri novel di hadapannya.

Setelah mendapatkan kedua liontin, seseorang yang mendamaikan kedua klan tidak dapat kembali ke dunianya kecuali mendapatkan liontin yang ketiga, milik klan angin.

TAMAT

“Apa? Kini Melly berada di negeri angin?” pekik Lucy panik.

“Bagaimanapun juga Melly harus berusaha mendapatkan liontin itu jika ingin pulang,” kata Nancy.

Di ujung lain negeri klan air –tepatnya di negeri klan angin- Melly berputus asa, sebelum akhirnya bertemu dengan malaikat penolongnya.

Dunia Ilusi (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang