Bab III : I Miss You

5.9K 493 9
                                        

Pemuda tampan itu menghela napas kasar, sesekali sepasang hazel hitam pekatnya melirik arlojinya. Pemuda ini menyesap latte kesukaannya, lalu ia mengalihkan arah pandangnya sejenak. Jimin menatap jalanan kota Seoul, yang tengah diguyur hujan saat ini. Dan sekarang, ia harus terjebak di kafe karena ia lupa membawa payung. Bodohnya, ia tadi menolak tawaran Hyeri untuk meminjamkan mobil padanya.

Pemuda tampan itu tersenyum tipis, manakala ia memandang langit yang telah menghitam. Sekelebat, bayangan sosok cantik yang telah ia kecewakan kembali hadir di otaknya. Sosok yang telah ia tinggalkan, karena keegoisannya sendiri. Sosok cantik yang telah ia kecewakan, juga sosok yang telah ia hancurkan mimpi dan masa depannya.

"Bagaimana kabarmu?" lirih Jimin. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, seraya memejamkan sepasang kelopak matanya. Bayang-bayang sosok cantik, yang pernah menangis di hadapannya kembali berputar di kepalanya. "Juga, bagaimana dengan keadaan kandunganmu? Apakah kau mempertahankannya?" tanyanya lagi.

Tidak sengaja, sepasang hazel kelam pemuda ini menangkap sebuah objek yang menarik. Jimin melihat seorang pemuda yang mengenakan seragam, berlari menghampiri seorang gadis di halte. Gadis itu tertawa, manakala pemuda itu mengacak-acak rambut panjangnya dengan gemas.

Tanpa disadarinya, kedua sudut bibir Jimin tertarik. Membentuk senyuman manis di wajahnya yang rupawan itu. Sepasang matanya masih melihat dan memperhatikan sepasang kekasih, yang tengah berteduh di halte.

"Sepertinya, kau memang harus segera mencari pasangan."

Suara berat yang terkesan datar dan tak acuh itu mengudara, mengalun di indera pendengaran Jimin. Pemuda tampan itu mendengus, kemudian ia mengalihkan arah pandangnya. Jimin menatap sosok lain, yang duduk di depannya. Sosok pemuda berpakaian kemeja rapi itu tersenyum, manakala melihat tatapan Jimin yang semakin menajam.

"Tolong berkacalah, Hyung!" Jimin berargumen. Mengeluarkan sindiran halusnya pada sosok pemuda tampan, yang kini tertawa lepas di depannya.

"Kapan kau pulang, Jim?" tanya sosok lain itu. Pemuda itu mengangkat sebelah lengannya, memanggilkan seorang pelayan. "Kupikir kau nyaman berada di Rusia, hingga kau akan menetap di sana."

"Tidak," sahut Jimin. Pemuda tampan ini menghela nafasnya, seraya jarinya mengelus pinggiran cangkir miliknya. Ia menghela napas, matanya pun menerawang. "Semakin lama aku di Rusia, rasa bersalahku akan semakin bertambah. Aku lelah dihantui oleh penyesalanku sendiri," ujar Jimin.

"Penyesalan?" tanya Yoongi. Lelaki ini tersenyum tipis, manakala pesanan miliknya telah dihidangkan di meja. Ia menyesap kopinya, memerhatikan wajah rupawan saudara tirinya itu. Ia masih menanti, menanti lanjutan dari ucapan Jimin yang menyiratkan banyak makna yang tersembunyi di sana.

"Kekasihku," kata Jimin. Pemuda ini tersenyum miris, manakala sesosok pujaan hatinya kembali melintas di otaknya. "Aku meninggalkannya, kala ia berada dalam kondisi sulit. Aku pergi ke Rusia, melarikan diri seperti seorang pengecut."

"Pantas saja," ujar Yoongi. Pemuda ini menyesap kopinya, kemudian ia menatap Jimin lekat. Ia mengangguk paham, ia mengerti perasaan pemuda di hadapannya ini. "Apakah itu yang menjadi penyebab kau tidak pernah berkencan dengan gadis manapun?" tanya Yoongi.

"Begitulah," ujar Jimin. Pemuda ini mengendikkan bahunya, kembali lagi ia menyesap lattenya. Senyumannya kembali muncul, manakala teringat sosok cantik itu tersenyum. "Dia cinta pertamaku, Hyung. Sulit untuk melupakannya begitu saja. Terlebih-lebih, aku melakukan sesuatu yang membuatnya hancur."

"Lalu, kau sendiri, Hyung?" tanya Jimin. Pemuda rupawan ini segera mengalihkan pembicaraan, manakala ia hampir menjatuhkan air matanya di depan Yoongi. Sosok tampan yang berprofesi sebagai dokter itu tidak menyahut, hanya mengerutkan keningnya. "Apakah kau sudah punya kekasih? Atau setidaknya kau punya gadis yang kau suka?" tanya Jimin lagi.

Accident [Lengkap]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang