Terimakasih, Ayah.
-Aku-
Amarah Dari Ayah
Ayah
Aku tau kau lelah
Wajahmu yang terlihat gelisah
Membuatku semakin melemah
Seakan sudah pasrah
Ayah
Tempat ini bukan lagi rumah
Hanyalah seperti hutan tengah
Yang senantiasa membuatku kalah
Ayah
Kumohon berhentilah
Bisakah?
Rasa ini terus menelaah
Setiap fajar terbit aku terlelah
Menantikan do'aku agar lillah
Ayah
Dilangit Amerika bulan sudah terbelah
Dibumi Palestina bercucuran darah
Ditanah Israel bersorak goyah
Tapi mengapa disini serasa memotong lidah
Ayah
Bagaikan kaca yang sudah pecah
Kayu yang sudah patah
Hati ini teriris sudah
Melihatmu yang berubah
Karena suatu beban masalah
Ayah
Ketika senja luluh lantah
Bentakanmu sungguh indah
Membuat pipi ini kembali basah
Dan kau hanya berkata "biarlah"
Ayah
Jika memang kau mempunyai pilihan, pilihlah
Aku yang pergi dari rumah megah
Atau kau yang harus mencoba berubah
Demikian pula denganku yang kurasa sudah menyerah
Karena tak tahan oleh amarah
Ayah
Tugasmu kini usailah
Fatamorgana yang kini kupilah
Semoga kau tenang disana, berbahagialah
Kututup MacBook ku asal. Aku mengetiknya dengan dada gemuruh. Perasaan ini sekan tak bisa lagi aku pendam sendirian. Bagaimanapun juga ia adalah satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku.
Setelah ibu berpulang ke rumahNya, Ayah berubah. Tak lagi lembut nan ramah seperti dulu kala. Kadang aku berfikir,apakah aku dibutuhkan disini? Setiap kali berpapasan dengannya tak ada lagi tegur sapa. Setiap kali aku hendak beristirahat bentakan itu kembali terdengar keseluruh penjuru rumah.
Bahkan bulan ini, Ayah sudah memecat 5 pelayan sekaligus. Entah kesalahan apa yang mereka lakukan sehingga Ayah begitu marah.
Ayah selalu menyalahkan dirinya sendiri. Yang membuat aku tak mengerti. Ketika aku bertanya,ia pasti menjawab dengan nada tak menyenangkan. Dan selalu berkata,
"Diamlah kau anak kecil!"
Ayah, aku sudah beranjak remaja. Aku bukan lagi anak kecil yang sesuka hati kau acuhkan. Aku memiliki perasaan. Bagaimanapun aku tetap menyayangimu. Saranghamnida, Appa....
(Aku sungguh mencintaimu, Ayah)
Ketika berkumpul dengan teman-temanku,mereka terus membanggakan ayahnya. Lantas? Apa yang harus aku banggakan darinya? Tapi, tidak. Aku tetap berkata bahwa Ayahku adalah seseorang yang sangat sangat baik.Setidaknya,sebelum Ibu tiada.
Jika bisa aku memutar kembali waktu, jika bisa aku kembali ke masa lalu. Yang aku inginkan adalah ikut bersama Ibu dan bahagia di Surga. Bukan di rumah megah ini yang aku rasa seperti Neraka.
Tangan mungilku mengambil sesuatu yang terpajang rapi diatas nakas. Benda pipih berbentuk persegi panjang,yang mempunyai frame berwarna hitam membuat air mataku kembali mengalir. Bahuku bergetar hebat. Mungkin, isakan kecilku terdengar begitu menyakitkan.
Foto yang berisikan seorang lelaki bertubuh tegap, hidung mancung,berkulit sawo matang, berlesung pipi, yang sedang menggendong seorang anak balita yang dikucir kuda. Juga seorang perempuan yang terseyum lebar,berambut sebahu yang mengusap rambut anak balita mereka.
Kini, keduanya sudah tiada. Kepergian Ibu dua tahun yang lalu, kian disusul Ayah yang kemarin sudah dikebumikan. Keduanya sudah hilang. Rumah megah ini terasa sunyi.
Setiap kali aku menapakkan kaki disini, bayangan masa lalu selalu muncul di angan-anganku. Masa kecilku yang sungguh bahagia.
Bersama Ayah, Ibu...
Namun sekarang semuanya sirna. Tidak ada lagi bentakan yang kudengar ketika senja tenggelam. Bukankah aku bisa hidup tenang sekarang? Tidak. Justru aku merindukan kedua orang tuaku.
Yang bisa aku lakukan hanyalah berbisik pada bumi dan langit agar orang tuaku diberi tempat terindah disana, dan dipertemukan kembali.
Ayah, Ibu.. Berbahagialah disana. Pantau aku diatas sana. Lihat anakmu disetiap waktu.
Ayah, sekarang aku mengerti amarahmu. Aku mengerti maksud dari bentakanmu. Maaf, Ayah. Aku bukanlah seorang anak yang baik. Terimakasih, sudah merawatku semenjak Ibu tiada.
Ayah, semoga amarahmu menjadi lillah. Do'amu dikabulkan Sang Pencipta. Semoga dirimu tenang dan damai disana.
Sampaikan salamku pada Ibu. Sampaikan padanya aku ingin bertemu. Sampaikan pula padanya, aku tumbuh persis sepertinya.
Ayah, kini sudah usai beban hidupmu. Kau bisa tenang disana. Do'aku selalu menyertaimu...
Saranghae, Appa. Gamsahamnida.Bogosipeoyo,annyeongi......
(Aku mencintaimu,Ayah. Terimakasih. Aku merindukanmu, Selamat tinggal)
Tertanda, Aku.
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Day2
2 Ramadhan 1439H
YOU ARE READING
Kata ✔
RandomEnjoy reading this!! Juseyo~ Start : 1 Ramadhan 1439H Finish : 1 Syawal 1439H
