Flashback Jola

233 94 143
                                    

                   Happy Reading

Note: masih butuh saran yang membangun ya.
.

Awalnya, Jola sama seperti anak kecil lainnya, pernah mencicipi hangatnya kasih sayang orangtua. Disayang, dimanja dan selalu Menjadi yang utama. Tapi, itu dulu. Saat kedua orang orangtuanya masih merasakan cinta semanis coklat.

Seiring berjalannya waktu rasa itu berubah, cinta bukan lagi prioritas.

Pernikahan yang manis dan didasari cinta itu pun mulai runtuh. Perselisihan diantara mereka kerap terjadi. masalah kecil menjadi besar dan masalah besar semakin besar. Tama, sang ayah tidak terima di katakan tidak mampu membahagiakan keluarganya, karena dia hanya karyawan biasa di tempatnya bekerja. Sementara Hinaya, merasa hidupnya seperti pembantu yang harus mengurus suami, anak dan rumah tangga yang hanya itu-itu saja, mulai membuatnya bosan. Monoton.

Masalah itulah yang mengantar mereka ke pintu pengadilan dan berakhir dengan satu ketukan palu yaitu bercerai.

"Apa Papi akan pergi?" tanya Jola, saat melihat ayahnya memasukkan beberapa pakaian kedalam koper kecil. Tama menghentikan aktivitasnya dan menghela napas panjang. Sejujurnya ini sangat berat baginya. Meninggalkan putrinya yang masih lima tahun dan sangat membutuhkannya.

"Iya, Papi akan pergi sayang," jawabnya tak berani menatap Jola yang tengah berdiri di pintu kamar.

"Papi, perginya jangan lama-lama. Jola suka kangen," Mendengar suara polos itu Tama menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit di dalam hatinya. Menyadari anak itu sudah menjadi korban keegoisan mereka.

"Sayang, Papi akan sering menelponmu, ya." pria itu memeluk Jola dengan erat. Air matanya tumpah membasahi baju putrinya itu.

"Dengar, Papi akan lama pulangnya, tapi jangan khawatir Papi akan sering menelpon. Supaya rasa kangen Jola ama Papi terobati. Mmm ..., Kali ini Papi akan pergi jauh."

"Bukan karena bertengkar sama Mami kan?" tanya Jola, merobek luka dalam Tama. Ia sungguh tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Jola terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa.

"Tentu tidak, Papi dan Mami baik-baik saja." Ucap Tama berbohong.

Jola mengangguk dan turut mengantar ayahnya ke depan rumah juga melambaikan tagannya saat taksi yang membawa Tama menghilang dari pandanganya.

Hari berganti menjadi bulan dan tahun mulai berakhir membuat Jola mulai menyadari kalau keluarga yang ia miliki tak lagi utuh. Ayahnya menghilang tanpa kabar sementara Hinaya lebih sering menghabiskan waktunya di luar dengan alasan bekerja demi masa depan Jola.

Sampai suatu hari ia mendengar pembicaraan antara Oma-nya dan Hinaya di ruang tamu.

"Kau yakin akan menikah denganya?" tanya Oma-nya yang sengaja datang bertandang.

"Iya, aku rasa dia pria yang cocok menjadi ayah untuk Jola," Jawab Hinaya sambil memainkan ponselnya.

"Lalu bagaimana dengan Jola, kapan kamu akan membicarakan rencanamu ini?" Hinaya menghela napas panjang.

"Secepatnya. Aku harap dia bisa mengerti."

"Lalu, bagaimana dengan Papi?" suara itu membuat Hinaya dan Oma-nya kaget. Kehadiran Jola yang mendadak seperti anak panah yang tepat sasaran. Mereka berdua saling bertatapan. Bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Jola yang begitu mendadak.

"Peluk dulu dong Oma, sayang. Datang-datang masa langsung nanya yang aneh-aneh sih." Oma-nya mengalihkan perhatian Jola, Hinaya tersenyum canggung. Sementara Jola masih menatap Hinaya tanpa menghiraukan Oma-nya yang sudah berdiri dan membuka kedua tangannya lebar. Berharap gadis kecil itu menghambur ke pelukannya seperti biasa jika dia datang berkunjung.

WALI KELAS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang