Lamaran Tak Terduga
Aldiantara benar-benar tidak bisa tidur terlelap malam ini. Dia terus menerus membenarkan posisi tidurnya agar nyaman namun dia tak kunjung menemukan posisi ternyamannya. Dia menghela napas dalam dan menoleh ke arah jam dinding yang menampilkan pukul dua dini hari, padahal dia baru tidur pukul setengah dua belas. Dia bangkit dari tidurnya dan memilih untuk mencuci wajahnya.
"Mungkin menceritakan keluh kesahku pada sang Pencipta membuat tenang."
Setelah itu dia pun melaksanakan rutinitas malamnya untuk mengadu keresahan batinnya. Sudah beberapa bulan ini dia dekat dengan Aeri. Komunikasi mereka semakin intens setiap harinya. Dan kedekatan mereka pun semakin dekat hingga Aldiantara berani memutuskan bahwa dialah landasan terakhir baginya.
Setiap kali melihat Aeri, desir aneh menghantam sisi hatinya. Debaran manis di hati Aldiantara membuatnya semakin ingin tahu, tentang kehidupan gadis itu, apa yang dilakukannya saat sendirian, apakah gadis itu senang atau sedih menghadapi hari-harinya? Satu hal yang diketahui betul oleh Aldiantara bahwa setiap membicarakan sastra, suara gadis itu terdengar begitu antusias membuat senandung indah yang terdengar manis di telinga Aldiantara.
Degub singkat kembali memukul dada Aldiantara mengingat pertemuan kembali di Bandara. Pria itu senantiasa memperhatikan Aeri sejak menyeret kopernya sampai pada akhirnya terjadi insiden yang membuat Aldiantara bertegur sapa dengannya bahkan dengan keluarganya sampai saat ini.
...
Terlihat Aldiantara sedang menyusun strategi dengan sangat hati-hati. Bukan untuk mempelajari cuaca hari ini bukan pula untuk mempelajari radar suatu penerbangan. Ini menyangkut masalah hati, menyangkut dua perasaan anak manusia untuk menapaki masa depan.
"Crosscheck lagi!" ucap Aldiantara memerintah pada para sahabatnya.
"Sudah beres semua tinggal menunggu calon kamu aja," ucap Devan santai.
"All Call!" Perintah Aldiantara lagi.
"Astagfirullah ini anak masih saja pakai bahasa terbang," keluh Rifki.
"Semua sudah siap. Cincin, bunga, balon. Tinggal menunggu kesiapan mental kamu aja," ucap Hanafi.
"Kalau masalah mental aku siap, aku bukan lagi anak kecil Hanafi," ucap Aldiantara.
"Kamu yang lagi melamar anak orang kok aku yang deg-degan ya?" ucap Hanafi.
"Deg-deg'an kenapa?" tanya Devan.
"Deg - deg'an, takut kalau kapten Azka di tolak."
Semua teman- teman Aldiantara yang berada di sana tertawa kecuali Aldiatara dari tadi mukanya tegang, ditambah celetukkan Hanafi yang unfaedah membuatnya semakin tegang.
"Kasihan Azka, ya sudah semua ready di tempat masing-masing awak kabin juga. Ini waktunya pesawat yang dari Korea sudah mulai landing beberapa menit lagi," ucap Rifki.
Setelah pesawat yang Aeri tumpangi landing di bandara. Aeri dan kedua sahabatnya keluar dari pesawat. Dia memakai baju kaos lengan panjang dengan tatanan rambut dicepol.
Aeri menghirup udara bandara dengan senang. Bandara adalah salah satu tempat favoritnya. Di sini adalah tempatnya membangun citanya dan cintanya yang terlaksana. Dari bertolak bandara Incheon, perasaan aneh tengah menyelimuti hati Aeri, perasaan yang membuat jantungnya berdebar, perasaan yang membuat hatinya tidak tenang.
"Apa akan terjadi sesuatu?" gumam Aeri.
Dirinya memejamkan matanya dan menghirup aroma bandara sekali lagi, hingga dia tersentak kaget saat sebuah tangan memegang pundaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Albi ( My pilot )
Fiksi UmumSeorang gadis yang berumur 27 tahun belum mengenal cinta namun dia memiliki impian kelak akan berdampingan dengan seorang Pilot.
