Turbulensi Hati
"Aku siap-siap mau kerja dulu ya, Bi."
"Hati-hati. Jangan ugal-ugalan bawa pesawatnya."
Tidak butuh waktu lama untuk menerima balasan pesan dari Aeri. Aldiantara tersenyum tipis membaca balasan pesan itu.
Perlahan hubungan mereka saling terbuka. Menceritakan kisah mereka, keluarga mereka dan perisiapan pernikahan mereka. Aldiantara menyimpan ponselnya dan langsung mengecek pesawat yang akan dia kemudikan.
"Semuanya sudah oke?" Tanya Aldiantara pada mekanik yang mengecek keadaan pesawat.
Sudah setengah jam lebih dia memeriksa bagian roda pesawat dan itu jauh lebih lama dari biasanya.
"Tinggal beberapa menit lagi."
Aldiantara tahu bekerja diburu-buru itu tidak baik namun peraturan itu tidak berlaku pada pekerjaannya dan ahli mekanik. Mereka bekerja diburu-buru waktu. Desakan waktu sudah menjadi makanan sehari-hari.
Aldiantara meninggalkan si mekanik yang masih memeriksa manual miliknya dan menuju kokpit. Dia bersiap-siap di sana.
"Kapten, semua sudah ready!"
Pekerjaan Aldiantara mempunyai risiko tinggi dan tanggung jawab besar. Setiap kali dia akan bekerja, dia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Seperti biasa, Aldiantara berkirim ke semua keluarganya dan mengatakan bahwa dia menyayangi mereka semua. Setelah dirasa semua sudah siap, Pesawat dengan perlahan menanjak naik ke udara meninggalkan tanah lapang.
Mata elangnya fokus dan tangannya tengah lihai memegang kemudi si burung besi. Burung besi itu perlahan turun, di dalam kokpit tidak ada sepatah kata yang terucap untuk sekadar mengobol hanya ada suara radio yang terdengar. Posisi pesawat saat ini berada pada ketinggian 10.000 feet dari permukaan laut. Dengan lihai jari- jarinya menekan tombol - tombol yang berada di depannya.
"Flight attendants , 10 minutes to land."
"Cabin ready for landing," terdengar balasan dari kru kabin.
Sebuah angka terpampang di ujung landasan pacu bandara. Runway, tempat di mana pesawat mengambil ancang-ancang untuk take off dan landing.
"Flight attandent, on station secured for landing," balas kapten Azka setelah dia melihat jelas angka di ujung landasan.
"Final approach, 50, 40, 30, 20, 10."
Terlihat pesawat dengan cepat namun sangat hati-hati touch down menyentuh runway. Getaran terasa menandakan pesawat sudah mendarat dengan selamat. Aldiantara tersenyum saat roda pesawatnya menapaki jalan landas pacu.
"Good landing captain Azka," puji kopilot Devan sambil menampilkan jari jempolnya.
"Thank."
Aldiantara kini dapat bernapas lega setelah beberapa menit harus berkonsentrasi penuh. Pesawat taxi ke parking gate hingga burung besi itu terparkir apik dan mesin dimatikan. Aldiantara memberi pengumuman untuk awak kabin.
"Flight Attendant, disarm slide and crosscheek."
"Ayo capt!"
"Iya."
Aldiantara menyahuti dan dia langsung memegang ponselnya, menghilangkan mode pesawat di layar datar yang sudah beberapa hari ini tidak terjamah. Di sana menampilkan fotonya yang berseragam sebagai wallpapernya.
Beberapa menit banyak pesan yang masuk namun tidak ada satupun yang berasal dari Aeri. Beberapa awak kabin keluar dari pesawat. Kapten Azka dan kopilot Devan harus breefing terlebih dahulu sebelum off. Dan hari ini mereka Ron di negara tetangga. Maskapai penerbangan mereka sudah menyiapkan hotel untuk awak para kru beristirahat.
Masih dengan seragam pilotnya Aldiantara duduk dikursi kamar hotelnya. Berkali-kali dia melihat layar ponselnya berharap ada sebuah pesan singkat dari Aeri. Dia terkesiap saat mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya karena ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Masuk!"
"Azka, kamu harus lihat postingan temannya Aeri,"ucap Devan dengan heboh.
"Kenapa?"
"Lihat aja dulu!" ucap Devan, dia pun menyerahkan ponselnya pada Aldiantara.
"Ini kan foto..."
"Yup, benar sekali. Kamu lihat dia pegang apa, bunga dan aku yakin bunga itu bukan dari kamu. Kamu nggak cemburu?"
"Kata Dilan cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri."
"Jadi?'
"Saat ini aku sedang percaya diri kalau dia itu memang diciptakan untuk aku. Mungkin itu bunga dari pasiennya. Sudah pergi sana. Aku mau mandi dulu."
Aldiantarapun pergi ke kamar mandi. Jauh di dasar hatinya terselip rasa cemburu dan rasa takut jika Aeri berpaling darinya secara dirinya tidak bisa selalu di sampingnya.
...
Aldiantara sedang berjalan di tengah malam bersama Devan di jalanan kota, sepanjang mata memandang menyuguhkan toko-toko baju bermerek.
"Kapten Azka!" Teriak seorang wanita cantik dengan tinggi semampai.
"Sisil."
"Kapten sedang apa di sini?"
"Beli oleh-oleh untuk orang rumah," ucap Devan.
"Aku bertanya sama kapten Azka kok yang jawab mas Devan sih."
"Kapten Azka nggak ke club? Aku dengar di daerah deket sini ada tempat hiburan malam yang baru di buka," ucap sisil antusias.
"Nggak," jawab Aldiantara tanpa minat.
"Ayolah kapten kita senang-senang. Nggak capek apa terbang mulu sekali-kali cari hiburan," ucap sisil yang dengan centilnya memeluk lengan Aldiantara.
"Aku harus pergi," ucap Aldiantara yang langsung pergi setelah berhasil melepas pelukan sisil.
Sisil hanya melihat punggung yang dingin dengan sedih.
"Gila tuh cewek, masih ngejar-ngejar kamu. Kamu nggak tertarik sama dia?"
"Nggak! Aku tertariknya sama Aeri."
"Ck.....dulu aja cewek gonta-ganti sekarang sok-sok'an."
"Jangan bahas yang dulu bahas aja sekarang, bingung nih mau belanja apaan buat calon istri."
***
Hujan gerimis dengan rapi turun dari langit membasahi landasan pacu bandara Internasional. Langit yang semula cerah kini berubah menjadi mendung.
"Kapten Azka." Devan merasa aneh dengan sikap Azka yang aneh.
"Kopilot Devan, coba hubungi pihak atc karena sepertinya ada yang aneh. Pihak atc terus berkata bahwa cuaca di depan sangatlah cerah namun di radar sepertinya akan ada badai besar."
"Siap kapten."
Kilatan petir terus menyambar pesawat yang di awaki kapten Azka. Meskipun jarak antara Singapura dan Jakarta dekat. Namun salah saja perhitungan bisa berakibat fatal karena itu fokus dan bersikap kehati-hatian sangat diperlukan.
"Selamat pagi para penumpang dengan nomor penerbangan GA-213, dimohon untuk mengencangkan sabuk pengaman anda untuk mengatur posisi tempat duduk anda untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama penerbangan ini kami perwakilan Garuda Jaya Indonesia mengucapkan terima kasih karena telah memilih maskapai kami sebagai teman perjalanan anda. Kapten Azka dan Co-pilot Devan mengucapkan, Terimakasih."
Setelah mendengar pengumuman dari co-pilot, salah satu awak kabin langsung masuk dalam kokpit.
"Kapten, ada apa?" tanya Hanafi.
"Kita akan mengalami sedikit turbulensi, Hanafi segera kembali ke tempatmu!"
"Baik kapten."
"Kapten di depan," ujar Devan setelah itu terjadi goncangan.
"Hubungi pihak atc!"perintah kapten Azka.
"Capt, sepertinya mesin pesawat nomor dua sudah mati."
"Mayday! Mayday! Mayday!" dengan nada tegas dan tinggi suara kapten Azka jelas di sana agar terekam dalam kotak hitam, landasan telah terlihat di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Albi ( My pilot )
Genel KurguSeorang gadis yang berumur 27 tahun belum mengenal cinta namun dia memiliki impian kelak akan berdampingan dengan seorang Pilot.
