8 : holiday or holy work?

4.8K 232 6
                                        

Pagi ini seperti pagi biasanya. Aku berangkat sekolah pukul 06:30 dengan seragam putih-abu ku. Ini sudah penghujung semester, dan sudah pasti ini adalah masa-masa termalas untuk berangkat sekolah. Kami datang biasanya hanya untuk absen dan bertemu teman-teman. Dan kadang juga kami pulang cepat. Itulah mengapa kami kadang malas masuk sekolah untuk sekedar mengisi absen.

Aku pergi ke sekolah dengan angkutan umum. Selain karena aku tidak punya kendaraan pribadi, akupun sebenarnya tidak bisa mengendarai kendaraan selain sepeda.

Di dalam bus tanpa sengaja aku bertemu dan duduk bersampingan dengan teman sekolahku----Anisa. Setahuku dia memang pergi dan pulang naik kendaraan umum sepertiku. Kami juga searah, jadi ini bukan pertama kalinya kami bertemu.

"Eh, Aless" ucap Anisa berbasa-basi. Aku membalasnya dengan senyum. Fyi, aku bukan orang yang suka basa-basi. Gak bisa juga sih.

"Oh, ya, Al. Liburan nanti mau kemana?" Tanya Anisa sesaat setelah aku duduk.

Aku menoleh kearahnya, "eh," tak tahu harus menjawab apa, aku jadi kepikiran tentang pekerjaan baruku. "Gak kemana-mana" dan itulah yang akhirnya kujawab. Tidak mungkin aku bilang "aku mau kerja, Nis".

"Ooh, kalo gitu ikut gue aja ke Villa nya Benny. Banyak loh yang ikut" tutur Anisa dengan semangat.

"Emang nanti pada mau liburan disana?" Tanyaku----sebenarnya cuma basa basi sebelum menolak. Baiklah, untuk hal yang mepet seperti ini biasanya ilmu basa-basiku baru kukeluarkan.

"Iya, kita ngerayain tahun baru disana. Kalo gak salah di kelas lu yang ikut ada Tiara, Amel, Chika, Deki, Arnold, Niko, terus siapa lagi ya......banyak deh" jawab Anisa. Aku mendengarkan dengan baik, sambil berpikir keras mencari kata penolakan halus.

"Hm....nanti aku kasih tau lagi ya. Gak janji, takut ada acara dadakan" balasku kemudian ia mengangguk dan suasana hening setelahnya.

Ya, lebih baik begini.

- - -

"Udah jelas pengumumannya?" Tanya Pak. Agung setelah selesai berbicara panjang tentang liburan akhir tahun.

"Besok harus sama orang tua, Pak?" Kemudian salah satu temanku bertanya padanya sambil mengacungkan tangan.

"Iya dong, Tio. Namanya juga ambil rapot. Emangnya orang tua kamu ada halangan?" Sahut Pak. Agung.

"Engga sih, Pak. Tapi saya takut dimarahin kalo nilai saya jelek" jawab Tio dengan wajahnya yang dibuat murung.

Seketika suasana yang hening pecah dengan gelak tawa kami. "Yah, makanya jangan jelek" ujar Pak. Agung setelah tawanya mereda.

"Kan bapak yang ngasih nilai" kata Tio kemudian.

"Ya makanya kamu belajar yang bener supaya saya kasih nilai bagus"

Setelah itu tak ada lagi yang menjawab dan Pak. Agung pun pamit untuk kembali melanjutkan tugasnya untuk menyampaikan pengumuman tentang libur akhir tahun.

Sarah yang ada disampingku kemudian menoel pundakku dan akupun menoleh padanya.

"Berarti kamu bisa fokus kerja dong, Al" ucap Sarah berbisik. Ah, untung anak ini kini tidak berteriak mengatakan itu.

Aku tersenyum kecut kearahnya, "kayaknya" jawabku.

Tapi aku masih kepikiran ajakan Anisa tadi. Sebenarnya aku mau banget ikut liburan sama mereka. Tapi apa daya, aku kan bukan orang kaya seperti mereka yang bisa pergi kemana saja seperti keinginan mereka.

BabysitterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang