"Sudah, mau bagaimana lagi? Kamu sudah di tolak taksi 2 kali. Ikut saja sama Rama. Atau kalau memang kamu tidak mau diantar sampai rumah, setidaknya sampai ke tempat yang mudah didapat oleh taksi."
Aku masih berpikir apakah sebaiknya aku ikut dengannya? Atau tetap menunggu taksi yang kupesan? Sebenarnya aku sudah mulai gelisah saat taksi ketiga yang kupesan baru-baru saja membatalkan pesananku sepihak.
"Sudahlah, aku menunggu saja. Kamu pergi saja duluan." Ucapku pada Dilan, lalu menoleh ke Rama "kamu juga Rama, tidak usah menungguku. Aku akan baik-baik saja."
Sedikit cerita mengenai Rama, dia adalah mantan kekasihku. Aku baru saja putus sekitar dua bulan yang lalu, aku yang meminta, dengan alasan ingin hijrah.
"Reva, ini sudah hampir malam. Ikut saja sama Rama, lagian kau tidak akan berduaan dengannya. Ada Dina juga kan." Lanjut Wina, kekasih Dilan.
"Tidak usah, kubilang kalian pergi saja. Tidak usah mengkhawatirkanku." Kataku lagi, padahal aku sudah benar-benar gelisah. Kali ini pesananku tidak ada yang menerimanya. Namun, setelah Dilan meminta untuk melihat ponselku, akhirnya pesananku berhasil diterima oleh salah satu driver.
"Mau apa? Ini sebentar lagi juga sampai kok. Pulanglah."
"Tidak! Kami akan menunggu sampai kamu benar-benar masuk ke dalam taksi."
Sebuah nomor tak di kenal tertera di layar ponselku, terduga itu adalah nomor driver yang akan menjemputku.
"Dilan, bicaralah, aku tidak mengerti." Aku lalu memberi ponselku pada Dilan dan selanjutnya yang kudengar Dilan meminta driver itu untuk menunggu di sebuah tempat saja yang sudah agak dekat dengan posisi kami.
"Reva, kamu ikut sama Rama yah ke depan? Aku meminta taksimu menunggu di sana. Terlalu sulit untuk posisi kita ditemukan." Aku hanya menghela napas. Mau bagaimana lagi?
Aku sudah berada di belakang kursi yang sedang diduduki oleh Dina, yang digosipi sedang dekat dengan Rama. Kuingatkan sekali lagi, Rama adalah mantan kekasihku. Suasananya canggung sekali. Bayangkan saja, dulu kaulah yang duduk di sampingnya. Namun, sekarang? Kau malah duduk di belakang gebetan mantanmu. Menyakitkan bukan?
Hanya itu sebenarnya alasan kenapa aku kekeuh tidak mau diantar oleh Rama.
"Ah, ponselku masih di Dilan." Aku berceletuk ketika mengingat Dilan masih memegang ponselku.
Kulihat, Rama melirikku sekilas melalu kaca spion.
"Itu taksinya Rama." Kataku canggung.
Rama kemudian menepikan mobilnya, turun dan menghampiri Dilan untuk mengambil ponselku.
"Dah Dina." ucapku sebelum turun dari mobil. Yah, aku hanya sedang mencoba untuk tegar. Padahal airmata sudah di ujung merontah ingin keluar. Tahan. Sebentar lagi.
Rama menghampiriku dan memberikan ponselku kepadaku.
Aku melihatnya dan tersenyum sembari mengucapkan terimakasih kepadanya.
Aku masuk ke dalam taksi dan kemudian menumpahkan airmataku.
Rama aku masih mencintaimu.
HAHAHHAHA
PENGEN AJA SI, BUAT BUAT CERITA GINIAN WKWKWKW..
EFEK GABUT DOANG INI.
KAMU SEDANG MEMBACA
KA(k)U
PoesíaAku tak pandai merangkai kata, tapi semua kata disini adalah hasil jemariku. I hope u like it guys❤ "Rasanya lebih miris, ketika aku harus terluka karena keputusanku sendiri."
