one shoot - Us

20 0 0
                                        

Lama tak bersua, kau terlihat berbeda dari terakhir kali kita bertemu. Tiga tahun yang lalu bukan? Cukup lama. Wajar jika kau berbeda.

Pagi ini, kau tiba-tiba saja mengirimkanku sebuah pesan melalui aplikasi WhatsApp.
Ingin bertemu, itu yang kau ketikkan.
Berhubung tak ada kesibukan, ku iyakan saja permintaanmu, dan berakhirlah kita di sini, di sebuah cafe.

Ya, sepertinya takdir sedikit memberiku ruang untuk kembali bertemu denganmu. Padahal setelah lulus SMA dulu aku tak pernah lagi berharap untuk bertemu denganmu. Biasalah, perasaan labil anak remaja yang sok-sok an mau move on.
Oke, oke kita kembali kepada kenyataan sekarang, kau sedang duduk di hadapanku sambil sesekali menyeruput minumanmu, sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah kalimat yang membuatku tersedak. Aku rindu. Itu katamu. Namun, aku harus segera tersadar untuk tidak lagi termakan omonganmu itu, cukup sekali saja aku merasa sakit karena ucapanmu. Jadi, ucapanmu tadi tak begitu kupikirkan.

"Kenapa?" Tanyaku.
"Rindu saja."
"Jangan beri aku harapan lagi, cukup aku terluka sekali saja."
"Tidak, Bina, aku jujur, aku rindu padamu."
"Kau meminta bertemu denganku, cuma untuk mengucapkan itu?" Tanyaku lagi.
"Mungkin." Katanya tak acuh.

Aku sedikit kesal, tapi tak apa, sejujurnya aku juga rindu, tapi selama ini aku mematikan rinduku untuknya, sampai hari ini rindu itu kembali bernafas dan akhirnya bisa bertemu sama pemiliknya.

"Tak apa kan? Aku hanya ingin sedikit ngobrol denganmu. Kau tahu? Sebemarnya aku sudah lama tahu kau kuliah di sini, bahkan sejak kita diterima di universitas masing-masing. Tapi, baru kali ini aku berani untuk memintamu bertemu denganku."

Astaga, aku sedikit risih, ternyata selama ini ada yang menjadi stalker-ku. Dia tahu aku di sini, tapi aku tak tahu sama sekali tentangnya.

"Bina?"
"Ah ya? Iya tak apa."

"Apa kesibukanmu akhir-akhir ini?"
"Seperti mahasiswa pada umumnya."
"Ohiya, kau berubah."
"Apanya?"
"Kalimatmu ketika menjawab pertanyaanku. Jadi lebih panjang daripada waktu SMA."
"Benarkah? Aku merasa biasa saja."

Kumohon, jangan lagi muncul perasaan itu. Aku tak mau.

"Benar. Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang kaulihat sekarang."
"Baik? Bisa saja kan, kau menutupinya."
"Ya, aku baik."
"Kau tak berniat bertanya tentang keadaanku?"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Komplikasi."
"Maksudmu? Kau sakit ya? Parah?"
"Khawatir?"
"Tidak."
"Jujur saja Bina."

Ah, menyebalkan, haruskah ia tahu aku khawatir padanya?

"Maumu apa sih? Membuat luka baru di hatiku? Sean, luka yang dulu masih begitu-begitu saja tahu."

"Aku ingin bertanya. Boleh?"
"Tanya saja."
"Aku bingung, sebenarnya yang seharusnya terluka itu aku bukan? Karena yang meminta selesai waktu itu kau. Lantas, kenapa kau yang terluka?"

Apakah benar, ia tak merasa menyakitiku sama sekali? Jahat sekali.

"Memang aku yang meminta selesai waktu itu, aku yang memintamu untuk menjauhiku, tapi waktu itu kaubilang akan tetap mencintaiku walau kuminta kaumenjauh. Benar, aku memintamu untuk berhenti mencintaiku, tapi kaumenolakkan? Kaubilang kau tak siap, kau tak bisa, dan bla bla bla, tapi nyatanya dalam waktu satu bulan, kau sudah berpacaran sama yang lain. Apa tidak sakit Sean? Seandainya waktu itu kauterima semua permintaanku, mungkin aku tak sekecewa dan seterluka sekarang. Aku merasa dibohongi, aku merasa bodoh terlalu percaya omonganmu. Dan dengan mudahnya kau menampakkan kemesraanmu dengan pacar barumu waktu itu. Tapi itu memang sudah lama, tak usahlah diungkit lagi. Jadi apa cuma ini tujuanmu ingin bertemu?"

"Maaf soal itu, sejujurnya aku ju--"
Aku menyelak ucapan Sean, tak berniat lagi mendengar penjelasannya, toh itu sudah lama sekali. Sudah lama juga kukubur perasaan ini.

"Sudahlah Sean, tak usah banyak menjelaskan. Aku tahu kaupasti punya alasan dibalik semuanya, tapi percuma bukan jika kaupaparkan sekarang? Tidak ada gunanya. Itu sudah berlalu lama sekali. Aku sudah melupakannya.  Aku juga tak pernah menyimpan amarah padamu, jadi tak perlu meminta maaf. Kalaupun tetap meminta maaf, kumaafkan kok."

"Aku mau kita kembali Bina?"

Dia gila? Atau apa?

"Maaf, untuk itu aku tidak mau lagi. Sejak kuputuskan untuk menyelesaikan hubungan denganmu, sesuai ucapanku waktu itu, aku tak mau lagi memikirkan tentang cinta atau pacaran. Aku memegang janjiku Sean."

Obrolan berhenti, kecanggungan menyelimutiku dan Sean. Bahkan suara musik dari cafe ini tak sanggup mencairkan suasana diantara kita. Aku akhirnya mengambil poselku dan berpura-pura untuk memainkannya. Sean masih menatapku, tatapannya masih sama seperti dulu, tak berubah, aku merasakan itu.

Dan untuk kali ini pertama kalinya aku berani menegurnya.

"Sean, berhenti menatapku. Aku tak suka."
"Maaf."

Ia kemudian membuang wajahnya ke arah luar cafe dan keheningan kembali menyeruak.

KA(k)UTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang