Joshua?

194 13 8
                                    

"Josh!"

"Apa?! Masih belum puas?!"

Aku nahan lengan Joshua kenceng, ngebuat si empu ngedecih males.

Setelah kejadian di rooftop tadi, aku berinisiatif ngobrol sedikit sama Joshua.

Siapa tau cuma salah paham.

Tapi kayaknya Joshua gak terlalu mendukung ide itu. 

Buktinya setiap dideketin malah kabur 'kan Chanyeol lelah.

"Jangan kekanakan Josh," ucapku penuh penekanan.

Joshua senyum miring, ini...

Ini bukan Joshua yang aku kenal, dia beda. Terlalu berambisi dan tempramental.

"Disini kamu yang kekanakan, Yeol." ujarnya sinis sebelum pergi menghilang di ujung koridor.

"Biarin dia dulu," Hoshi nepuk pundaku pelan.

"Mungkin dia butuh waktu sendiri dulu."








.
.
.
.
.

"Dek,"

"Napa ngelamun? Galau diputusin? Sini, Hyung kasih saran."

Aku ngedengus kecil, demi apapun, "Gak, mana bisa Hyung yang udah tua masih jomblo ngasih saran tentang kasmaran. Bisa ditampar aku, Mas."

Henry hyung nyengir, lanjut liat ke arah jalanan kota yang macet. Lampu merah, biasa.

"Atulah, cerita, dek."

Aku hela nafas, gegana bahasanya mah.

Mau cerita nanti jadi menyebar ke ortu , lagian aku udah SMA, cowok lagi.

Masa iya minta bantuan orang mulu, apalagi orang tua. Malu.

"Gak, Hyung." tolakku.

"Pelajarannya banyak, apalagi Siwon Ssaem, ngomongnya capslock, Hyung."

Maaf hyung, Yeollie bohong.

Tapi, setidaknya biar Yeol selesaiin masalah ini sendiri dulu.








.
.
.

"Makan Yeol,"

"Sayang, bayangkan anak-anak di dunia yang kelaparan—"

Ada yang mau adopsi? Yeollie boleh 'lha, gak masalah. Tampan, pintar keren lagi, ya gak?

Udah, balik ke meja makan.

Aku cuma geleng-geleng, lanjutin makan dengan cepet biar bisa masuk ke dalam kamar dengan alasan ngerjain tugas.

Sampai—

"Yeol, besok Eomma sama Appa mau pindah ke Amerika."

Uhuq!

"Nah, mangkanya jangan buru-buru, keseleq 'kan?"

Ini Hyung bukannya bantuin malah ngehujat, ya ampun salah apa dulu Yeollie.

Akhirnya eomma yang peka bawaain minum, "Nih, dek. Minum, biar gak muncrat-muncrat." berujar santai.

"Kok gak bilang-bilang?" gerutuku.

Mana kutau kalau mereka berdua mau pindah ke Amerika, buru-buru banget beneran.

Pernah dibahas, tapi dikira cuma bercanda.

Tau sendiri eomma sama appa gimana =.=

"Udah dari seminggu yang lalu, gak peka aja kamunya." Appa berujar ketus, sementara aku hanya bisa menghela nafas.

Sabar,

Tadi, Joshua—

Eh?

"Eomma, Appa, Hyung. Yeollie duluan ke kamar ya, ada tugas."

Lari buru-buru, kepentok pinggiran meja. Ngeringis sedikit, sakit beneran.

Lanjut lari ke kamar, tidak lupa mengunci kamar—jaga-jaga ada yang ngedobrak gitu.

Ambil handphone,







19 chat tidak terbaca.





11 Alien Tampan.





JoJo Holkay

"Gue left, bye."













Tbc...

Maaf beneran baru up, cari kesempatan diantara kesibukan kelas 9 ehe.

Aku gak tau ini bagus atau enggak, karena aku mepet-mepet ngerjainnya.

Maaf ya, readers.

Aku gak bisa menuhin ekspetasi kalian, maaf beneran, aku menyesal.

Apalagi tulisan aku, rasanya ada yang beda gitu. Entah apa.

Jadi maaf kalau gak ngefeel, karena aku udah berusaha sebaik mungkin.

Maafkan author yang tidak bertanggung jawab ini.

Akan aku usahakan plot ceritanya dengan baik lain kali.

Vote and comment ya, say.

Ehe.

SollumS_05👐

We Are Best Friends, Aren't We? [EXO & BTS & SVT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang