12.Hanya kita

848 15 0
                                    

Jean mencium Lili dengan lembut.

"Dengarkan aku" kata Lili.

Jean menghentikan perbuatan nya. Menatap Lili dengan wajah nya yg merona tanda ia sudah sangat mabuk berat. Jean menatap Lili dengan matanya yg sayu, perlahan menutup matanya.

*Brukk*

"Jean?" Lili panik saat Jean jatuh pingsan.

"Aku harus... Membawa nya kembali ke kasur" kata Lili menggelengkan kepalanya menatap Jean.

.
.
.

*Jean Dream*

"Jean" panggil seorang gadis.

"Apa?"

"Apa kita dapat bersama?" tanya gadis itu.

"Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Jean.

"Aku... Hanya bertanya saja... Walaupun hanya sebuah khayalan bahwa kita dapat bersama tapi itu membuat ku senang" gadis itu tersenyum pada Jean.

"Aku berjanji, kita akan bersama" kata Jean sambil menggenggam tangan gadis itu.

"Hanya kita, yg akan hidup bersama" Jean tersenyum bahagia pada gadis itu.

.
.
.

*Jean Dream End*

Lili membawa sebuah kain dan air hangat, ia kembali merawat Jean sejak kejadian semalam. Lili memeras kain hangatnya kemudian membalutnya dikepala Jean yg masih tertidur.

"Jean?" panggil Lili.

Tangan Jean menggenggam erat tangan Lili, tidak membiarkan Lili meninggalkannya.

"Sudah berjam-jam yg lalu sejak kejadian tadi malam.. Dan sekarang sudah sore... Apa mabuk nya belum sembuh total? Apa efek nya masih lama?" Lili bertanya-tanya dalam benaknya.

Lili menatap tangan Jean, kemudian ia membuat pertanyaan baru dibenaknya.
Apakah ia memimpikan mantan kekasihnya? Apa karena ia masih mencintai mantan kekasihnya? Apa itu berarti Lili tidak mempunyai kesempatan?.

"Ugh..." Jean merintih kesakitan.

"Ah... Apa kau masih mabuk?" tanya Lili.

"Tidak... Tidak... Kepala ku hanya sakit"

Jean memejamkan matanya sebentar, berusaha menenangkan rasa sakit kepalanya. Kemudian ia tersadar suatu hal.

"Apa... Yg ku lakukan tadi malam?" tanya Jean.

"Tadi.. Malam?" Lili menjawab dengan ragu-ragu.

"Ya, jelaskan apa yg ku lakukan" kata Jean menatap Lili dengan waspada.

"Tadi... Malam... Kau pulang dengan ketiga teman mu dalam keadaan mabuk..." jelas Lili.

"Lalu?"

"Mereka mengantar mu ke kamar..." Lili mengalihkan pandangannya.

"Apa yg mereka lakukan? Atau yg mereka katakan padamu?" tanya Jean curiga.

"Mereka bilang, mereka ingin tahu dan.."

"Dan apa?" tanya Jean tidak sabar.

"Mereka bilang kau banyak membicarakan ku jadi mereka penasaran"

"Apa aku... Berbuat yg aneh-aneh?" tanya Jean.

"Ti....dak" Lili menggelengkan kepalanya.

"Melakukan hal aneh pada mu?" tanya Jean.

Lili terdiam, ia akan merasa bersalah jika membohongi Jean, tetapi ia akan malu jika menceritakannya juga pada Jean.

"Ceritakan pada ku" Jean menatap Lili dengan serius.

Lili menarik napasnya dalam-dalam. Mengumpulkan semua keberanian untuk menceritakan semuanya pada Jean.

"Kau mabuk... Saat aku keluar, kau menghadangku, kemudian..." Lili mengalihkan matanya, ia tak dapat melihat Jean.

"Kemudian?"

"Kau menciumku dan membuka baju ku. Dan..."

"Dan apa?" tanya Jean.

"Kau membicarakan mantan kekasih mu"

Jean terdiam, wajah nya menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan cerita Lili.

"Apa? Aku tidak mengarang cerita" kata Lili.

"Mantan kekasih ku ya..." Jean tersenyum licik kemudian menggelengkan kepalanya.

"Maafkan sikap ku tadi malam, Terima kasih atas perhatian mu. Kau boleh keluar dan beristirahat" kata Jean mempersilahkan Lili.

"Baiklah..." Lili kemudian pergi dari kamar Jean.

"Dia tidak menceritakan mantan kekasihnya.." kata Lili sambil pergi ke kamarnya dengan lesu.

.
.
.

"Aku membicarakannya didepan Lili, apakah aku harus menjelaskannya?" pikir Jean.

Jean bangun dari kasurnya, melangkah untuk pergi mandi. Dalam rintikan Shower, ia bertanya pada dirinya.

"Mengapa aku membicarakannya?" tanya Jean dalam batinnya.

"Ratusan tahun yg lalu sejak kehilangan dirinya, dan sekarang ada gadis itu yg menemani ku"

"Apa Lili tidak cocok untuk menggantikannya?"

"Apakah aku belum bisa melupakannya? Mantan kekasih ku..." Jean memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, tidak tahu apa yg harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini.

.
.
.

"Kenapa aku memikirkan dirinya?" tanya Lili dalam batinnya.

"Aku seharusnya memikirkan nyawa ku!"

"Masih ada yg harus ku pikirkan! Bagaimana diriku? Teman-teman ku?"

"Tenang... Cinta seperti ini tidak akan bertahan lama"

"Huft...." keluh Lili, membenamkan wajah nya di meja makan.

"Ada apa?" tanya Jean.

Lili menoleh ke belakang, melihat Jean memakai kemeja nya dengan beberapa kancing terbuka, dengan tangan yg memegang handuk dan rambutnya yg masih basah.

"Ugh! Cool!" keluh Lili.

"Lili?" panggil Jean.

"Eh.. Anu..." Lili tersadar dari lamunannya.

"Hei, tolong lupakan apa yg kubicarakan saat mabuk" kata Jean.

"Mantan... Kekasih mu?" tanya Lili.

"Ya, aku tidak ingin mengingatnya kembali" kata Jean.

"Aku paham, ketika seseorang tidak ada lagi dikehidupan kita bukan berarti kita melupakannya, tetapi menerima nya dan melanjutkan hidup" kata Lili.

"Bijak sekali" Jean mencolok kening Lili dengan jari telunjuknya.

"Memang seperti itu"

Jean menarik napasnya dalam-dalam.

"Kau ingin berjalan-jalan keluar? Aku akan menjelaskannya" kata Jean pergi keluar sambil mengkancingi bajunya.

"Baiklah" Lili mengikutinya dari belakang.










Forbidden Love [PRIVATE] HiatusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang