Tok! Tok!
"Masuk" Sasuke menjawab ketukan itu dengan dingin.
Ceklek!
"Apa jam mu mati Nii-san?" Sindir Sasuke dengan tajam. Ia yang terlalu jengkel dengan sang kakak bahkan enggan menatap saudaranya itu.
"Padahal aku terlambat karena harus membawakan hadiah untuk mu."
"Omong kosong apa-" Sasuke yang tadinya berniat memarahi kakaknya seketika terdiam. Otaknya seakan berhenti berkerja ketika melihat bukan hanya kakaknya yang datang tapi ada orang lain bersamanya. Orang yang sampai beberapa saat yang lalu masih hanya ada dalam kepalanya.
Sakura tersenyum cerah ketika kini Sasuke mulai melihatnya. "lama tidak bertemu, Sasuke-san."
Itachi tersenyum puas melihat Sasuke yang tak berkutik. Meski hanya menebak saja, ternyata membawa Sakura benar-benar keputusan yang tepat. "Ekhem, sepertinya kau tidak suka dengan hadiah yang ku bawa. Haruskah ku bawa pulang lagi?"
Ucapan Itachi berhasil membawa kesadaran Sasuke kembali. Pandangannya beralih dari sang emerald menuju onyx gelap sang kakak, ia menatap pria itu dengan tajam. "Dari mana kau mendapatkannya?"
"Aku akan memberitahu mu jika kau mengizinkan ku pulang lebih awal." Itachi tersenyum lebar ketika melihat tatapan Sasuke semakin tajam begitu ia merangkul Sakura. "Aku ini pria beristri, tidak seperti mu, aku ini memiliki wanita cantik yang menunggu kepulangan ku tau!"
Sasuke terlihat begitu marah. Ini kali pertama Sakura melihat ekspresi dingin Sasuke. Auranya begitu mengintimidasi juga tajam. Apa ia marah karena kedatangannya?
"Kau bisa angkat kaki sekarang Nii-san."
Itachi menyeringai puas. "Jangan lupa gunakan pengaman jika ingin bermain!"
Sakura membuang nafas kasar mencoba untuk tenang disaat Sasuke menatapnya tajam. "Aku kan tidak akan memangsa anda, kenapa anda begitu waspada?" Kakinya berjalan mendekat kearah Sasuke dengan perlahan.
Sasuke menyandarkan punggungnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap angkuh gadis kecil yang semakin mendekat kearahnya. "Harusnya kau tetap tenang di tempat mu, tapi kau malah datang sendiri pada ku menggunakan kaki kecil mu."
"Memang apa yang harus ku takut kan?" Sakura dengan berani menempatkan diri diatas pangkuan Sasuke. Matanya menatap puas wajah tampan Sasuke. Usahanya benar-benar terbayar lunas dengan ini. "Padahal saya begitu giat belajar hanya untuk bisa melihat anda. Tapi sepertinya saya kurang disambut ya disini." Tambahnya dengan suara yang cukup pelan.
"Ck, bau nya menempel!" Sasuke menatap Sakura tak suka.
Sakura menatap Sasuke dengan dahi berkerut kesal "Aku bau? Anda itu benar-benar perusak suasana ya. Harusnya anda balas memeluk saya lalu mencium saya lalu tergesa melepas seragam saya, Harusnya begitu skenarionya!"
Sasuke menatap lurus kedua bola mata Sakura. Ekspresi gadis itu yang kesal cukup enak dipandang ternyata. Tanpa sadar ia tersenyum melupakan kekesalannya. "Aku akan lebih suka langsung merobek seragam mu sekarang Sakura," Sasuke berbicara dengan begitu serius. "Aku tidak bisa tahan jika ada bau pria lain yang menempel pada mu."
Sakura berkedip polos. Bau pria lain?
Melihat Sakura yang tidak bergerak membuat Sasuke kembali bersuara. "Kau sungguh ingin aku merobek seragam mu sekarang?"
"Ti-tidak.." jawab Sakura gugup. Entah kenapa barusan Sasuke seperti mengancamnya. Matanya celingukan berusaha kabur. "Ekhem, dimana, dimana ruang gantinya?"
.
Sasuke membuang nafas kasar. Ia tak percaya Sakura ternyata diam selama ini karena ingin mendatanginya. Rasanya semua kekesalannya meluap begitu ia melihat si merah muda itu berdiri di depannya tadi. Jika saja Itachi tidak ada mungkin ia sudah berlari kearahnya saat itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm not child
Teen FictionBagaimana bisa si nakal Haruno Sakura bertahan di dalam zona membosankan dimana ia hanya harus bersikap manis dan sopan? tentu saja ia akan sangat memberontak. Namun tidak jika yang menjadi lawannya adalah Sai, selaku sepupu terprotektifnya yang sel...
