Pengakuan Yang Tak Seharusnya

10.4K 913 45
                                        

"Dia ayah kandung Mas Ge."

"Dia ayah kandung Mas Ge."

"Dia ayah kandung Mas Ge."

Kenapa kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

"Ayah aku juga sebenarnya," tambahnya membasuh wajahnya dengan air wastafel.

Berulang kali Giga membasahi seluruh wajah—bahkan kepala dan rambutnya—berharap agar pikirannya bisa segar. Tapi kenyataannya apa yang dilakukanya tidak memberikan efek apa-apa.

"Huh!" satu hembusan napas kasar keluar dari mulut Giga.

Merasa apa yang dilakukannya sia-sia dan berpotensi membuatnya sakit  Giga memilih berhenti. Ia keluar kamar mandi dan menuju kamarnya. Begitu sampai Giga langsung membaringkan tubuh di atas ranjang berukuran queen size. Matanya menerawang langit-langit kamar.

"Apa bener aku bukan anak kandung dia?" monolognya.

Kalau Gatta bukan ayah Giga lalu siapa pria yang menyumbangkan sperma dalam proses pembuatan Giga?

Di saat asik memikirkan siapa ayah kandungnya Giga teringat akan sesuatu. Ia segera menegapkan tubuh. Menyalakan ponsel dan membuka folder rahasia berisi sepuluh foto Gatta.

Selama menyimpannya tidak ada yang tahu. Tidak seorangpun tahu kalau Giga pernah diam-diam mengirim foto Gatta dari ponsel Cilla. Remaja itu sungguh berbakat menyembunyikan sesuatu.

Folder rahasia terbuka. Mata Giga mulai menelusuri satu persatu foto pria bertatoo. Ia harus jeli meneliti. Giga mencari sesuatu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hasilnya nihil. Tidak ada bagian wajahnya yang mirip Gatta.

Giga menggeleng, mengucek mata, dan bahkan menampar pipinya pelan.

"Fokus, Gi! Cari lagi! Pasti ada salah satu dari tubuh kamu yang mirip dia," ucapnya kembali menatap ponsel.

Giga memperbesar foto Gatta. Menelusuri setiap detail wajah pria itu demi mendapatkan kesamaan. Namun meski dicari sampai keesokan hari pun hasilnya akan tetap sama; tidak ada!

"Gue beneran bukan anak ayah Gatta ya?"

Tidak masalah kalau Giga bukan anak Gatta. Tapi tolong beritahu dia siapa ayah kandungnya yang sebenarnya. Agar Giga tak perlu lagi mencari. Agar rasa penasarannya selama ini terjawab. Giga lelah. Ia lelah mencari, tak diakui, dan tak dianggap oleh pria yang selama ini diyakininya sebagai ayah.

"Gi legonya udah dateng!!!" teriakan Gefta berhasil meramaikan kamar damai Giga.

Gefta mendaratkan pantatnya tepat diatas kasur Giga. Kemudian ia menujukan kotak yang masih terbungkus rapi berisikan lego limited edition ke hadapan adiknya.

"Setelah sekian lama nunggu akhirnya ini lego datang juga! Huah!" ucap Gefta masih terus menyunggingkan senyum.

Giga mematikan layar ponsel dan bergabung di sebelah kakaknya. Ia tidak merespon apapun. Hanya duduk mendengarkan celotehan dan memperhatikan kegembiraan kakaknya dalam diam.

Pertama kalinya Giga terlihat tidak tertarik dengan mainan yang digemarinya selama ini. Paket berisi lego limited edition yang dinantikan kedatangannya sejak dua minggu belakangan tak ada arti. Giga kehilangan semangat dan minat terhadap kegemarannya.

"Gi," panggil Gefta menoleh ke adiknya yang diam saja.

Sepersekian detik si adik tidak menyauti panggilannya. Giga berubah. Lebih pendiam sejak masuk pesawat. Perubahan sikapnya semakin terasa ketika mereka sampai rumah.

"Giga!" panggil Gefta tepat di telinga si pemilik nama.

"Iya!" remaja itu terlonjak kaget. "Apasih, Mas?! Kamu bikin aku jantungan deh!" tambahnya.

Duka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang