Perkenalkan Namanya Adalah Gattara

8.3K 759 74
                                        

Genap sudah dua minggu ini Cilla, Gefta, dan Giga berhasil diboyong Pande kembali ke Jakarta. Dan tentu berita kepindahan mereka sudah sampai di telinga Gatta.

Bagaimana bisa pria masa lalu Cilla itu tahu? Jawabannya adalah diam-diam ia mengawasi gerak-gerik Cilla sekeluarga dari jauh.

Gatta mendadak beralih profesi sebagai mata-mata. Bukan dia yang turun langsung untuk memata-matai Cilla, tapi Gatta membayar orang untuk melakukan tugas itu. Sekaligus untuk melindungi Cilla meski dari jauh.

"Cilla balik ke Jakarta," ucap si pria berkaos merah mengawali pembicaraan.

Saat ini Gatta dan Vasya—temannya— sedang ada di Studio. Setelah sekian lama mendekam di balik jeruju akhirnya ia kembali menginjakan kaki ke tempat ini. Kedatangannya tak hanya untuk menyambangi, tapi Gatta akan aktif menekuni hobi sekaligus pekerjaannya itu.

"Lo udah ngasih tahu kabar ini sejak dua minggu lalu, fyi!" ucap Vasya bergabung di sebelah Gatta.

Ah iya. Pria itu sudah menceritakan kepindahan Cilla pada temannya.

"Iya ya?" ucapnya terdengar sebagai gumaman. "Tapi sampai sekarang gue belum ketemu sama dia dan Gefta," lanjutnya lirih.

Vasya menoleh. Mendengar nama anak Gatta disebut membuatnya tidak percaya. Vasya tidak percaya jika teman seperjuangannya itu sudah memiliki seorang putra yang seumuran Jenara—purtinya.

"Dia udah gede ya? Seumuran sama Nara bukan?"

Gatta mengangguk. "Iya udah gede. Bahkan bentar lagi gue punya mantu," jawab Gatta asal.

Kemudian hening sesaat.

"Gue ngelewatin banyak hal, Sya," ucap Gatta penuh penyesalan.

Vasya mengelus punggung Gatta.

"Keadaan yang menuntut lo seperti itu. Gausah merasa bersalah atau menyesal karena itu semua nggak ada gunanya."

Benar apa kata temannya. Tidak ada guna merasa bersalah atau menyesal. Dua hal itu tidak bisa mengembalikan Gatta ke masa di mana seharusnya ia ada.

Pria itu menghela napas berat. Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Menandakan satu pesan masuk. Diambilnya si gawai canggih dan dibacanya satu pesan berisi sebuah informasi.

"Eh anjeng!" kata Gatta setelah membaca, menelaah, dan meresapi isi pesannya.

Teriakan spontan Gatta membuat Vasya kaget. Sialan sekali temannya ini. Beruntung ia tak punya penyakit jantung. Kalau punya tamatlah riwayatnya.

"Lo yang anjeng!"

"Cilla mau nikah!" ucap Gatta memberitahu.

"Apa?" tanya Vasya.

"CILLA MAU NIKAH!!!" teriak Gatta persis dihadapan Vasya.

"LO HARUS CEGAH!" respon Vasya menggebu.

"IYA! GUA HARUS CEGAH," ucap Gatta beranjak berdiri.

"GUA DOAIN SEMOGA LO BERHASIL REBUT CILLA DARI CALON SUAMINYA!" kata Vasya ikut berdiri.

Lalu mereka berpelukan. Vasya menyalurkan energi positif juga dukungan penuh untuk temannya.

"Gue dukung lo seratus persen! Pokoknya sebelum negara api menyerang haram hukumnya lo pulang. Paham?"

"Siap calon besan! Doakan gua berhasil merebut kembali si pemilik hati!" kata Gatta bersiap memulai aksinya.

...

Kamar bernuansa bunga itu dipenuhi beberapa manusia. Dua MUA sedang menjalankan tugas mendandani seorang Emmanuel Racilla Geraldin.

Duka Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang