Malam minggu; malam di mana-seharusnya- para umat manusia sejenak mengistirahatkan pikiran dari padatnya aktivitas selama lima hari sebelumnya. Malam di mana semua orang menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang tercinta.
Sama seperti sepasang anak dan ayah yang ada di ruang keluarga ini. Gatta dan Gefta. Mereka sedang menyusun jadwal khusus yang akan dikerjakan selama weekend. Banyak kegiatan yang keduanya tulis di selembar kertas hvs. Sejauh ini Gatta dan Gefta hampir menyentang semua kegiatan seru itu.
Malam ini puncaknya. Pukul sembilan malam sepasang anak-ayah itu sudah duduk di depan layar datar televisi. Mereka bersiap bermain game Residen Evil 7: Biohazard. Tapi entah kenapa tubuh Gefta mendadak tegang.
Hell, harus remaja itu akui kalau ia tidak suka dengan apapun yang berbau horror atau mistis. Bukan karena takut. Gefta hanya tidak suka dengan wajah jelek para hantu yang muncul tiba-tiba. Ingat ia tidak takut melainkan suka sedikit terkejut.
Berbeda dengan Giga. Si bungsu lebih pemberani. Saat Gefta ketakutan Giga tak segan berteriak lantang guna mengusir para hantu atau bahkan menantang makhluk-makhluk itu bertarung. Apapun akan Giga lakukan untuk melindungi kakaknya.
Ngomong-ngomong soal Giga. Bagaimana kabarnya? Bukan kabar melainkan bagaimana dengan malam minggunya?
Biasanya saat weekend Gefta dan Giga akan membeli lego sepulang sekolah lalu menyusunnya saat malam hari. Dan malam ini seharusnya mereka melakukan kegiataan rutin itu bersamaan. Tapi, apa yang terjadi? Gefta lebih memilih menghabiskan malam minggunya dengan Gatta daripada menyusun lego bersama Giga.
Lihatlah sekarang akibat keegoisan Gefta, Giga menjadi sendiri-kesepian. Tidak ada Cilla karena wanita itu masih berkutat dengan pekerjaan. Tidak ada Pande karena pria itu sedang ada di luar kota. Dan tidak ada Gefta yang seharusnya ada.
Remaja bercelana boxer itu mengusap wajah kasar. Membosankan sekali malam minggu ini jika hanya dihabiskan dengan berbaring di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar.
Giga menengkulapkan tubuh. Ingin berteriak menyerukan kekesalannya, tapi tidak mungkin karena ia tidak ingin dicap gila. Untuk itu Giga beranjak dari kasur lalu menganti pakaian. Setelah selesai ia pun turun ke bawah menuju garasi.
Di garasi sudah ada motor vespa matic dan satu mobil berwarna putih. Tadinya Giga ingin mengendarai mobil saja. Niatnya urung ketika ia ingat kalau kunci mobil ada di tangan Cilla dan Gefta. Ia tak berhak atas mobil. Jadilah Giga mengendarai motor saja.
Giga sudah ada di atas motor. Bersiap melaju mengendarainya entah ke mana. Sampai sekarang ia tak kepikiran ke mana akan pergi dan menyinggahkan diri. Biarkan saja Giga mengendarai motornya tanpa tuju. Karena hanya dengan cara itu ia bisa membunuh sepi.
...
Mata Cilla menerawang ke segala penjuru ruang. Mencari keberadaan si bungsudi berakhir nihil. Sudah berkali-kali ia menelusuri kamar Giga, menghubungi sang putra, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Cilla menjatuhkan tubuhnya di sofa. Merasa lelah karena tak kunjung menemukan Giga. Ingin menangis saja rasanya.
"Kamu di mana, Gi?" tanyanya menatap layar ponsel.
Cilla merasa tidak becus mengurus anak. Seharusnya ia ada di saat-saat seperti ini. Giga butuh teman. Anaknya butuh seseorang yang bisa diajak berbagi kepenatan. Menceritakan apa yang terjadi selama lima hari ini.
"Gefta. Mungkin Giga main sama Masnya."
Secepat kilat Cilla mencari kontak si sulung. Bisa saja karena kesepian Giga main ke rumah Gatta untuk menyusul Gefta. Iya kan? Ya walaupun kemungkinannya hanya sepuluh hingga lima belas persen.
