11

20 2 2
                                    

Laila pov


Matahari bersinar begitu terik, sesekali ku tatap luasnya langit. Sejauh apapun jarak setiap manusia selagi masih berada di langit yang sama maka itu tidak menutup kemungkinan untuk kembali berjumpa. Aku terus melangkah pulang ingin rasanya segera ku rebahkan tubuhku dalam mimpi indah yang ku rangkai.

"Lailaa" teriak seorang wanita menghetikan langkahku

"Laila tunggu aku" kata wanita itu yang tak lain adalah Putri

"Ada apa put?" Tanyaku

"Maaf laila aku tak sengaja menemukan ini di dalam bukumu yang aku pinjam tempo hari" tutur Putri sambil menyerahkan selembar foto Azim

"Oh itu" kata ku singkat sambil mengambil foto itu dari tangan Putri

"Ayo jalan lagi Laila gak enak berhenti di jalan seperti ini" sambil menggandeng tanganku, aku dan Putri kembali menyusuri jalan setapak menuju rumahku

"Laila" panggil Putri lirih

"Iya?" Tanyaku sembari menoleh padanya

"Sebenarnya aku bertemu dengan lelaki itu 1 minggu yang lalu ketika aku berada di Jawa" ucap Putri

Hatiku bergetar dan langkahku terhenti

"Azim? Kamu bertemu dengan Azim?" Tanyaku sambil menatap wajahnya

"Iya Laila, aku bertemu dengannya di pasar kota di Jawa Timur. Aku menyapanya karena aku mekihat wajahnya di foto itu dan dia menitipkan surat ini padamu" jelas Putri sambil menyerahkan sepucuk surat yang ia bawa

Aku mengambil surat itu dengan bergetar tanpa kata yang mampu terucap, entah perasaan apa ini aku tak mengerti apakah aku senang atau sedih yang pasti aku ingin segera pulang dan membaca seluruh isi surat itu

"Terimakasih Putri" jawabku akhirnya

Kamipun melanjutkan perjalanan kami, Putri terus bercerita pengalamannya selama ini dengan riang namun aku hanya menjawab sekadarnya karena aku sungguh tak bisa mengalihkan fikiran ku. Yang aku fikirkan hanya seperti apa isi surat dari Azim untukku.

"Putri, aku sudah sampai di rumahku" kataku menghentikan cerita riang Putri

"Oh iya, maaf Laila aku terlalu semangat bercerita sampai aku tidak tau kalau sudah sampai. Baiklah aku akan melanjutkan perjalananku, sampai jumpa"

"Iya put, hati hati yaa " jawabku

"Oke laila kamu tenang saja, assalamualaikum"

"Waalaikumsalan" jawabku

Aku segera masuk kedalam rumah kulihat ibu sedang sibuk membersihkan dapur namun aku hanya menyapanya dan cepat pergi ke kamar

"Assalamualaikum bu" Kataku sambil mencium tangannya

"Waalaikumsalam laila, kamu sudah pulang" jawaban ibu yang ku dengar dan langsung aku berlari menuju kamar ku

Aku bergetar melihat sepucuk surat itu, entah kabar baik atau buruk yang datang dari sosoknya. Ku hirup aroma tinta penanya seolah olah ku temukan wanginya dalam tulisannya.
Perlahan lahan ku buka surat itu.dan ku baca setiap deret kalimatnya

Assalamualaikum..

Sebuah pesan sekedar pengobat dari kerinduan, maafkan aku jika harus pergi tanpa sepatah kata.

Meski tersirat, aku tau antara kita ada sebuah rindu yang sama, sebuah duka yang sama ketika kita tak lagi bersama, aku tau itu.

Namun yakinlah Laila di suatu hari yang berbahagia aku akan datang dengan segala mimpi yang akan menjadi nyata.

Waalaikumsalam..

Kembali banyak tanya yang ku punya, apakah lelaki itu benar Azim?  Ia akan datang di waktu yang berbahagia? namun jika benar itu Azim, mengapa ibu tidak langsung mengatakannya padaku bukankah selama ini ibu dan sudah mengenal Azim dengan sangat baik ? aku ragu, namun hatiku berkata orang yang meminangku adalah orang yang sama dengan pengirim surat ini dan Azim lah orangnya. 

Segera aku turun ke dapur dan menemui ibu yang masih sibuk membersihkan dapur, aku ingin memastikan jika orang yang datang kerumah ku dan pengirim surat yang aku baca adalah orang yang sama. Aku ingin memastikan jika aku tidak keliru dengan perasaanku ini. 

"ibu, sebentar laila ingin menanyakan sesuatu" ucapku sambil ku pegang tangan ibu

"ahh apa laila? nanti saja ibu masih belum selesai" jawab ibu sambil melepaskan pegangan tanganku dan melajutkan pekerjaannya

"apa lelaki yang datang kemari dan melamarku adalah Azim bu?"

"Azim? yang benar saja kamu Laila, Ibu mengenal Azim dengan baik jika dia orangnya pasti ibu memberitahu kamu sejak kemarin"

Deg! semua harapan bahwa itu adalah Azim seketika runtuh bersama jawaban Ibu yang aku dengar, jika itu bukan Azim lalu siapa? tiba-tiba sebuah nama terbesit dalam benakku, sebuah nama yang akhir ini mulai mengusik hariku, sebuah nama yang telah aku lupakan, sebuah nama yang bahkan tidak ingin aku sebut.

"Ibu, jika dia datang kemari lagi katakan padanya jika aku tidak bersedia menerima pinangannya itu, minta dia pergi dan jangan mengganggu hidup Laila lagi" ucapku sebelum kembali ke kamar.

sekilas kulihat ibu tertegun dengan ucapanku, aku dapat mengerti apa yang dipikirkan ibu. namun biarlah aku akan menceritakan apa yang terjadi jika hatiku sudah tenang. untuk saat ini aku ingin sendiri dulu menenangkan hati.




Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 02, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Ujung JalanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang