1

146 17 7
                                    

Pagi itu Laila berjalan cepat,hari ini ia sudah sangat terlambat untuk masuk kuliahnya. Sambil berjalan ia mengambil handphone di tas bagian belakangnya setelah mendapatkanya ia melihat jam yang tertera di pojok atas handphone nya lalu tiba-tiba

"Hwaaaaaaa" sambil melempar handphone nya
"Kenapa di buang?" Kata seorang lelaki di atas sebuah sepeda yang tadi tidak sengaja mengagetkan Laila

Azim dialah lelaki itu,lelaki yang akhir ini mengisi hatinya

"Hei ayo biar kuantar" kata azim
"Tidak usah biar aku berangkat sendiri hari ini puasa nanti kamu lapar ika harus mengantar ku" jawab Laila menolak bantuan Azim sambil mengambil puing puing handphone nya yang jatuh berserakan
"Haha aku sudah banyak makan waktu saur tadi,ayo biar ku antar aku juga ingin jalan-jalan sebentar" sambil menarik Laila ke kursi penumpang di belakangnya

Laila tersenyum manis, meski sudah siang namun udara masih dingin. Laila dan Azim menyusuri beberapa sawah sebelum sampai ke jalan utama. Mereka hanya saling terdiam dalam kebisuan menahan gejolak dalam hati masing - masing.

Terdapat rindu yang sama di sana adapula cinta dan kasih yang sama pula. Ketika mereka saling mencintai namun berusaha untuk tidak saling memiliki. Itu bukanlah keadaan yang ingin mereka jalani, karena luka bisa saja datang kapanpun ia mau, mereka tetap diam dalam kebisuan. Karena mereka tau luka akan datang lebih kejam ketika sebuah kata perpisahan hadir diantara mereka.

"Yap,kita sudah sampai" kata Azim memecah keheningan.

Namun tidak ada jawaban dari Laila,ia tetap diam dalam lamunannya

"Sampai kapan mau duduk di situ? "
"Laila.."
"Hei Lailaa mau turun atau enggak?"
"Eh iya iya sudah sampai ya?" Tanya Laila kaget sambil turun dari sepeda
"Kayanya suka banget sama aku sampai gak mau turu" kata Azim menggoda
"Ngomong apa sih, udah aku mau masuk makasih yaa Assalamualaikum" kata Laila sambil masuk ke dalam kampus nya
"Waalaikumsalam" jawab Azim sambil tersenyum memandang langkah Laila yang semakin menjauh

Ketika sosok Laila berpostur kecil telah menghilang dari pandangannya, kembali Azim mengayuh sepedanya pulang. Ia menghirup dalam dalam dinginnya udara bercampur semua perasaannya pagi itu.
Senyum manis Laila tak pernah hilang dari kelopak matanya .. seperti terus menari dan menghadirkan rindu di sana.. rindu dan rindu sepertinya kata itu tak pernah pergi dari ingatannya.


Gimana ceritanya? Mohon vote dan comment ya 😆

Ujung JalanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang