Selingan II: (Sabtu, 04 Desember 2027 (16.30 JST)) Senja "Untuk Rindu"

18 2 0
                                    

      Beberapa menit yang lalu, pesawat yang kutumpangi baru saja lepas landas. Dari atas sini, langit mulai menampakkan cahaya senja. Oranye. Mataku terus memandang ke luar. Beruntung sekali, Aku mendapat tempat duduk di samping jendela.

      Sesekali Aku menengok seseorang yang duduk di sebelahku. Seorang ayah yang terus mendekap anak perempuannya yang tidak mau duduk di kursinya sendiri. Aku tidak mengenal mereka. Kebetulan, laki-laki yang tadi terus berjalan bersamaku di bandara mendapat tempat duduk dengan nomor yang agak jauh dariku.

      "Aaaah..., ayah. Aku mau turun," seru si anak perempuan.

      "Ssstt.., putri ayah, tenang. Duduk di tempatmu. Semua akan baik-baik saja," kata sang ayah lembut sambil mengusap kepala anaknya itu.

      Aku terpana melihatnya. Sementara ini Aku hanya bisa tersenyum dengan perasaan amat  dalam saat melihat pemandangan seperti itu. Aku hanya membayangkan kapan Aku bisa memeluk anakku seperti seorang ayah? Melihatnya, Aku merasa bahagia, tapi juga merasa bersalah. Apakah setelah anakku tumbuh menjadi kanak-kanak, Aku akan tega membiarkan istriku mengurusnya sendirian sementara Aku mengadu nasib di negeri orang?

      "Oh, hai, sejak tadi kau melamun saja."

     Sapaan ayah dari anak itu membuatku terbangun dari lamunanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil padanya. Setengah ramah, setengah malu.

      "Dia sepuluh tahun besok. Ini kali pertamanya menaiki pesawat terbang. Makanya dia masih takut dan terus berada di dekatku. Padahal, tempat duduknya hanya berada di seberangku," terangnya mengenai putri kecilnya yang terus merengek itu.

      Lagi-lagi Aku banya membalasnya dengan senyum.

      "Oh, ya, apakah Kau juga memiliki anak?" tanyanya sambil terus membelai kuncir kuda putrinya.

      "Ya, anakku masih balita," jawabku singkat sekali.

      "Mereka tinggal dimana?"

      "Oh, di Jakarta, Indonesia. Hari ini Aku hendak mengunjunginya."

      "Kau ini. Kapan terakhir kali kau mengunjunginya?" tanyanya lagi dengan wajah dan gaya bicara yang selalu ceria.

      "Dua tahun lalu dan kurasa itu tidak baik."

      "Oh, aku harap kau tidak seperti istriku. Dia keranjingan mencari uang. Dia meninggalkan putrinya ke luar negeri saat putrinya ini masih balita. Dia memang mengirimi uang yang banyak dan selalu memberi kabar bahwa dia baik-baik saja dan merindukan kami. Tapi, putrinya ini merindukannya. Kupikir menjelang masa remajanya, dia akan sangat memerlukan ibunya. Jadi, aku berjanji dia akan bertemu ibunya di hari ulang tahunnya yang ke-sepuluh." Kali ini warna suaranya mulai berubah sedikit lebih murung.

      "Oh, maaf—"

      "Tak perlu minta maaf, aku pikir sesekali aku harus murung daripada terus ceria, kan?" sebentar saja dia kembali ceria.

      Aku mengangguk mengerti. Terkadang emosi memang harus disampaikan dan dicurahkan sepenuhnya. Ia tak bisa terus dikurung dan ditahan dengan tawa. Itu menyiksa. Seperti kebanyakan orang gila yang suka tertawa sendiri.

     Beberapa menit saja, mereka berdua sudah terlelap. Berkurang sudah penghilang bosanku. Hanya bersisa langit oranye yang bisa kulihat dari jendela.

      Terlintas di benakku untuk menghampiri tempat duduk <Laki-laki Yang Bersamaku di Bandara>.

      Aku berjalan menyusuri deretan kursi. Berhenti sejenak karena di depanku ada seorang nenek yang berjalan menggunakan tongkat. Padahal tinggal satu kursi lagi Aku bisa mengobrol dengan <Laki-laki Yang Bersamaku di Bandara>.

      Nenek di depanku merogoh saku belakangnya. Mengambil sachet kecil tissue basah. Tetapi, ada benda lain yang ikut keluar dari sakunya. Kartu ATM-nya terjatuh. Aku segera memungutnya dan berniat mengembalikannya.

      "Nek, ini kartu ATM-nya terjatuh," ucapku sambil menepuk pundaknya perlahan.

      "Oh," nenek itu menengok sambil merogoh saku belakangnya, kemudian menunjukkan ekspresi seperti menyadari sesuatu.

      "Dimana kartu debitku?" tanyanya.

      "Maaf, Saya hanya menemukan ini, nek," jawabku.

      "Mana mungkin. Aku yakin Aku sudah memasukkannya ke saku belakang. Harusnya, jika kartu ATM itu jatuh, kartu debit-ku akan ikut terjatuh. Jika tidak, pasti masih tertinggal di saku," bantahnya.

      "Maaf, nek, tapi Saya benar-benar hanya menemukan ini," jawabku lagi.

      "Bohong! Kau pasti mencurinya."

      Nenek itu mulai bicara dengan emosi. Beberapa orang menengok ke arah kami. Termasuk si <Laki-laki Yang Bersamaku di Bandara>. Dia menatapku dengan bingung.

      "Benar, nek. Saya tidak mengambilnya. Saya hanya menemukan ini," jawabku berusaha tetap tenang.

      "Aaah, Saya tidak mau tahu. Kau harus diperiksa."

      Nenek itu nekat memanggil petugas.

      Petugas kemanan pesawat menghampiri kami, kemudian membawa kami berdua ke ruang petugas.

      <Laki-laki Yang Bersamaku di Bandara> menatapku yang menjauh.

      "Kembali dengan selamat! Janji!" seruku sambil melepaskan salam dengan gerakan hormat menggunakan dua jari yang ditempelkan ke ujung alis.

       <Laki-laki Yang Bersamaku di Bandara> tertawa ringan seperti biasanya.

                                  ***
      Kasusnya sudah selesai. Anak nenek itu rupanya yang meletakkan kartu debit si nenek di dalam dompetnya. Alasannya agar tidak hilang karena ibunya itu sudah sedikit pikun.

      Aku pun sedikit terhibur oleh banyak kejadian yang tak disangka di atas sini. Ditambah lagi, istriku barusan meneleponku. Katanya, dia sudah membelikan makanan kesukaanku.

                                 ***
      Mengembalikan, semestinya memang bermaksud baik. Juga sebagai pemilik, semestinya menerima barang yang dikembalikan dengan baik.

      'Mengembalikan' dapat dilakukan dengan cara apa saja. Terkadang, cara kita 'mengembalikan' tidak bisa dipahami oleh orang yang kita tuju. Karena itu, dalam 'mengembalikan' dapat terjadi kesalah pahaman. Dalam 'mengembalikan' dapat terjadi perubahan pada sesuatu yang hendak dikembalikan itu, sehingga mengharuskan kita menggantinya.

      Termasuk juga saat Aku hendak 'mengembalikan' sesuatu itu untukmu, Rindu.

                                ***

KitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang