7. Rahasia di Balik Bella Mooi

3.8K 486 38
                                        

Bella masih berdiri dengan tangan di pinggang, tatapan tajamnya tertuju pada pria di depannya yang baru saja mengungkapkan identitasnya. Ahmad Ramadona, si Bella Mooi palsu, tampak gugup, memainkan ujung handuk yang menutupi tubuhnya.

"Jadi, kamu ini Bella Mooi?" tanya Bella dengan nada datar, tapi jelas penuh tuntutan penjelasan.

Dona mengangguk pelan, wajahnya penuh rasa bersalah. "Iya... Saya memang Bella Mooi. Tapi saya bisa jelasin, Dokter."

Bella melipat tangan di dada. "Coba jelaskan. Kenapa kamu sampai berpura-pura jadi perempuan dan ikut acara ini?"

Dona menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di tepi sofa. Ia menunduk, tampak ragu untuk berbicara. "Saya ini cuma koas miskin, Dok. Hidup saya nggak gampang. Orang tua saya ninggalin saya waktu saya masih bayi. Mereka taruh saya di depan panti asuhan dengan secarik kertas yang cuma kasih tahu nama saya. Sejak kecil saya harus berjuang sendiri. Menjadi Bella Mooi adalah cara saya buat cari uang."

Bella mendengarkan dengan seksama. Ekspresi kesalnya mulai berubah menjadi rasa iba. Ia tahu persis bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang tua. Meski kisah mereka berbeda, rasa sakit itu terasa sangat familiar.

"Saya nggak punya pilihan, Dok," lanjut Dona. "Tawaran dari Dokter Reno terlalu besar buat saya tolak. Uangnya bisa buat saya bayar ujian, hidup selama beberapa bulan, bahkan mungkin bantu anak-anak di panti asuhan tempat saya dulu tinggal. Saya mohon, jangan kasih tahu siapa-siapa. Kalau identitas saya ketahuan, semuanya hancur," pinta Dona memelas. Lelaki itu bahkan sampai berlutut di bawah high heels Bella.

Bella menghela napas panjang. Ia melihat Dona dengan lebih lembut sekarang. Meski masih ada sisa kekesalan, ia mulai memahami situasi pria itu.

"Jadi kamu rela pura-pura jadi perempuan demi uang?" Bella bertanya lagi, suaranya lebih tenang.

Dona mengangguk. "Saya nggak punya pilihan lain, Dok. Saya mohon, jangan bilang siapa-siapa. Saya janji nggak akan ganggu Dokter atau bikin masalah. Cukup tutup mulut soal ini, dan saya akan jaga jarak."

Bella terdiam sejenak. Ia membayangkan sosok ayahnya yang meninggalkannya dulu, memilih hidup dengan selingkuhannya dan melupakan keluarga. Dia dan Dona sama-sama tahu apa artinya kehilangan dan berjuang sendiri.

"Baiklah," ujar Bella akhirnya. "Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa soal ini."

Dona mendongak, matanya penuh harapan. "Makasih, Dokter. Saya bener-bener nggak tahu harus gimana kalau Dokter nggak bantu."

"Tapi," Bella menyela, menatapnya tajam. "Kamu punya utang budi ke aku. Suatu hari nanti, aku akan menagihnya."

Dona menelan ludah, tapi ia mengangguk cepat. "Saya janji, Dokter."

"Bagus," Bella berkata sambil menoleh ke barang-barang Dona yang berserakan. "Sekarang, beresin semua ini. Aku mau tempat ini rapi."

Dona buru-buru berdiri dan mulai membereskan koper dan pakaian yang sebelumnya berantakan.

"Dan satu lagi," tambah Bella, melipat tangan di dada. "Kamu tidur di sofa. Jangan coba-coba merebut tempat tidurku."

Dona mengangguk patuh. "Iya, Dokter. Saya ngerti."

Bella menghela napas dan melangkah ke tempat tidur, melepaskan sepatu haknya sambil mengabaikan Dona yang sibuk merapikan barang-barangnya. Meski hatinya masih campur aduk, ia tahu satu hal pasti. Hidupnya baru saja bertambah rumit.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bella Mooi (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang