Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Bella dan Dona duduk berdampingan di kantor Dinas Sosial, menunggu giliran dipanggil untuk menyelesaikan proses adopsi bayi Lita. Bella terlihat ceria, bahkan sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Dona meliriknya beberapa kali dengan senyum tipis, masih tak habis pikir bagaimana Bella yang dulu begitu sinis terhadap anak-anak bisa berubah seperti ini.
“Kenapa kamu kelihatan seperti habis memenangkan lotre?” tanya Dona, mencoba memecah keheningan.
Bella menoleh, senyum di bibirnya melebar. “Karena, hari ini aku mendapatkan bayi yang sangat spesial. Jangan bilang kamu nggak merasakan hal yang sama.”
Dona mengangkat alis. “Aku senang, tentu saja. Tapi aku masih heran, Kak. Kamu pernah bilang anak itu hanya beban. Kenapa Lita berbeda?”
Bella terdiam sejenak, tatapannya menerawang. “Aku juga nggak tahu. Tapi sejak pertama kali melihatnya, aku merasa... ada ikatan. Seolah-olah dia memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari hidupku.”
Sebelum Dona sempat menanggapi, nama mereka dipanggil. Mereka masuk ke ruang kepala Dinas Sosial dengan hati berdebar. Semua dokumen sudah disiapkan dengan rapi, dan proses verifikasi berjalan lancar.
“Selamat, Bapak Dona dan Ibu Bella. Mulai hari ini, Lita resmi menjadi anak Anda berdua,” ujar petugas itu dengan senyum hangat sambil menyerahkan akta adopsi.
Bella meraih dokumen itu dengan tangan sedikit gemetar, matanya berbinar. “Terima kasih,” ujarnya, suaranya penuh emosi.
Ketika mereka berjalan keluar dari kantor, Dona menoleh ke arah Bella yang terus memandangi dokumen adopsi di tangannya. “Kamu benar-benar terlihat seperti ibu yang bangga, tahu?”
Bella tertawa kecil. “Tentu saja. Aku sekarang seorang ibu.”
“Ya, ibu tiga tahun,” ledek Dona, mengingatkan Bella pada kontrak pernikahan mereka.
Bella mendelik, meskipun senyumnya tidak hilang. “Tiga tahun atau nggak, aku tetap ibu Lita. Dan aku akan memastikan dia mendapatkan yang terbaik.”
Mereka segera menuju rumah sakit untuk menjemput Lita. Saat Bella menggendong bayi itu untuk pertama kalinya setelah proses resmi selesai, ada cahaya kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan di wajahnya.
“Lita,” gumam Bella pelan sambil menatap bayi itu dengan penuh kasih. “Mulai sekarang, kamu akan tinggal bersamaku. Aku akan melindungimu, memastikan kamu bahagia.”
Dona berdiri di sebelahnya, memperhatikan interaksi itu dengan campuran rasa heran dan hangat di hati. Ia tidak pernah melihat sisi lembut Bella seperti ini sebelumnya.
“Lita, kamu benar-benar berhasil meluluhkan hati Kak Bella,” kata Dona dengan nada bercanda, meskipun ada kejujuran di balik ucapannya.
Bella menoleh dan tersenyum kecil. “Mungkin. Tapi aku pikir, aku nggak pernah merasa lebih bahagia daripada hari ini.”
Dona ikut tersenyum. “Kalau begitu, aku ikut bahagia. Mulai sekarang, kita bertiga adalah keluarga.”
Saat mereka membawa Lita pulang ke rumah, Bella tidak bisa berhenti memandangi bayi itu. Lita memang memiliki kemiripan yang mencolok dengannya, dari bentuk wajah hingga ekspresi tidurnya yang tenang.
“Dona,” Bella memanggil sambil memandangi Lita yang tertidur di gendongannya.
“Hm?” jawab Dona sambil melirik ke arah Bella.
“Terima kasih sudah setuju melakukan ini denganku.”
Dona tersenyum, lalu menjawab pelan, “Aku juga berterima kasih. Aku senang bisa menjadi bagian dari hidupmu... dan hidup Lita.”
Bella tidak menjawab, hanya tersenyum sambil memeluk bayi itu lebih erat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa hatinya benar-benar penuh.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.