Hari itu, Dona duduk di ruang istirahat dokter dengan ponsel di tangannya. Ia tahu kabar ini tak akan mudah disampaikan. Setelah menarik napas panjang, ia menelepon Bella.
“Halo?” suara Bella terdengar di ujung telepon, ceria seperti biasanya.
“Aku harus memberitahumu sesuatu,” kata Dona, suaranya rendah dan hati-hati.
“Apa?” Nada Bella berubah menjadi serius, menangkap sesuatu yang tidak biasa.
“Aina... dia mengalami kecelakaan di rumah sakit. Dia terpeleset di tangga dan...” Dona terdiam sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan. “Dia mengalami keguguran.”
Keheningan yang panjang terjadi di antara mereka. Bella akhirnya bersuara, suaranya serak. “Apa? Keguguran? Tapi... Aina sangat menantikan bayinya...”
“Aku tahu,” jawab Dona lembut. “Dia sekarang dirawat, tapi secara emosional... dia masih belum menerima kenyataan ini.”
Bella menghela napas panjang. “Aku akan ke sana. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya sekarang.”
Bella menghubungi ibunya dan bersama-sama mereka pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Bella teringat percakapan dengan Aina beberapa bulan lalu. Wajah adiknya bercahaya saat menceritakan betapa dia menantikan kehadiran bayinya.
Ketika mereka tiba di rumah sakit, Dona menunggu di depan ruang rawat. Melihat Dona, Bella langsung bertanya, “Bagaimana kondisinya?”
Dona mengangguk pelan. “Secara fisik, dia stabil. Tapi secara emosional... dia masih dalam fase denial. Dia terus bertanya tentang bayinya.”
Bella dan ibunya masuk ke ruang rawat. Aina terbaring di ranjang, wajahnya pucat dan lemah. Namun, matanya langsung berbinar ketika melihat mereka.
“Kak Bella, Mama...” Aina berusaha tersenyum, meski senyumnya tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
“Bagaimana perasaanmu, sayang?” tanya ibunya lembut, duduk di samping Aina.
Aina tersenyum samar. “Aku baik-baik saja, Ma. Bayiku juga pasti baik-baik saja, kan? Aku ingin segera pulang dan merawatnya.”
Bella terdiam, hatinya mencelos mendengar kata-kata itu. Ia tahu Aina sedang menyangkal kenyataan. Matanya memanas, tapi ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Aina...” Bella mencoba berbicara, tetapi suaranya serak. “Aku tahu ini sulit, tapi kamu harus kuat.”
“Kenapa semua orang berbicara seolah-olah sesuatu yang buruk telah terjadi?” Aina memotong, suaranya mulai bergetar. “Bayiku baik-baik saja. Aku yakin!”
Bella tidak sanggup menjawab. Ia memeluk Aina erat, mencoba memberikan ketenangan. Ibunya mengusap rambut Aina dengan lembut, air matanya jatuh tanpa suara.
Dona masuk perlahan, membawa segelas air. Dia mendekati Bella yang tampak kehilangan kata-kata. “Bella, biarkan waktu yang menyembuhkan. Ini adalah proses yang harus dia lalui,” bisik Dona.
Bella menoleh pada Dona, air mata menggenang di matanya. “Aku tidak tahan melihatnya seperti ini, Dona. Dia selalu kuat, selalu ceria. Tapi sekarang...”
Dona menatap Bella, lalu menggenggam tangannya. “Aina akan melewati ini. Dan kamu juga harus kuat untuknya. Dia butuh kamu.”
Bella mengangguk pelan, berusaha menenangkan dirinya. Dalam hati, ia bersumpah akan melakukan apapun untuk membantu adiknya melewati masa sulit ini. Dengan dukungan keluarganya, Bella yakin mereka akan menemukan cara untuk menyembuhkan luka yang mendalam ini.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Bella Mooi (END)
RomansaBella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang. dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
