Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Bella terbatuk-batuk sepanjang perjalanan menuju daycare untuk menjemput Lita. Masker yang menutupi wajahnya sedikit menghalangi napas, tetapi dia tetap memakainya untuk melindungi orang-orang di sekitarnya, terutama Lita.
Saat tiba di rumah, Bella langsung mengganti popok Lita, memberikan susu, dan berusaha bermain dengannya seperti biasa. Namun, tubuhnya mulai terasa lemas, dan kepalanya berdenyut. Dia menyandarkan diri di sofa sambil memeluk Lita yang tertawa kecil saat menggenggam jarinya.
Ponselnya bergetar, menampilkan nama Dona di layar. Bella menggeser tombol hijau. "Halo?"
“Kak, aku nggak bisa pulang malam ini. Aku tukar jaga malam dengan temanku,” ujar Dona dengan nada menyesal.
“Oh, nggak apa-apa. Aku baik-baik saja,” jawab Bella sambil mencoba menutupi suara batuknya.
Namun, Dona tidak mudah dibohongi. “Kamu batuk-batuk. Apa kamu sakit?”
“Cuma nggak enak badan biasa,” elak Bella. “Aku masih bisa urus Lita.”
“Tunggu, aku akan bicara dengan temanku lagi,” kata Dona tegas sebelum menutup telepon.
Bella mendesah panjang. “Berlebihan,” gumamnya.
Malam semakin larut, dan Bella merasa semakin tidak berdaya. Lita tertidur dalam gendongannya, tetapi Bella tidak mampu bangkit untuk memindahkan bayi itu ke tempat tidur. Dia tertidur di sofa dengan Lita masih di pelukannya, tubuhnya terasa panas seperti dibakar.
Saat Dona tiba di rumah, dia menemukan Bella dan Lita tertidur di depan TV. Dona segera mendekat dan menyentuh dahi Bella. Panas tubuhnya membuat Dona terkejut.
“Kak Bella!” serunya dengan cemas, menggoyang-goyangkan bahunya.
Bella membuka mata dengan lemah, pandangannya buram. “Apa sih? Jangan ganggu... aku capek...”
“Kamu demam tinggi! Kenapa nggak bilang?” Dona memarahi sambil menggendong Bella ke kamarnya.
Bella, yang terlalu lemah untuk melawan, hanya bisa menggerutu. “Lepasin aku! Aku bisa jalan sendiri!”
“Bisa jalan sendiri gimana? Kamu bahkan nggak bisa duduk tegak,” balas Dona sambil membaringkan Bella di tempat tidur.
“Aku nggak mau diurusin kayak gini. Aku baik-baik saja,” ujar Bella dengan nada lemah, meskipun dia tahu argumennya tidak meyakinkan.
Dona mengabaikan protes Bella. Dia mengambil kain basah dan mengompres dahi Bella, lalu menyiapkan air putih dan termometer untuk mengecek suhu tubuhnya.
“Minum ini,” kata Dona sambil menyodorkan segelas air.
Bella mendengus. “Kamu pikir aku ini anak kecil?”
“Kamu memang lebih susah diurus daripada anak kecil,” balas Dona, tetapi senyum kecil tersungging di wajahnya.
Melihat perhatian Dona yang tulus, Bella akhirnya menyerah. “Terima kasih,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
“Jangan terlalu keras kepala, Kak. Kalau kamu sakit, bilang,” kata Dona sambil mengatur selimut Bella.
Bella hanya mengangguk lemah. Saat Dona kembali memeriksa Lita yang masih tidur lelap di tempat tidur bayi, Bella memandangnya dengan mata setengah terbuka. Ada perasaan hangat yang sulit ia jelaskan, meskipun tubuhnya sedang demam tinggi.
Malam itu, Dona merawat Bella dengan penuh perhatian, memastikan suhu tubuhnya menurun dan dia beristirahat dengan nyaman. Bella diam-diam merasa bersyukur, meskipun ia tahu dirinya terlalu keras kepala untuk mengakuinya langsung.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.