40. Kecelakaan

1.8K 256 40
                                        

Malam itu, Aina berada di ruang perawatan anak bersama Dona, seorang PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) yang belakangan sering disebut-sebut sebagai calon suami Bella. Aina masih sulit percaya bahwa lelaki ini adalah orang yang telah berhasil meluluhkan hati kakaknya yang terkenal perfeksionis. Bella dulu selalu berkata hanya akan menikah dengan seorang CEO kaya raya atau seseorang yang setara dengannya dalam status sosial.

Dona tengah sibuk memeriksa rekam medis pasien di komputer, wajahnya penuh konsentrasi. Aina yang sedang duduk di sebelahnya tidak tahan untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di benaknya.

“Dona,” panggil Aina, suaranya ragu-ragu.

Dona menoleh, tersenyum tipis. “Ada apa, Dok?”

Aina mengambil napas dalam-dalam. “Aku masih nggak habis pikir, gimana caranya kamu bisa cocok sama kakakku, Bella. Maksudku… dia kan terkenal keras kepala, jutek, dan—jujur saja—mungkin orang terakhir di dunia yang kupikir akan pacaran dengan PPDS.”

Dona tertawa kecil, tapi tidak tersinggung. “Banyak yang bilang begitu. Tapi aku nggak melihat Bella seperti itu.”

“Serius? Apa yang kamu lihat darinya sampai kamu yakin mau menghabiskan hidup dengan orang seperti dia?” Aina bertanya dengan nada skeptis, meski tidak bermaksud menyakiti.

Dona tersenyum lebar, matanya berbinar saat mulai bercerita. “Bella itu sebenarnya orang yang sangat peduli, cuma dia nggak pernah menunjukkannya dengan cara yang biasa. Aku pernah sakit waktu ujian, dan dia yang merawatku. Padahal aku tahu dia sibuk banget. Selain itu, dia selalu jujur. Kalau ada yang salah, dia langsung bilang. Aku lebih suka orang seperti itu daripada yang suka ngomong di belakang.”

Aina terdiam, terkejut mendengar sisi Bella yang tidak pernah ia ketahui. “Aku… nggak pernah dengar cerita itu. Bella jarang banget melakukan sesuatu tanpa mengeluh.”

“Dia emang suka mengeluh,” kata Dona sambil tertawa. “Tapi aku rasa itu cuma caranya mengungkapkan stres. Di balik semua itu, dia orang yang kuat, mandiri, dan penuh kasih. Itu alasan kenapa aku yakin ingin bersama dia.”

Aina tidak tahu harus berkata apa. Mendengar penuturan Dona, hatinya melunak. Ia mulai berpikir bahwa mungkin Bella memang menemukan pasangan yang tepat.

Saat itu, seorang perawat mendekati Aina. “Dok, ini berkas pasien yang diminta tadi.”

“Oh, iya. Terima kasih.” Aina menerima tumpukan berkas yang cukup berat. Ia bangkit berdiri, berniat membawa semuanya ke ruang kerjanya tanpa menunggu Melani, rekannya yang biasanya membantu.

“Aku bantu?” tawar Dona.

“Tidak usah, aku bisa sendiri,” jawab Aina cepat.

Ia melangkah keluar, membawa berkas-berkas itu dengan hati-hati. Namun saat menuruni tangga, salah satu berkas terlepas dari genggamannya. Aina mencoba menangkapnya, kehilangan keseimbangan, dan akhirnya tergelincir.

“Aina!” Dona yang kebetulan lewat langsung berlari ke arahnya.

Aina jatuh terguling hingga ke anak tangga terakhir, tubuhnya terhempas dengan keras. Saat kepala Aina terbentur lantai, pandangannya mulai gelap. Suara Dona yang memanggilnya terdengar semakin jauh hingga semuanya menghilang.

***

Votes dan komen ya.

Votes dan komen ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bella Mooi (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang