51

1.1K 148 20
                                        

Pagi itu, Dona sedang berdiri di dekat nurse station, memeriksa berkas pasien di tangannya. Rumah sakit sedang sibuk seperti biasa, tetapi Dona mencoba fokus. Namun, fokusnya terganggu ketika seorang mahasiswa perawat yang sedang magang mendekatinya dengan senyum manis.

“Dokter Dona,” sapa mahasiswa itu, seorang perempuan muda dengan rambut panjang yang diikat rapi. “Pagi, Dok. Ada waktu sebentar?”

Dona menoleh, berusaha menjaga sikap profesional meskipun ia sudah merasa risih. “Pagi. Ada apa?” tanyanya singkat.

Mahasiswa itu menggigit bibirnya dengan malu-malu, lalu berkata, “Enggak, cuma mau bilang kalau Dokter Dona kelihatan keren banget hari ini.”

Dona mendesah dalam hati. Ini bukan pertama kalinya mahasiswa ini mengomentari penampilannya. “Terima kasih. Tapi kalau tidak ada yang penting, saya harus kembali bekerja.”

Bukannya mundur, mahasiswa itu malah terkekeh. “Dokter Dona dingin banget sih. Jangan gitu lah, Dok, bisa jadi saya ini istri masa depan Dokter loh."

Dona terdiam sejenak, bingung antara harus kesal atau tertawa karena pernyataan itu. Ia memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat. “Maaf, tapi saya sudah punya istri.”

Mahasiswa itu tertawa kecil, tidak percaya. “Ah, Dok, bercanda, ya? Mana mungkin Dokter Dona sudah menikah.”

Dona hampir kehilangan kesabarannya ketika ia melihat Bella berjalan melewati koridor. Tanpa pikir panjang, Dona memanggil, “Sayang! Sini sebentar.”

Bella berhenti di tempat, wajahnya langsung menunjukkan kebingungan. “Sayang?” ulang Bella, suaranya sedikit keras.

Dona segera menghampiri Bella dan menggandeng tangannya dengan erat. “Tolong bantu aku,” bisiknya dengan nada mendesak.

Bella, yang masih bingung, akhirnya menuruti permintaan Dona. “Ada apa, Dok?” tanya Bella dengan nada formal, berusaha terlihat tenang meskipun ia merasa canggung.

Dona menoleh ke mahasiswa itu dan berkata, “Ini istri saya, Bella. Jadi, kalau Anda masih berpikir saya belum menikah, Anda salah.”

Mahasiswa itu memandang Bella dengan kaget. “Oh, maaf, Dok. Saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak bermaksud apa-apa.”

Bella tersenyum tipis, meskipun ia merasa geli sekaligus sedikit kesal. “Tidak apa-apa. Saya tahu suami saya ini memang punya pesona yang sulit ditolak.”

Mahasiswa itu tampak gugup dan segera pamit. “Maaf sekali lagi, Dok. Saya tidak akan mengganggu lagi.”

Setelah mahasiswa itu pergi, Bella menarik tangannya dari genggaman Dona. “Apa-apaan tadi itu?” tanyanya dengan nada kesal.

Dona menghela napas lega. “Dia terus mendekati aku, dan aku sudah bilang kalau aku menikah, tapi dia tidak percaya. Jadi aku butuh bantuanmu untuk membuktikannya.”

Bella memutar matanya. “Kamu ini bikin masalah terus.”

“Maaf, tapi aku tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Kamu kan istri kontrakku,” kata Dona dengan nada sedikit bercanda.

Bella mendengus, tetapi ia tidak bisa menahan senyum tipis. Namun, dalam hatinya, ada sedikit rasa cemburu yang menggelitik. “Lain kali, cari cara lain yang tidak melibatkan aku, ya.”

Dona tertawa kecil. “Baik, sayang.”

“Dan jangan panggil aku sayang,” tegur Bella, wajahnya memerah.

Dona hanya tersenyum, merasa senang karena masalahnya terselesaikan. Bella, di sisi lain, merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya—sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bella Mooi (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang