Hari itu, Bella, Dona, dan Lita hadir di arisan keluarga besar Prawirohardjo di rumah Kakek. Suasana ramai dengan meja penuh makanan lezat, dan para anggota keluarga sibuk bercengkerama. Kakek menyambut mereka dengan wajah berseri-seri, terutama saat melihat Lita yang digendong oleh Bella.
“Cucu baruku akhirnya datang ke arisan,” ujar Kakek dengan bangga, sambil mengelus pipi Lita yang menggemaskan.
Dona tersenyum tipis, sementara Bella merasa canggung karena semua perhatian tertuju pada mereka. Namun, dia tetap berusaha tenang demi menjaga suasana.
Setelah makan siang, Bella berdiri sendirian di sudut ruangan, mengamati Lita yang kini sedang digendong oleh salah satu sepupu kecilnya. Dari arah belakang, menantu Kakek yang paling menyebalkan, Budhe Endang, mendekatinya dengan senyum yang tampak sopan namun menyimpan nada sindiran.
“Bella,” sapa Bu Endang, memulai percakapan dengan nada ramah. “Aku masih nggak percaya kamu akhirnya menikah. Kamu kan dulu terkenal tidak mau menikah, apalagi punya anak.”
Bella memutar matanya, berusaha tetap sopan. “Ya, orang bisa berubah, Budhe.”
Namun, Bu Endang tidak berhenti di situ. Dengan suara pelan namun menusuk, dia berkata, “Tapi jujur saja, Bella, apa alasan sebenarnya? Jangan-jangan karena saham yang Kakek janjikan, ya? Soalnya aneh sekali, tiba-tiba kamu menikah dan langsung mengadopsi anak.”
Bella merasakan wajahnya memanas karena marah. Dia mengepalkan tangan, berusaha menahan emosinya. “Budhe, sebaiknya jangan menuduh sembarangan. Saya menikah karena keputusan saya sendiri, bukan karena alasan lain.”
Bu Endang tersenyum tipis, jelas menikmati reaksinya. “Oh, Bella, kamu nggak perlu marah. Saya cuma bercanda kok. Tapi, ya, kalau ada sedikit kebenaran di balik candaan saya, itu wajar saja, kan?”
Bella hampir membuka mulut untuk membalas ketika Dona muncul di belakangnya, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam.
“Budhe,” ujar Dona dengan nada datar namun tegas, “kalau Bella menikah demi saham, kenapa saya ikut menikah dengannya? Saya nggak punya kepentingan apa-apa selain mencintai Bella dan ingin membangun keluarga dengannya.”
Bu Endang tampak kaget mendengar jawaban langsung itu. Tapi Dona belum selesai. “Dan soal Lita, kami mengadopsinya karena kami ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya, bukan karena uang atau saham.”
Keheningan menyelimuti ruangan, membuat beberapa anggota keluarga yang mendengar percakapan itu berhenti berbicara.
Kakek, yang sejak tadi memperhatikan dari jauh, akhirnya berdiri dan berjalan mendekat. Dengan nada yang tegas namun tenang, dia berkata, “Endang, kalau kamu datang ke arisan ini hanya untuk menciptakan keributan, lebih baik kamu tidak usah datang lagi.”
Bu Endang terlihat pucat mendengar peringatan itu. “Maaf, Ayah,” katanya dengan suara kecil. “Saya hanya bercanda. Tidak bermaksud menyinggung siapa pun.”
“Candaan yang tidak lucu,” balas Kakek, sebelum berbalik dan kembali menggendong Lita.
Bella menatap Kakek dengan rasa syukur yang dalam. Saat Bu Endang menjauh, dia memandang Dona dengan sorot mata penuh terima kasih.
“Terima kasih,” bisiknya pelan.
Dona tersenyum kecil. “Itu sudah tugasku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu.”
Kakek, yang kini kembali bersama mereka, menatap Bella dan Dona dengan hangat. “Jangan pedulikan orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Yang penting, kalian saling mendukung. Itu sudah cukup.”
Bella mengangguk pelan, merasa tenang meskipun sebelumnya sempat kesal. Dia tahu, selama ada Dona dan Kakek, dia tidak perlu merasa sendirian menghadapi segala kritik dan tuduhan.
***
Give away time! 3 orang komen tercepat di chapter terbaru Jejak Kasar Mata yang update hari ini akan dapat voucher baca senilai 5k di karyakarsa. Komen template macam, "lanjut" dan sejenisnya nggak dihitung ya. Silakan langsung komen di TKP bagi yang berminat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bella Mooi (END)
RomanceBella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang. dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
