Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Bella dan Dona duduk di ruang tamu mewah rumah kakek. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal menggantung, memancarkan cahaya lembut yang membuat ruangan terasa megah. Kakek duduk di kursinya, terlihat bersemangat setelah mendengar rencana mereka.
"Jadi, kalian benar-benar mau menikah?" tanya Kakek dengan mata berbinar.
Bella mengangguk dengan wajah serius. "Ya, Kek. Aku ingin menikah dengan Dona."
Kakek tersenyum lebar, tangannya menepuk-nepuk lutut. "Ini kabar terbaik tahun ini! Akhirnya, cucuku mau menikah!"
Dona hanya tersenyum kaku, sementara Bella melanjutkan, "Tapi, Kek, aku mau Kakek yang jadi wali. Aku nggak mau melibatkan Ayah."
Kakek menggeleng dengan tegas. "Tidak bisa, Bella. Ayahmu masih hidup, dan itu kewajibannya sebagai wali. Aku tidak bisa mengambil hak itu darinya."
Bella mendesah keras, jelas tidak setuju. "Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau Ayah terlibat dalam hal ini."
"Ini bukan soal keinginanmu, Bella. Ini soal adat dan agama," balas Kakek dengan nada lembut tapi tegas.
Bella mendengus, bersandar di kursinya. "Kalau begitu, aku mau pernikahannya sederhana saja, Kek. Tidak perlu acara besar-besaran."
Mata Kakek menyipit, senyum kecil muncul di wajahnya. "Sederhana? Bella, kamu tahu menikahkan cucuku adalah kebanggaan terbesar untukku. Aku harus mengundang kolega-kolega lama, para mitra bisnis, dan teman-teman. Bagaimana mungkin pernikahan ini sederhana?"
Bella menatap Kakek dengan ekspresi tidak percaya. "Tapi, Kek, ini cuma... hanya..." Bella menggigit bibirnya, tidak melanjutkan.
Kakek menggeleng lagi. "Tidak ada yang setengah-setengah dalam pernikahan, Bella."
Bella mendesah panjang, merasa kesal. "Kalau begitu, aku izin ke toilet dulu, Kek. Biar aku tenangkan diri."
Setelah Bella pergi, Kakek menoleh ke Dona. "Jadi, Nak Dona, apa benar kamu ingin menikah dengan Bella? Apa alasanmu?"
Dona terdiam sesaat, merasa gugup dengan pertanyaan itu. Namun, tanpa sadar, dia menjawab dengan jujur, "Karena saya mencintai Bella, Kek."
Kakek mengangkat alisnya, tersenyum lebar. "Cinta, ya? Sejak kapan?"
Dona menunduk sedikit, mencoba merangkai kata. "Saya tidak tahu sejak kapan tepatnya. Tapi, meskipun dia jutek dan galak, dia punya sisi lembut yang membuat saya tidak bisa berhenti memikirkannya."
Kakek tertawa kecil, matanya berbinar. "Jujur saja, Nak Dona, aku tidak pernah membayangkan Bella bisa menyukai seseorang, apalagi menikah. Dia terlalu keras kepala dan trauma pada ayahnya."
Dona mengangguk pelan. "Saya juga tidak menyangka dia akan memilih saya. Tapi saya janji, Kek, saya akan menjaga Bella."
Kakek menepuk bahu Dona dengan bangga. "Terima kasih, Dona. Aku bersyukur ada kamu yang bisa mengubah pendirian Bella. Jagalah dia, karena dia butuh seseorang yang sabar seperti kamu."
Dona tersenyum kecil, merasakan beban baru di hatinya. Tapi, anehnya, ia juga merasa lega. Ketika mengucapkan bahwa dia mencintai Bella, dia sadar bahwa itu bukan sekadar alasan untuk pernikahan kontrak—itu adalah kenyataan.
Saat Bella kembali ke ruangan, dia menatap Dona dan Kakek dengan curiga. "Apa yang kalian bicarakan?"
Kakek tersenyum penuh arti. "Tidak ada yang penting. Kami hanya menyetujui bahwa pernikahan ini akan menjadi salah satu momen terbaik dalam hidupku."
Bella mendengus, lalu duduk kembali di sofa. Dia melirik Dona, yang kini menatapnya dengan tatapan lembut. Namun, Bella mengabaikannya, tidak menyadari bahwa perasaan Dona terhadapnya telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.