Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Bella duduk di sofa ruang tamu, memandangi Lita yang tertidur lelap di boks bayi. Tangannya memegang ponsel, sibuk berbicara dengan ibunya di telepon.
"Bagaimana kabar kamu dan Lita?" tanya suara lembut ibunya di seberang.
"Kami baik, Bu. Mengurus bayi ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan. Aku bisa melakukannya," jawab Bella dengan nada penuh percaya diri.
Di seberang sana, ibunya tertawa kecil. "Ibu masih nggak percaya kamu, yang dulu selalu mengatakan nggak ingin punya anak, sekarang malah mengadopsi bayi dan menikah. Apa yang sebenarnya mengubahmu?"
Bella terdiam sejenak, pandangannya beralih pada Lita yang menggeliat dalam tidurnya. "Mungkin Dona," jawabnya akhirnya.
Dari luar pintu, Dona yang baru pulang dari rumah sakit berdiri dengan diam-diam. Ia mendengar suara Bella dengan jelas, penasaran dengan apa yang akan dikatakan Bella.
"Dona?" Ibunya terdengar bingung.
Bella menghela napas pelan, seakan memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Entahlah, Bu. Aku sendiri nggak tahu. Aku hanya ... menyukainya. Begitu saja."
Dona tersentak. Jantungnya berdegup lebih cepat. Apakah Bella sungguh-sungguh? Atau ini hanya akting untuk memperkuat peran mereka di depan keluarga?
"Hmm, Dona pasti sangat istimewa kalau sampai bisa mengubah pendirianmu," kata ibunya dengan nada menggoda.
Bella tersenyum kecil. "Dia memang berbeda, Bu. Kadang menyebalkan, tapi dia selalu ada di saat yang penting."
Dona menahan napas, mendengar setiap kata Bella. Ia tidak menyangka, bahkan dalam konteks pernikahan kontrak mereka, Bella bisa berbicara seperti itu.
"Ngomong-ngomong," suara ibunya berubah serius, "aku masih khawatir tentang Aina. Dia kelihatan sangat terpukul setelah kehilangan bayinya."
Ekspresi Bella langsung berubah. "Aku juga khawatir, Bu. Tapi aku nggak tahu harus bagaimana. Apa Aina sudah lebih baik sekarang?"
Ibunya menghela napas. "Nggak juga. Dia masih sering termenung. Kemarin, aku juga baru tahu kalau suaminya ternyata terjerat pinjaman online. Rumah mereka sempat didatangi para penagih utang."
"Apa?" Bella terdengar terkejut. "Pinjol? Kok bisa? Mereka kurang uang atau gimana?"
"Jumlahnya memang tidak besar, hanya 17 juta," kata ibunya.
Bella terdiam sejenak, lalu mengerutkan kening. "Tujuh belas juta?" ulangnya dengan nada tidak percaya. "Tas Hermes yang Aina koleksi harganya jauh lebih mahal dari itu."
"Memang," ibunya mengakui. "Tapi bukan jumlahnya yang mengagetkan. Bagaimana mungkin dia memilih pinjaman online daripada berbicara dengan Aina? Ini membuatku berpikir, apakah komunikasi mereka buruk?"
Bella mendengus. "Bu, aku kan sudah bilang dari dulu, firasatku tentang Habib nggak pernah baik. Dia memang tampak seperti orang baik, tapi di dalamnya aku selalu merasa ada sesuatu yang nggak beres."
Ibunya menghela napas. "Bella, jangan terlalu cepat menilai. Kamu tahu, Habib meminjam uang itu bukan untuk sesuatu yang buruk. Dia menggunakannya untuk investasi kripto. Dan dari yang kudengar, investasi itu sebenarnya cukup berhasil."
"Investasi kripto? Lalu kenapa dia harus meminjam uang lewat pinjol?" Bella masih tidak habis pikir.
"Itu yang Ibu juga nggak paham," jawab ibunya. "Tentu saja Ibu nggak membenarkan caranya. Pinjaman online itu berbahaya, bunganya mencekik. Tapi mungkin Habib merasa dia nggak bisa meminta uang pada Aina."
"Kenapa? Bukannya Aina punya banyak uang?" Bella bertanya dengan nada tajam.
"Justru itu, Bella," ibunya menjelaskan. "Kadang, pria bisa merasa gengsi meminta uang pada istri mereka, apalagi jika istri mereka lebih mapan. Mungkin Habib takut terlihat nggak mampu."
Bella tertawa sinis. "Jadi dia lebih memilih berutang daripada terbuka pada istrinya? Hebat sekali, Bu."
"Bella," ibunya menegur lembut, "ini nggak sesederhana itu. Ada banyak faktor dalam hubungan suami-istri yang kita nggak tahu. Tapi Ibu bersyukur, karena kalau masalahnya hanya uang, itu masalah kecil."
"Kecil?" Bella mengangkat alisnya, meski tahu ibunya tidak bisa melihat.
"Dibandingkan dengan masalah seperti perselingkuhan," jawab ibunya tegas. "Masalah uang masih bisa diselesaikan. Tapi perselingkuhan? Itu menghancurkan segalanya."
Ucapan ibunya membuat Bella terdiam. Ia teringat pada ayahnya, pada bagaimana keluarga mereka hancur karena pengkhianatan. Akhirnya ia mengangguk pelan, meski ibunya nggak bisa melihat. "Ibu benar. Tapi tetap saja, ini membuatku nggak nyaman."
"Ibu paham," ibunya menjawab dengan nada lembut. "Tapi kita nggak boleh terlalu cepat menghakimi. Mungkin ini saatnya Aina dan Habib membangun komunikasi yang lebih baik. Semua pernikahan pasti ada tantangannya. Kamu juga harus menjaga komunikasi dengan suamimu ya."
"Iya, tentu saja. Tapi suamiku nggak mungkin terjerat pinjol," elak Bella.
"Ya sudah, ibu sudah tenang kalau kamu baik-baik saja. Nanti ibu akan mampir kalau pekerjaan ibu di sini sudah selesai ya."
"Iya, Bu."
Setelah telepon ditutup, Bella memandang Lita lagi. Bayi itu bergerak sedikit, menggumam dalam tidurnya. Dalam hati, Bella membayangkan bagaimana perasaan Aina saat kehilangan bayinya. Membayangkan Lita tiada saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
Dona masuk ke ruangan dengan langkah pelan. Bella mendongak dan menatapnya. "Kamu sudah pulang?"
Dona mengangguk sambil tersenyum tipis. "Aku dengar pembicaraanmu tadi. Jadi, kamu menyukaiku?"
Bella melotot. "Jangan kepedean! Aku bilang aku menyukaimu sebagai teman dan partner."
Dona tertawa kecil. "Oke, kalau begitu. Tapi... kamu tahu, aku juga selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi."
Bella hanya mendengus sambil kembali melihat Lita. Dalam hatinya, ia merasa beruntung memiliki seseorang seperti Dona di sisinya.
***
Adakah yang menunggu cerita ini update? Votes dan komen ya guys. Ada voucher gratis untuk kamu yang penasaran banget sama lanjutan ceritanya. Langsung ke karyakarsa aja ya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.