46. Kolik

2.4K 295 31
                                        

Bella berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menggendong Lita yang terus menangis tanpa henti. Bayi mungil itu sudah diberi susu, popoknya baru saja diganti, dan Bella sudah mencoba segala cara yang dia pelajari—tapi tangisannya tetap tidak mereda.

“Lita, sayang, kenapa nangis terus? Mama bingung,” gumam Bella, panik. Dia mencoba mengayun-ayunkan tubuh Lita dengan lembut, berharap bayi itu akhirnya tenang. Tapi usaha itu sia-sia. Tangis Lita malah semakin keras.

Ketika pintu rumah akhirnya terbuka dan Dona masuk dengan tas kerja tergantung di bahunya, Bella langsung melesat menghampirinya. “Don! Tolong lihat Lita! Aku enggak tahu kenapa dia terus nangis. Kita perlu ke dokter, ya?”

Dona segera meletakkan tasnya dan menghampiri Bella. Dia dengan tenang mengambil Lita dari pelukan Bella. “Tenang, Kak. Biarkan aku periksa dulu.”

Dona mengamati Lita dengan teliti, menepuk-nepuk punggungnya untuk memastikan tidak ada udara yang terjebak. Dia mendengarkan suara tangisan bayi itu, memeriksa perutnya, dan setelah beberapa saat, Dona menyimpulkan, “Lita kolik.”

“Kolik? ” Bella mengerutkan kening, tampak bingung. Meskipun dulu pernah belajar tentang neonatologi saat kuliah dokter umum, tapi ilmu Bella sudah menguap karena terkena arus skincare.

“Itu kondisi biasa pada bayi, terutama yang masih kecil. Biasanya terjadi karena gas terjebak di perutnya, atau dia merasa nggak nyaman. Jangan khawatir, ini bisa diatasi.”

Dona segera mengambil kain lembut dan mengajari Bella posisi “tummy hold” di mana perut bayi diletakkan di atas lengan sambil diayun perlahan. Dia juga menginstruksikan Bella untuk memijat lembut perut Lita dengan gerakan searah jarum jam. Dengan sabar, Dona menangani bayi itu, dan dalam waktu kurang dari lima belas menit, tangisan Lita perlahan mereda.

Bella menghela napas lega saat Lita akhirnya tertidur di pelukan Dona. “Aduh, terima kasih banget, Don. Aku sudah hampir gila tadi,” katanya dengan nada setengah bercanda.

Dona tersenyum, meletakkan Lita di tempat tidurnya dengan hati-hati. “Ini memang tantangan jadi orang tua, Bella. Enggak semua hal bisa kamu tangani sendiri. Jadi, bagaimana perasaanmu?”

Bella terdiam sejenak sebelum menjawab. “Tadi aku cuma khawatir Lita sakit. Kalau terjadi sesuatu sama dia, aku nggak tahu apa yang harus kulakukan. Rasanya seperti ... aku gagal.”

Dona menatap Bella, terkejut sekaligus takjub. “Kamu benar-benar berubah, Kak. Aku ingat waktu pertama kali kita bicara soal anak, kamu bilang anak itu beban.”

Bella mendesah dan duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya. “Ya Allah, Don. Berapa kali kamu akan mengungkit hal itu?”

“Kenapa kamu bilang begitu waktu itu?” tanya Dona lagi, tetap penasaran.

Bella mendelik ke arahnya, tapi akhirnya menjawab. “Waktu itu aku lelah. Ada netizen yang terus-terusan menyerangku di kolom komentar. Mereka bilang aku egois karena memutuskan untuk nggak punya anak. Mereka nggak tahu apa-apa soal hidupku, tapi merasa berhak menghakimiku. Jadi aku jawab saja asal.”

Dona tertawa kecil, duduk di sebelah Bella. “Dan sekarang, orang yang katanya children-free itu malah stres gara-gara bayinya kolik.”

Bella tersenyum tipis, lalu menatap Lita yang tidur nyenyak. “Ya, aku berubah. Tapi hanya untuk Lita.”

Dona memperhatikan ekspresi Bella yang lembut dan penuh kasih, dan sekali lagi dia merasa bahwa Bella telah menemukan sisi dirinya yang bahkan tidak pernah dia sadari.

***

Votes dan komen ya gaes

Votes dan komen ya gaes

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bella Mooi (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang