2 | Essential

1.6K 283 14
                                        

Makan malam sudah selesai. Kayu bakar di dalam perapian baru saja ditambahkan. Ibu dan ayahnya duduk bercengkerama dengan Junmyeon, banyak bertanya tentang kegiatan pria tersebut selama dua bulan ini sejak terakhir kali mengunjungi Asahikawa.

Joohyun baru saja selesai mencuci piring. Mengeringkan tangannya, lalu mengucir satu rambutnya dengan ikat hitam yang selalu melingkar di pergelangan tangan. Joohyun beranjak pelan menghampiri mereka bertiga. Dia tersenyum saat sang ibu memberikan tatapan. "Apa aku boleh pinjam Junmyeon dulu, Ibu? Aku membeli sake di swalayan sore tadi, ingin meminumnya bersama Junmyeon."

"Tentu saja, Rene-chan. Junmyeon, kau bisa pergi, Nak. Ibu akan melanjutkan obrolan bersama Ayah."

Junmyeon mengangguk pamit, berdiri meninggalkan kehangatan perapian. Langkahnya mengikuti Joohyun menuju lantai dua. Masuk ke dalam kamar Joohyun, lalu menepi ke jendela. Sudah ada satu botol sake dan dua gelas. Joohyun sudah menyiapkan semuanya, bahkan selimut hangat juga tersedia.

"Kau tidak meminum sake seperti minum soju, 'kan? Aku tidak harus menuangkannya untukmu." Joohyun mengambil gelasnya, menuangkan isi sake untuk dirinya sendiri.

Junmyeon dibuat menaikkan alisnya. Mungkin terdengar tidak sopan untuk ukuran orang biasa yang baru bertemu untuk pertama kali. Namun, saat Joohyun menyodorkan gelas yang sudah terisi tadi kepada Junmyeon, pria itu tahu bahwa Joohyun sedang bercanda. "Terima kasih, Joohyun," ucapnya mengangkat gelas seperti sedang meminum anggur merah.

"Kind of unique, you are." Joohyun memberikan tanggapan atas tingkah Junmyeon.

"So you are," balas Junmyeon dan kali ini menuangkan sake untuk Joohyun. "Selama kau di Washington, aku biasa tidur di kamar ini saat berkunjung. Ternyata ini kamarmu."

Joohyun memerhatikan kamarnya sejenak, lalu beralih menatap Junmyeon. "Secara teknis, iya. Tapi selama sepuluh tahun ditinggal, kamar ini beralih menjadi kamar tamu. Adikku juga sudah enam tahun tinggal di Seoul bersama Nenek. Jadi, rumah ini memiliki 3 kamar dengan 2 kamarnya menjadi kamar tamu."

"Bae Sooji? Aku dengar dia salah satu dermatolog muda terbaik di Bundang Hospital. Kalian memang kakak dan adik yang luar biasa," komentar Junmyeon, menyesap pelan sakenya dan menatap wajah Joohyun. Terpaan bulan musim dingin membuat mata Joohyun berkilat putih di atas hitam. Menawan.

"Kau juga anak yang luar biasa, Junmyeon-ssi. Ayahmu seorang profesor universitas, sedangkan ibumu mendedikasikan tenaga dan cintanya pada keluarga di rumah. Lihat dirimu sekarang. Kau adalah salah satu pemegang saham di Aeri Techno padahal kau bukan salah satu pewaris atau anak para petinggi di sana. Kau hanyalah orang asing yang pandai berbisnis. Kau membangun dinasti kejayaanmu sendiri, tanpa nama keluargamu di belakangnya. You're that man, Junmyeon-ssi. Pria yang benar-benar memenuhi preferensi pribadiku."

Sekali lagi Junmyeon merasa bahwa Joohyun adalah wanita yang tepat untuknya. Pola pikirnya, tutur katanya yang cerdas, kesederhanaannya, dan bagaimana dia bersikap berhasil membuat Junmyeon sejak tadi tersenyum. Sake di gelasnya sudah habis, tetapi Junmyeon tidak ingin tambah. Dia cukup tanggap menjaga tubuhnya dari mengonsumsi minuman berlakohol.

"Aku senang perjodohan ini berlangsung lancar, Joohyun. Dua tahun yang benar-benar mulus meski kita tidak pernah sekali pun berjumpa sebelumnya." Jumyeon melipat lengan sweater yang dia pakai hingga ke siku, lalu mengambil selimut hangat di samping mereka. Junmyeon memakaikannya kepada Joohyun. Melingkarkannya di pundak mungil wanita itu. "May I?" tanyanya meminta izin.

"Sure. You don't need permission." Joohyun tersenyum tipis, memberikan keleluasaan kepada Junmyeon untuk memeluknya yang berselimut dari belakang. Joohyun semakin merasa hangat kala kedua lengan kekar Junmyeon melingkupi tubuh mungilnya. Saat kepala Junmyeon beristirahat di pundaknya, Joohyun berkata. "Aku tidak pernah melakukan hal-hal manis seperti ini sebelumnya. It feels weird honestly. Tapi saat aku tahu kalau aku hanya akan mengalaminya denganmu, ini tidak buruk."

Junmyeon hampir tertawa saat Joohyun berkata demikian. Sekilas Junmyeon menangkap sisi polos Joohyun. Tidak perlu bertanya, karena dari proposal yang Junmyeon baca, Joohyun memang belum pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Dia menuang waktunya untuk berkuliah dan fokus meniti karier. Di salah satu lembar proposalnya tertulis, apabila Joohyun sudah merasa cukup finansial dan mencapai usia menikah ideal versinya, maka Joohyun akan mulai menimbang lamaran pria yang datang.

Keberuntungan bagi Junmyeon untuk mengambil langkah dua tahun lebih cepat. Minho memperkenalkan Joohyun yang saat itu menjadi akuntan intern di perusahaan swasta tempat Minho bekerja di Washington sebelum dia dipindahkan ke Tokyo.

Junmyeon sudah pernah melihat wajah Joohyun dari foto yang Minho kirimkan dan album yang diperlihatkan orangtua wanita itu saat Junmyeon berkunjung ke Asahikawa. Sedang Joohyun lebih memilih menjadikannya kejutaan saat dia kembali ke Jepang. Ibu dan ayahnya berkata bahwa Junmyeon anak yang menyenangkan serta berbagai pujian lainnya. Orangtua Joohyun memiliki pola pikir seperti anak-anaknya. Tegas kepada setiap sisi baik dan buruknya sesuatu. Oleh karena itu, Joohyun percaya dengan kalkulasi orangtuanya.

Cukup lama Junmyeon berada dalam posisi memeluk Joohyun dari belakang. Aroma pewangi pakaian yang menggelitik, seolah membius Junmyeon untuk tak segan menggesek hidungnya pada perpotongan leher Joohyun.

"Kau memiliki wangi yang unik," ucap Junmyeon dengan suara teredam, sedang Joohyun menahan diri untuk tidak menggeliat geli.

"Kau juga." Joohyun memilih berbalik menghadap Junmyeon. Hidung pria itu benar-benar membuatnya geli. "Bukan wangi parfum musk, vanila, atau pinus seperti yang biasa tertangkap oleh penciumanku dari pria-pria di kantor lamaku."

Secara refleks Junmyeon mengendus baunya sendiri. Mengangkat bagian leher sweater yang dia pakai. "Aku tidak suka memakai parfum," jawabnya menanggapi.

"Sempurna!" Joohyun menepuk pundak Junmyeon, lalu mengelusnya seperti sedang membersihkan debu. Matanya tidak menatap Junmyeon. "Aku suka pria dengan wangi sabun, sampo, atau body lotion yang bercampur dengan wangi alaminya sendiri. Kau esensial."

Joohyun kembali menyihir Junmyeon melalui kalimatnya. Senyum mereka bertemu satu sama lain. Seolah bisa mencairkan salju yang sudah memenuhi jalan salah satu kompleks perumahan di Asahikawa tersebut.

Junmyeon memainkan beberapa helai rambut yang menyapu pipi Joohyun. Kemudian dielusnya pipi yang merona tanpa butuh memakai riasan wajah tersebut. "Kau tidak akan tidur? Besok kita berangkat ke Tokyo dan menemui orangtuaku."

Joohyun sadar kalau sudah hampir satu jam mereka di sini. Hanya dengan segelas sake, pembicaraan mereka sangat menyenangkan. Joohyun pikir dengan sedikit mabuk, mereka akan terbuka satu sama lain. Namun, nyatanya mereka bisa mengenal secepat ini tanpa perlu usaha lebih. Mereka seolah sudah berteman selama bertahun-tahun. Meski secara teknis Junmyeon memang sudah banyak mengetahui kehidupan Joohyun. Hanya saja, berbincang langsung dengan Joohyun terasa sangat menyenangkan. Melebihi ekspektasinya.

"Kau benar. Kau juga pasti kelelahan setelah perjalanan panjang dari Sapporo menggunakan kereta." Joohyun membuka selimut yang dipakainya, meletakkannya di tempat semula. "Aku antar ke pintu."

Mereka berdua segera beranjak dari sisi jendela. Sesampainya, Junmyeon berbalik untuk menghadap Joohyun yang memegang daun pintu. Junmyeon kembali merasa geli seolah mereka enggan berpisah. Joohyun bergelayut di sana, menunggu Junmyeon pergi menuju kamarnya. Namun, Junmyeon akan memandang wajah Joohyun sedikit lebih lama lagi.

"Aku pikir kita tidak butuh ciuman selamat malam di keningku, Junmyeon-ssi. Benar, 'kan?"

Pertanyaan Joohyun seakan menggoda Junmyeon untuk benar-benar mencium wanita itu. Namun, sudah cukup untuk hari ini. Junmyeon akan menyimpannya untuk hari tak terbatas yang mereka miliki berdua di masa depan.

"Kau benar." Junmyeon memberikan senyum terakhirnya sebelum beranjak meninggalkan Joohyun. "Selamat malam, Bae Joohyun."

"Selamat malam." Dan Joohyun pun ikut beranjak, menutup pintu, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Terlelap sangat cepat karena wangi tubuh dan sisa pelukan hangat Junmyeon masih bisa dia rasakan.

EVERGREENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang