5 | Consideration

1.2K 263 25
                                        

Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan Junmyeon dan Joohyun berbincang dengan Baekhyun di ruang kerja. Pria Byun itu memiliki kadar keingintahuan yang tinggi. Meski Junmyeon sering kali menceritakan Joohyun kepadanya, tetap saja Baekhyun betah berbincang langsung dengan Joohyun. Sudah berapa kali Junmyeon dibuat berpikir, Bae Joohyun adalah individu yang dapat membuat lawan bicara betah berada di dekatnya.

"Kinka-pork tonkatsu dua paket." Junmyeon memesan makanan kepada pelayan kala mereka sampai di Katsukura-restoran yang berada di Takashimaya Town Square. Sengaja mengajak Joohyun makan siang di luar kantor mengingat setelah ini mereka akan pulang ke apartemen.

Joohyun sibuk menata meja dengan meletakkan sumpit dan serbet untuk Junmyeon. Pria yang sedang menyesap ocha hijau tersebut hanya memerhatikan Joohyun, memertahankan senyumnya memandang Joohyun yang telaten menyiapkan peralatan makan mereka. Bahkan Joohyun mengelap bagian meja dengan tisu, menghapus sisa minyak makanan pelanggan sebelumnya yang sekiranya masih tertinggal.

"Besok aku akan kembali ke Asahikawa." Joohyun membuka suara setelah menyiapkan sumpit untuk dirinya sendiri.

"Kenapa mendadak sekali? Tingallah sampai seminggu di sini." Junmyeon heran, berpikir Joohyun akan lama berada di Tokyo. "Apa tinggal di apartemenku membuatmu tak nyaman? Aku bisa menyewa kamar untukmu satu minggu kalau kau mau."

Joohyun menggeleng diiringi senyuman tipis. "Bukan begitu. Masih ada beberapa hal yang harus aku urus sebelum benar-benar pindah ke Tokyo bulan depan. Seperti katamu kemarin, aku juga harus memikirkan akan bekerja di mana, bukan?"

"Aku lupa masalah itu." Junmyeon menganggukkan kepalanya. Sejenak berterima kasih kepada pelayan restoran ketika makanan mereka datang. "Sudah terpikirkan akan melamar kerja di mana?"

"Apa kau akan memberikan izin kalau aku melamar kerja di Aeri Techno, Junmyeon-ssi?" Joohyun bertanya meski tatapannya fokus pada tonkatsu di hadapannya. Mulai menyumpit satu bagian dan menggigitnya lahap. "Oh, rasanya enak," ujar Joohyun setelah itu.

Sedangkan Junmyeon tidak mulai menyumpit makan siangnya. Junmyeon memilih menatap Joohyun seolah perkataan wanita itu membutuhkan waktu lama untuk dicerna. "Kau sudah tahu jawabannya, Nona Bae. Apa ini karena kau baru saja mendapatkan teman yang berada di elevator bersamamu tadi?"

"Siapa?" Joohyun menelan kunyahannya dan membalas tatapan Junmyeon. "Ah, Solar dan Haruna? We had a great conversation. Bukankah bagus untukku mendapatkan teman wanita sebelum aku tinggal di Tokyo?"

"Bukan itu maksudku. I think that's not a good idea for us, Miss Bae. You do know it well." Junmyeon masih belum juga memakan makanannya. Berhasil membuat Joohyun meletakkan sumpit dan diserang rasa bingung. Keningnya sedikit berkerut.

"Apa kau tidak ingin aku bekerja di kantor yang sama denganmu, Junmyeon-ssi? Kenapa? Apa di sana ada larangan saling berkencan sesama pegawai? Lagi pula aku seorang AO, tidak akan bekerja di bawah divisimu."

Junmyeon diam, tidak membalas perkataan Joohyun. Pria itu mulai menelan tonkatsu miliknya yang sudah mulai dingin. Sesekali diliriknya Joohyun yang kembali melahap makan siang seolah tidak mempermasalahkan Junmyeon yang tidak lagi menanggapi ucapannya.

Makan siang mereka berdua berlalu begitu saja. Junmyeon mengajak Joohyun pulang menggunakan taksi setelah berangkat kerja dengan menggunakan kereta api pagi tadi.

Selama perjalanan pulang pun hanya ada percakapan singkat, didominasi Joohyun yang bertanya banyak hal tentang Shibuya. Shibuya merupakan salah satu bagian terpadat di Tokyo. Menjadi pusat bisnis, fashion, dan pusat perbelanjaan. Tak heran banyak yang ingin Joohyun tahu sebagai antisipasi agar tidak tersesat saat berkeliling Shibuya seorang diri.

EVERGREENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang