Halte Sore Itu

46 1 0
                                    


Halte sore itu, hujan jatuh begitu derasnya, hingga tak kentara mana air langit mana air mata.
*****

Tiiing....

Seorang gadis cantik dengan baju sedikit basah tiba-tiba masuk ke sebuah cafe yang tidak begitu terkenal di tengah kota Malang. Namun tidak seperti biasanya, sore itu suasana cafe begitu riuh penuh sesak oleh pengunjung.

Gadis berambut panjang itu melirik kanan dan kiri namun tidak menemukan satu meja pun yang kosong. Sambil menunggu pelanggan lain menyerah dan pergi dari cafe di antara hujan deras, gadis itu memutuskan pergi ke toilet cafe.

Setelah hampir sampai pada mulut pintu toilet, seorang pelanggan berdiri dari kursinya. Dengan langkah seribu, gadis cantik itu menyerbu meja nomor delapan. Iapun tidak membiarkan kursinya menjadi dingin sedetik saja. Sesaat setelah pemiliknya mangkat ia segera melekatkan tubuhnya pada kursi kecil itu.

"Permisi kak kami bersihkan dulu mejanya" seorang witers yang akrab disapa Bee itupun bergegas membersihkan meja yang terpakai tanpa jeda.

"Kakak mau pesan apa" tambahnya

"Moccacino panas sama burger yah mba"

"Atas nama siapa kak?"

"Nandira yah"

"Ditunggu yah kak Nandira" ujar Bee sambil melengkungkan bibir merah meronanya

Tanpa nada...
Tanpa kata...
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa...
Hanya prasangka...
yang terdengar di dalam...
Dialog hujan...

Alunan dialog hujan yang dinyanyikan oleh senar senja tepat saat matahari mulai merebahkan tubuhnya di ufuk barat membuat hujan semakin berirama.

Sambil mendengarkan suara lembut senar senja, Nandira mengeluarkan buku dan pena yang ia simpan pada tas selempang miliknya.

Nandira memandang ke luar jendela tepat di samping mejanya. Air hujan satu per satu menggelincirkan tubuhnya pada kaca jendela. Dengan jari jemarinya, Nandira menghitung satu persatu tetes yang meluncur dari atas langit.

Tidak jelas apa yang sedang terjadi di luar sana, Nadira tetap menghitung tetes air hujan pada kaca jendela sambil menunjuk satu persatu dengan jarinya.

Saat ia terus menghitung, tak sengaja jari telunjuknya menempel dan melesat pada kaca yang berembun itu. Dari bekas goresan jarinya, Nandira bisa melihat dengan jelas suasana di luar cafe. Hingga akhirnya Nandira mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengusap-usap embun yang menutup kaca jendela di sebelah mejanya.

"Silahkan kak burger sama moccacino panasnya"

"Terimakasih mba..."

"Bee"

"Oiyah terimakasih mba Bee"

"Sama-sama kak Nandira" lengkungan bulan di wajahnya pun kembali dia oleh Bee

Nandira kembali mengayunkan pandangannya pada suasana luar jendela cafe remember. Di seberang jalan ada sebuah halte yang sepi dari kerumunan. Hujan membuat halte tersebut terasa sendirian.

Tetiba bus bergambar panda dari arah selatan berhenti di halte itu. Seorang laki-laki berbadan tinggi turun dari bus. Laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna putih dan membuat kulit bersihnya terlihat bersinar. Dari kejauhan Nandira bisa melihat dengan jelas mata laki-laki itu sipit namun berbinar-binar.

Nampaknya laki-laki tampan itu tidak membawa payung dan tidak berniat berhujan-hujanan. Ia hanya berdiri menunggu hujan reda sambil membaca buku berwarna merah. Sesekali ia tersenyum pada orang-orang yang turun dari bus yang pergi begitu saja.

Melihat laki-laki di halte itu, Nandira mulai menulis sebuah cerita. Nandira menyebutnya sebagai lelaki penyibak hujan. Pesonanya membuat hujan tiba-tiba tersibak dan berhenti menghalangi pandangan kepada laki-laki itu sejauh apapun. Nandira memberinya nama Zafrain.

Zafrain sebuah nama dengan huruf "Z" sebagai awalan. Huruf terakhir dari urutan alafabetha itu ia gunakan sebagai lambang seorang laki-laki terakhir yang dinanti. Terselip kata rain dari namanya melambangkan sebagai rasa yang terus mengalir dari langit hingga bertahta lagi ke langit.

*****

Zafrain adalah sebuah mahakarya Tuhan. Garis wajahnya tulus hingga padanya segala yang ada terauto fokus. Ia adalah penunggu halte yang senantiasa menunggui hujan reda. Laki-laki tampan yang menyimpan mesteri pada setiap lekuk tubuhnya. Tatapannya selalu hangat walau jarak kadang mengaburkan sosoknya.

-Zafrain dalam tulisan Nandira-

RAINMEMBERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang