Perjalanan yang kelam

52 6 3
                                    

Desember, 2016

Beberapa hari setelah rapat besar itu, para ilmuwan juga meminta bantuan dan kerjasama kepada tentara Amerika. Mereka mempersiapkan banyak hal, termasuk rencana dan apa yang mereka bawa saat pergi ke pulau itu. Kolonel Titor akan memimpin penelitian itu untuk menjaga-jaga tim dari ilmuwan dan tentara.

Para ilmuwan banyak membawa peralatan untuk penelitian mereka. Sementara para tentara membawa banyak persenjataan sebab ada banyak hewan buas di pulau itu.

Sementara di dalam laboratorium para ilmuwan sedang sibuk untuk mengumpulkan barang-barang yang akan dibawa.

"Mengapa kau membawa drone itu, Cein?" Tanya Stevan.

"Ini akan membantu kita untuk menelusuri pulau itu lewat udara." Jawab Cein.

"Jadi, apa bekal kita untuk kesana?" Tanya Stevan.

"Para koki sudah memasak banyak banyak makanan untuk kita." Jawab Cein.

"Apakah..." Ucap Stevan dengan kata yang terpotong.

"Ssttt..." Kata Cein. Stevan pun pergi dengan rasa kesal.

Disisi lain, para tentara yang ikut untuk menjaga para ilmuwan pun melakukan latihan berat, mulai dari angkatan laut.

Para ilmuwan menyarankan untuk kepada tentara untuk memakai pakaian anti racun, karena pada masa lalu pulau itu adalah pulau yang menjadi tempat pembuangan zat berbahaya.

Peristiwa persiapan eksplorasi ini sangatlah besar, karena menggabungkan para ilmuwan dan tentara, ilmuwan yang akan pergi berjumlah sekitar 98 orang sementara para tentara berjumlah 120 orang. Namun bukan karena jumlah ilmuwan dan tentara yang membuat persiapan ini besar, namun biaya alat penelitian, armada yang canggih, dan persenjataan yang banyak membuat sebagai persiapan eksplorasi yang besar dan "gila".

"Hei Stevan, aku tidak yakin kalau kita akan pergi ke pulau itu, firasat ku mengatakan kalau pulau itu mengerikan." Ucap Tom.

"Tenanglah Tom, tidak akan terjadi apa-apa terhadap kita." Bujuk Stevan.

Pada malam harinya, seluruh ilmuwan berkumpul ke ruang rapat yang besar, disana mereka membahas tentang bagaimana keadaan kapal tanpa awak yang mereka kirim ke pulau itu melalui kamera kapal yang dihubungkan ke layar di ruangan itu, mereka melihat kapal tanpa awak itu bahwa tidak ada apa-apa yang ada di pulau itu, ilmuwan pun semakin yakin bahwa pulau itu tidak ada apa-apa yang untuk di takuti.

26 Desember, 2016

Disaat hari keberangkatan telah tiba, para ilmuwan dan tentara pun memasuki kapal yang berada di pesisir laut Kanada untuk menuju ke Black Island. Terlihat keluarga para ilmuwan dan tentara melambai-lambai ke arah kapal yang ditumpangi oleh mereka. Saat itu cuaca sedang mendung dan akan datang badai, namun mereka tetap akan pergi meninggalkan dermaga.

Setelah kapal meninggalkan dermaga, para ilmuwan dan tentara sedang duduk tenang sambil menunggu kapal berlabuh di Black Island, mereka meminum secangkir coklat panas.

"Cuaca di sini sangat buruk Stevan." Ucap Tom.

"Benar, tapi kita harus melancarkan penelitian kita bagaimana pun keadaannya." Ucap Stevan.

"Menurutmu, ada berapa banyak kenalan mu yang berada di kapal ini? Ucap Tom.

"Di sisi ilmuwan menurut ku orang yang sedang berada disini adalah Prof. Cein, Tn. Chapnell, Prof. Celine, Prof Berker, Prof. Chintya, Prof. Jhon, Prof. Albert dan Prof. Alex. Sementara disisi tentara ada Kevin, Kolonel Titor, Parker, Jhonny, dan Brusy." Jelas Stevan.

"Sementara aku tidak ada." Ucap Tom.

"Tapi aku belum bertanya". Ledek Stevan.

"Terserah." Ucap Tom dengan kesal.

Mereka berbincang-bincang dengan penuh tawa selama di perjalanan Hingga ketika badai reda, terlihat beberapa batu karang yang sangat besar yang menandakan Black Island tidak jauh lagi. Tiba-tiba terlihat tentakel raksasa keluar dari lautan, seketika seisi kapal pun panik.

"Semuanya turunkan sekoci!" Teriak nahkoda kapal.

Mereka menurunkan sekoci dengan tergesa-gesa, setengah penumpang kapal telah di naikkan kedalam sekoci. Termasuk Stevan dan rekan-rekannya.

Bruummm...

Tentakel raksasa itu telah menghantam dan menenggelamkan kapal, nahkoda dan sekian banyak penumpang lainnya dinyatakan tewas.

Sementara penumpang yang selamat terus mendayung sekoci hingga menuju pantai.

"Aku melihat tentakel besar itu penuh duri! Seperti bermutasi!" Teriak Stevan.

"Tenang Stevan, Tenanglah." Ucap Alyana sambil menenangkan Stevan.

"Kita tidak tahu itu apa, sepertinya hewan itu benar-benar bermutasi!" Ucap Prof. Albert.

Mereka berbicara dengan rasa takut yang melanda. Terombang-ambing di lautan yang berkarang, hingga akhirnya mereka sampai di pantai Black Island dengan rasa yang tak tau arah dan terdampar.

BLACK ISLAND: THREE ISLAND GUARDS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang